logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Juli 2004 NASIONAL
Line

Refleksi Darmanto Jatman

Saved by the Bell

APABILA pada suatu ronde, petinju sudut biru berhasil mengurung petinju sudut merah dan hampir saja menghabisinya dengan KO, lalu bel berbunyi dan wasit menyelamatkan dia, maka pada ronde berikutnya petinju sudut biru yang mesti berhati-hati. Soalnya dia barusan frustrasi, hampir saja menghabisi lawan, eh, lawan diselamatkan bel.

Wasit ikut-ikut. Jengkel nggak tuh. Karenanya pada ronde berikutnya, justru petinju sudut merah yang berbahaya. Habis dibanyoni. Siapa tahu istirahat sejenak itu sudah mengembalikan kebugarannya, sementara lawannya sudah habis-habisan, ngos-ngosan. Karenanya, jangan abaikan waktu istirahat itu, biarpun sejenak.

Itulah, yang diduga telah terjadi pada kesebelasan Yunani oleh Karel Bruckner, pelatih Republik Ceko. Soalnya, sekalipun gaji Karel Bruckner itu cuma sedikit, tapi dia profesional. Irama maju perang yang sudah digendangkan oleh kesebelasan Ceko itu bisa menggembos gara-gara istirahat sejenak itu.

Celakanya, Otto Rehhagel, pelatih Yunani itu berasal dari negeri (paling) disiplin sedunia: Jerman. Anda tahu kan, kaisar Welhelm itu bahkan menghukum mati putra mahkota yang disayanginya, Homburg, karena yang kedua itu tanpa komando dari panglima telah menyerang sebuah kawasan yang kelak memang amat strategis bagi Jerman.

Rehhagel bukan hanya membuka peluang bagi Yunani untuk menang, tetapi juga untuk memperoleh hak menyelenggarakan Olimpiade yang akan datang - bukan karena prestasi embah-buyut mereka, tetapi karena mereka sendiri berprestasi di bidang olahraga.

Sepak bola memang olahraga; dia juga permainan dan manusia adalah homo ludens. Karenanya, mestinya bal-balan itu dilakukan sebagai pengisi waktu istirahat kerja, dan bukan kerja itu sendiri. Orang-orang Yunani biasa menyelenggarakan pesta-pesta, perayaan untuk mengisi waktu luang mereka sembari memuliakan dewa-dewa yang telah melindungi mereka dan melayani mereka - seperti falsafah dasar Polisi Republik Indonesia dewasa ini (selamat ulang tahun Polri, may God bless you - Dmt).

Perayaan adalah saat manusia membebaskan diri dari nasib mereka untuk terus-menerus bekerja mendorong batu ke puncak bukit, dan kemudian menggelindingkannya - seperti ungkap mitos Sysyphos. Sementara itu Ceko justru amat dikenal karena demitologisasi mereka.

Tetapi bagaimana sih mitologisasi dan demitologisasi waktu istirahat itu? Pada masa penjajahan Belanda dulu, waktu istirahat sekolah biasa disebut sebagai "umbar" -istilah yang juga dipakai untuk sapi dan kambing. Diumbar. Diurak. Terkenal pula tokoh-tokoh nonkonvensional yang disebut Joko Umbaran. Joko Urakan.

Rendra pernah melegitimasikan kelompoknya sebagai kelompok urakan, yakni kelompok yang tidak suka mengikuti konvensi seperti tradisi. Ia menerabasi semua konvensi. Dan itu, menurut keyakinannya, membuat ia bisa melahirkan nilai-nilai baru - yang disebut kreatif. Itulah Rendra!

***

Pemilihan presiden juga pakai waktu istirahat kok. Istirahat kampanye. Istilahnya "masa tenang". Pada masa tenang menjelang coblosan itu, seluruh atribut capres mesti diturunkan. Tak ada lagi baliho, spanduk, poster, juga iklan yang menjajakan diri. Itu adalah waktu untuk melakukan refleksi, baik bagi capres-cawapres itu sendiri, tim sukses mereka, maupun para calon pemilih.

Dengarlah apa yang dibilang oleh Galuh Ajeng sebagai ketua departemen pendidikan politik perempuan. "Untung ada masa tenang; kalau tidak, bagaimana saya bisa memilih, wong sejak kecil dulu saya biasa dipilihkan orang je!".

Dan Galuh Ajeng bersungguh-sungguh. Dia langsung pergi ke Gunung Merapi dari desa tinggalnya, di Karanganom Klaten. Semadi. Agar Tuhan membisikkan wahyunya, siapa yang layak dia pilih jadi presiden. Ya. Galuh Ajeng amat serius. Soalnya dia tidak mau pilihannya sama dengan pilihan Bugie, pemuda slebor yang suka mabuk tapi demen sama dia.

Cuma yaitu, sampai akhir putaran kampanye. Sampai detik mulainya masa tenang, sebetulnya Dyah Ayu Galuh Ajeng masih bingung juga: siapa yang bakal dicoblosnya. Ia betul-betul mengandalkan keyakinannya, bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam kalau dia semadi seperti itu, karena itulah yang dilakukannya setelah lulus S1 dari Fakultas Filsafat UGM dulu. Mau jadi aktivis LSM Perempuan, atau jadi dosen yang lebih bergengsi. Siapa tahu bisa setara dengan Amien Rais.

Jadi profesor doktor. Lebih mirip harapan para priyayi Jawa to, jadi orang kajen-keringan. Tetapi ternyata, waktu Raden Ayu Dyah semadi, dia melihat cicak perempuan dikejar sama cicak laki-laki, lalu digigit tengkuknya. Ia menganggap itu sebagai wangsit dari Tuhan untuk menjadi aktivis LSM ketimbang jadi dosen.

Itulah, yang membuat wacana tentang coblosan yang bakal dilakukan 5 Juli 2004 bermakna, yakni bila ia membantu (sebagian) warga negara Indonesia mencoblos dengan keyakinan. Tidak seperti seorang (maha) siswa yang mencoblos, eh memilih jawaban dalam sebuah multiple choice tanpa tahu jawaban yang benar. Iya kan?!

Artinya? Ya mencobloslah, bila sudah yakin Ceko yang bakal jadi juara baru. Kalau belum, ya silakan jadi hoping-nya Gus Dur. Golput. Euuy!

(Darmanto Jatman, seorang budayawan-22a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA