logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Juli 2004 NASIONAL
Line

Pertapaan Bancolono, Tawangmangu (2-Habis)

Banyak yang Berhasil Peroleh Berkah


KERAMAT: Ruang pertapaan Bancolono, di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Pertapaan keramat itu, terletak pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan air laut.(55a) - SM/Langgeng W

MESKI dibangun mulai 1989, pertapaan Bancolono di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, sudah terkenal seantero negeri. Tidak hanya tokoh seperti Susilo Bambang Yudhono (SBY) dan Wiranto yang pernah singgah, Pak Harto saat masih menjabat presiden bersama para pengikutnya pun sering pergi ke tempat itu. Demikian juga dengan Gus Dur. Kedatangan mereka, terutama dilakukan pada hari pasaran malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon.

Kemashuran pertapaan keramat yang terletak di bagian hampir puncak Gunung Lawu, di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan air laut, itu tidak lepas dari adanya sendang atau sumber air. Yaitu Sendang Putri dan Sendang Lanang, atau yang disebut Sendang Bancolono.

Sebelum ada pertapaan, kedatangan masyarakat ke Bancolono yang terletak di perbatasan Tawangmangu-Magetan (Jatim) itu hanya untuk mandi atau mengambil air sendang. Bukan untuk bertapa.

''Air sendang itu diyakini pernah digunakan untuk minum dan mandi Prabu Brawijawa V, dinasti terakhir Raja Majapahit ketika melarikan diri di puncak Gunung Lawu sebelum muksa (mati tanpa meninggalkan jasad-Red) pada abad XV. Air itu diyakini masih sakti dan bertuah hingga sekarang. Jadi kalau sekarang ada orang bertapa di Bancolono, pasti akan menyempatkan diri minum atau cuci muka (atau mandi) dengan air sendang,'' kata Iskandar, Kepala Seksi Obyek Wisata Dinas Pariwisata Karanganyar.

Pembangunan pertapaan pada 1989 itu, dilakukan oleh orang-orang yang merasa dikabulkan permintaannya. Mereka yang dikabulkan itu tidak hanya membangun tempat pertapaan, tapi juga memperbaiki jalan setapak dari jalan raya menuju lokasi dengan cara memberi paving. Setelah dibangun pada 1989, pada 1996 pertapaan itu direnovasi.

Tambah Kamar

Kemudian pada 2001 lalu, selain merenovasi lagi, orang-orang yang merasa dikabulkan permintaannya menambah kamar pertapaan lagi menjadi empat dan lebih permanen. Menurut rencana, tahun ini akan ditambah pertapaan baru yang lokasinya tidak jauh dari sumber air atau sendang. Semakin banyak orang yang permintaannya dikabulkan, kata Iskandar, semakin baik pula lokasi itu. Tentu saja itu dilakukan oleh orang-orang yang tahu diri.

''Dengan semakin baiknya kondisi lokasi sendang dan pertapaan Bancolono itu, terutama sarana dan prasarana jalan, maka semakin banyak pula pengunjung yang akan berdatangan. Apalagi tahun depan akan dibuka jalan tembus Tawangmangu-Magetan. Apakah setelah ramai menjadi tidak keramat lagi, hanya yang percaya saja yang bisa memahami,'' paparnya.

Berkaitan dengan adanya kematian bagi para pertapa, lepas dari pendekatan mistik yang ada, hal itu mungkin diakibatkan karena kondisi lokasi yang cukup dingin dan berkabut tebal. Sebab berada pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut. Apalagi ruang yang digunakan bertapa begitu tertutup, sehingga oksigen sulit masuk.

Kalau ada yang sudah meninggal, kenapa masih saja orang datang? ''Mungkin karena dorongan kuat dari orang bersangkutan, yang berharap keinginannya dikabulkan,'' kata Darsono yang mengaku sudah sering datang ke tempat itu. ''Kalau Anda penasaran, silakan mencoba.''(Langgeng Widodo-33a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA