logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Juli 2004 SALA
Line

Minta Didandani Pakai Baju Putih

KEPERGIAN Irwan Kusnanto (18) warga Ngaran Mlese, Kecamatan Ceper, Klaten, dan sepupunya Ferry Agung Widodo (18) yang tewas tertabrak kereta Argo Wilis di dekat rumahnya belum lama ini, menjadi duka mendalam bagi keluarganya.

Bayangkan, sehari sebelumnya keluarga Irwan baru menggelar resepsi syukuran khitanan adik korban, Erwin Prayoga (10).

Tak ada yang menyangka hari berikutnya akan datang musibah yang sangat menyedihkan. Lilik Sukarno (47), ayah korban yang bekerja di PT Kereta Api (KA) Bandung tak menyangka anak sulungnya akan "pergi" akibat tertabrak kereta.

Cuti untuk resepsi khitanan terpaksa diundur, karena kematian anak sulungnya. Kini tinggal si bungsu Erwin yang menjadi tumpuan kasih Lilik dan istrinya, Sri Mulyani (39).

''Saya tidak mau kepergian anak saya dikait-kaitkan dengan sesuatu. Kejadian itu bukan karena salah ambil tanggal (untuk resepsi-Red). Dia pergi karena kehendak-Nya. Kalau sudah menjadi kehendak-Nya semua orang pasti kembali dan tidak bisa menghindar,'' kata Lilik yang tampak tabah.

Menurut cerita Lilik, saat acara resepsi berlangsung, Irwan sempat meminta didandani dengan pakaian putih. Irwan menyatakan mau ikut nyinom.

Ibunya pun menurut saja. ''Setelah berdandan pakai pakaian putih, teman-teman sebayanya berkomentar kowe ketok bagus (kamu kelihatan tampan-Red),'' ujar Lilik. Sementara itu, istrinya yang masih terpukul dengan kepergian anak sulungnya, tampak ditunggui sanak keluarganya. Sehari sebelumnya saat acara foto-foto resepsi, Irwan yang baru setahun lalu lulus dari STM Kristen Klaten juga menolak saat diminta ibunya untuk berfoto sekeluarga.

Saat itu Irwan menolak karena tidak ingin nanti ketok-ketoken (menjadi ingatan). Hal itu pun ditanggapi keluarganya dengan biasa saja.

Semasa hidupnya Irwan sangat pendiam dan tertutup. Dia juga mempunyai sifat sensitif dan mudah tersinggung.

Akibatnya, dia tak bisa bergaul dengan sembarang orang. Hanya kawan yang cocok saja yang bisa akrab dengannya.

''Anaknya sensitif dan sangat tertutup. Dia tak pernah minta sesuatu pada saya, seperti ada rasa takut dengan saya,'' kata Lilik.

Selama ini hampir tidak pernah Irwan menelepon ayahnya di Bandung untuk mengobrol atau sekadar minta oleh-oleh. Walau demikian, ayahnya tahu dia mempunyai pacar. Irwan pun sempat pergi dengan pacarnya sebelum kejadian naas menimpanya.

Karena itu, ketika Irwan berpulang Lilik pun menelepon pacar anak sulungnya dan mengabarkan berita duka itu. (Merawati Sunantri-49i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA