logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Juli 2004 PANTURA
Line

Harga Solar Melonjak Rp 2.000/Liter

  • Ribuan Nelayan Tegal Menjerit

SLAWI- Ribuan nelayan di Kabupaten Tegal, terutama di daerah utara seperti di Kecamatan Kramat, Kecamatan Suradadi, dan Kecamatan Warureja, menjerit akibat harga solar bahan bakar kapal mereka naik tak terkendali.

Sebagai contoh, harga solar per liter yang dijual ke nelayan di Desa Larangan dan Desa Munjung Agung, Kecamatan Kramat, Rp 2.000 - Rp 2.250 per liter. Padahal sejumlah nelayan mengungkapkan, jika mereka membeli langsung di SPBU, hanya Rp 1.650 - Rp 1.800 per liter.

Selisih harga yang mencolok cukup tajam sekitar Rp 350 - Rp 600 per liter itu, kini dikeluhkan ribuan nelayan karena sangat berpengaruh terhadap pengeluaran sehari-hari. Bahkan, dapat berdampak pada kenaikan harga ikan.

Bila kondisi tersebut terus dibiarkan, maka pengaruh lain adalah masuknya ikan dari daerah lain yang berani dibanting dengan harga miring. Akibatnya, nasib nelayan Kabupaten Tegal menjadi terpuruk dan ikan sulit dijual. Pada sisi lain, mereka sudah dihantam biaya operasional yang menguras kocek.

Sejumlah nelayan seperti Wandi, Tarso, dan Rejeki menuturkan, jika kebutuhan nelayan rata-rata sekitar 20 liter/hari, ada uang Rp 7.000/hari yang tersedot untuk menutup biaya operasional. "Kalau pemerintah mau bantu, minimal membangun tiga SPBU, kebutuhan bahan bakar solar nelayan akan terbantu. Sebab, kalau yang berjualan pemerintah dan langsung dibeli nelayan, harganya bisa murah," papar Wandi yang dibenarkan sejumlah rekannya.

Satu SPDN

Bupati Tegal Agus Riyanto SSos mengatakan, keluhan nelayan seperti itu sudah lama didengar. Pihaknya juga langsung merespons, antara lain dengan mengkaji dan meneliti kebutuhan bahan bakar solar untuk nelayan.

Hasilnya, ujar dia, Pemkab Tegal baru bisa membangunkan satu bangunan Solar Paket Dealer Nelayan (SPDN) di tempat pelelangan ikan (TPI) Larangan, Munjung Agung, Kecamatan Kramat. Bangunan semacam SPBU khusus untuk kalangan nelayan telah beroperasi pada Senin (28/6) lalu.

Di SPDN itu, ungkap dia, harga solar yang dipatok hanya Rp 1.650 per liter, jauh lebih murah dari harga di toko atau depo yang sering mematok harga mencapai Rp 2.000 per liter.

"Jadi, ini bisa menghemat kocek nelayan. Kalau nelayan kebutuhannya 20 liter/hari, berarti menghemat Rp 7.000/hari. Lumayan kan."

Secara terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jateng Prof Ir Budi Prayitno MSc mengemukakan, dana SPDN yang dibangun di TPI Larangan, Munjung Agung berasal dari APBD Provinsi Jateng Tahun Anggaran 2003 sebesar Rp 200 juta. Tujuan pembangunan untuk lebih mendekatkan bahan bakar minyak (BBM) solar dengan nelayan, sehingga kebutuhan akan bahan bakar dapat cepat terpenuhi dan menghemat biaya operasional.

"SPDN ini mampu memenuhi kebutuhan solar nelayan 5.000 liter/hari sampai 10.000 liter/hari. Jadi, untuk sementara cukup membantu nelayan," katanya.

Sejumlah nelayan sangat berharap, dalam waktu dekat segera dibangun SPDN serupa lagi sehingga kebutuhan solar nelayan yang berjumlah puluhan ribu di Kabupaten Tegal dapat terpenuhi. Bahkan, mereka menyarankan agar dibangun pula pertokoan kecil yang menyediakan kebutuhan bahan baku untuk lauk-pauk yang biasa dibawa saat melaut. Selain itu, pemerintah juga harus mempertimbangkan pendirian pabrik es di sekitar TPI. (D12j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA