logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Juli 2004 PANTURA
Line

Pupuk Palsu Dilarang Diperjualbelikan

BREBES- Kabar soal peredaran pupuk palsu di wilayah Brebes, ternyata belum sepenuhnya dipahami oleh sebagian besar petani padi dan bawang merah. Mereka mengaku selama musim tanam proses pemupukan tetap berjalan lancar. Petani tak terpengaruh isu peredaran pupuk palsu yang belakangan merebak di masyarakat.

Di tengah isu tersebut, Kasubdin Pertanian Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman-Kehutanan dan Konservasi Tanah Ir Daryono mengakui, pihaknya sudah menemukan bukti adanya peredaran pupuk palsu di pasaran umum. Hal itu diketahui setelah tim pengawas pupuk dan pestisida turun ke lapangan, dijumpai sekitar 25 ton pupuk palsu beredar di pasaran. Barang tersebut untuk sementara dilarang diperjualbelikan.

"'Terhadap toko yang menyimpan pupuk palsu, sementara tidak boleh diedarkan ke pembeli," ujar Daryono.

Berdasarkan penelitian Laboratorium Sucofindo Semarang, dari beberapa sampel pupuk yang dicurigai palsu, menunjukkan kadar unsur pupuk yang terdiri atas lima unsur yakni Natrium (Na), Nitrogen (N), Sulphur (S), Kalium (K), dan Chlorida (CL) kurang dari 20%.

Dia tidak merinci lokasi pupuk palsu tersebut ditemukan. Kendati demikian, Daryono memastikan sejak satu bulan lalu pupuk palsu itu tidak akan beredar di kalangan petani.

Tak Terpengaruh

Pada bagian lain, Karno (36), petani asal Padasugih, Kecamatan Brebes, mengaku pihaknya tidak terpengaruh soal peredaran pupuk palsu. Namun jika ada, pihaknya akan lebih berhati-hati memilih jenis pupuk yang dijual di toko. Kini dengan pupuk yang dia beli di toko, kualitas hasil panen bulan Juni cenderung membaik.

"Sejauh ini saya belum mengerti ciri pupuk palsu itu yang bagaimana. Yang penting panen kami sekarang lumayan baik, kendati harga masih tetap stabil," kata Karno.

Dia menyebutkan, kestabilan harga bawang merah di pasaran Rp 3.500/kg tidak terlepas dari kualitas pupuk yang dipakai petani. Petani lebih senang melakukan pemupukan menggunakan pupuk KCL model lama ketimbang pupuk KCL yang baru. Alasannya, pupuk lama tidak mudah kabur.

Berbeda dari keterangan petani, seorang karyawan Toko Saprodi (Sarana Produksi) KUD Setya Budhi yang membuka usaha di Desa Pemaron, Kecamatan Brebes, mengaku pernah dititipi puluhan kuintal pupuk di luar merek resmi.

Dia tidak mengerti apakah pupuk itu palsu atau tidak. "Tapi banyak yang bilang pupuk tersebut diindikasikan palsu, karena tidak tercantum merek resmi. Barang itu sampai sekarang masih menumpuk di gudang," katanya.

Pupuk palsu yang belakangan beredar mempunyai ciri sama dengan pupuk asli, warnanya ada yang hijau, pink, dan coklat. Kemasan pupuk palsu biasanya menggunakan plastik biasa dan harganya lebih murah daripada pupuk asli. (wh, G12-74s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA