logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Juli 2004 PANTURA
Line

"Rem" Blong, Korupsi Merajalela

MESKI wacana pemberantasan korupsi sering didengung-dengungkan banyak pihak, belum ada tanda-tanda "penyakit" itu dapat dienyahkan dari negeri ini. Bahkan, beberapa pihak menyebut korupsi justru kian merajalela dan menempatkan negeri ini pada jajaran atas negara terkorup di dunia.

Kondisi tersebut, menurut penuturan Kepala Kantor Depag Kabupaten Pekalongan Drs Masduki, karena "rem" bangsa ini telah blong. "Rem" dimaksud adalah moralitas dan keimanan sebagian besar masyarakat.

"Akar masalah bangsa ini adalah 'rem' yang tidak tepat, bahkan tidak terpasang sama sekali. Tak heran jika korupsi tetap saja merajalela dan kita disebut bangsa koruptor," tegasnya, kemarin.

"Rem" yang blong, ujar dia, karena kerendahan nilai-nilai keimanan dan moralitas bangsa. Rendahnya keimanan bisa terjadi lantaran sejak dini anak-anak tidak diberikan pengetahuan dan pelatihan agama secara serius.

"Bangsa ini adalah bangsa beragama namun ajaran agama tidak serius diamalkan dalam kehidupan masyarakat termasuk dalam dunia pendidikan," ungkapnya.

Masduki mencontohkan dengan agama Islam yang mewajibkan semua umatnya untuk selalu dekat dengan Tuhan melalui shalat. Namun, anak-anak di sekolah dasar sampai lanjutan tidak dibiasakan untuk selalu shalat.

"Bahkan, sangat menyedihkan ketika banyak sekolah Islam yang tidak punya masjid atau musala. Kalau toh punya, hanya cukup untuk shalat lima orang," ujarnya.

Ketika kebiasaan untuk selalu dekat dengan Tuhan tidak tertanamkan sejak dini, saat anak lepas ke masyarakat tidak akan mempunyai kontrol yang baik. "Dekat dan ingat terhadap Tuhan akan membuat kita berpikir dua kali untuk berbuat maksiat. Akan tetapi bila kita jauh maka hal-hal negatif gampang kita lakukan," paparnya.

Selain nilai agama, keterampilan juga menjadi penyebab munculnya hal-hal negatif termasuk korupsi.

Bangsa Indonesia saat ini semakin miskin dalam bidang keterampilan sehingga banyak mengimpor tenaga ahli dari luar dan sulit mengekspor tenaga ahli keluar.

"Kita paling unggul mengekspor tenaga kerja dan itu pun dari kelas paling bawah," ungkapnya sinis.(Muhammad Burhan-42j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA