logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Juli 2004 NASIONAL
Line

Analisis

Capres Militer, Siapa Berpeluang?


MT Arifin

HINGGA akhir kampanye pemilu presiden, orang masih banyak berspekulasi tentang siapa di antara dari pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang berasal dari militer itu, yang paling berpeluang untuk terpilih.

Hal itu tidak mudah untuk diprediksikan. Sebab, pendapat-pendapat tersebut di samping sering dipengaruhi subjektivitas dari pencalonan itu sendiri, juga dipengaruhi oleh model-model kampanye-survei atau kampanye yang muncul dari balik suatu berita, terutama melalui media elektronik tertentu.

Di antara para calon yang berasal dari militer, posisi yang berbeda dialami oleh Agum Gumelar yang berpasangan dengan Hamzah Haz. Bukan saja karena hanya menjadi kandidat wakil presiden, melainkan juga tidak mendapat dukungan resmi dari kelompok Pepabri.

Hal itu mungkin karena ketidaksetujuan para purnawirawan untuk memberikan dukungan kepada Agum Gumelar yang berkoalisi dengan sebuah partai Islam, atau mungkin karena dilihat dari pertimbangan mereka, pasangan Hamzah-Agum hanya calon presiden "sekunder", sehingga berbagai analisis biasanya telah memusatkan perhatiannya pada persaingan antara Wiranto-Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla yang masing-masing dianggap memiliki representasi dari pencalonan mantan tentara.

Basis Pendukung

Membandingkan kekuatan antara kedua calon presiden (Wiranto dan SBY), yang pertama kali dipertimbangkan dalam menentukan adalah seberapa besar mereka memiliki kekuatan pendukung untuk menang. Yakni, sumber daya politik yang merupakan basis politik untuk dapat memberikan dukungan suara pemilih kepadanya.

Hingga sekarang, perhitungan dukungan itu memang masih sulit untuk dinyatakan secara lebih pasti. Namun, setidaknya dapat disederhanakan melalui pembacaan terhadap perolehan suara partai politik utama yang menjadi pendukungnya.

Wiranto dalam pencalonan presiden itu, basis politik utamanya adalah Partai Golkar. Dalam Pemilu Legislatif 5 April lalu, Golkar mendapatkan suara pemilih sekitar 21%. Dengan demikian, hasil itulah yang akan dapat dijadikan dasar perhitungan terhadap kekuatan Wiranto.

Meski demikian, diperkirakan tidak semua pendukung Golkar akan bersedia memberikan suaranya untuk mendukung Wiranto. Sebab, selama ini Wiranto bukan tokoh yang benar-benar "bergulat" secara langsung di dalam partai tersebut. Di samping itu, kehadirannya yang signifikan juga terhitung baru, yakni setelah dibukanya proses konvensi partai untuk pencalonan presiden.

Hal demikian memungkinkan munculnya perkiraan bahwa pendukung Golkar memiliki kecenderungan akan memberikan dukungan bukan hanya kepada Wiranto, melainkan juga memberikan suaranya kepada calon-calon lain, terutama yang juga memiliki kedekatan atau pernah berasal dari Golkar seperti pasangan Jusuf Kalla-SBY, Agum Gumelar (yang berpasangan dengan Hamzah Haz), ataupun Siswono Yudo Husodo (yang berpasangan dengan Amien Rais).

Diperkirakan Wiranto akan mampu meraih dukungan mayoritas suara dari Partai Golkar yang diperkirakan berkisar 45% - 65%, ditambah suara dari PKB yang menempatkan Salahuddin Wahid sebagai cawapresnya, maka diperkirakan dapat memperoleh tambahan suara tertentu.

Di sini tidak mudah untuk memprediksikan sumbangan suara PKB kepada Wiranto karena Salahuddin Wahid pada dasarnya bukan orang PKB. Dahulunya dia lebih dekat pada jaringan Islam-teknokrat ketimbang kelompok tradisional. Sementara itu, koalisi mereka dengan Partai Golkar juga telah membuat banyak orang PKB menjadi tidak tenang karena harus bersatu dengan kelompok politik yang sejak lama tidak sejalan dengan mereka.

Belum lagi faktor NU yang lebih netral (akibat dari banyaknya calon yang berasal dari kalangan nahdliyyin) dengan klaim politik yang terlihat lebih kuat untuk cenderung memberi dukungan kepada KH Hasyim Muzadi. Dengan demikian, suara pendukung PKB dalam pemilihan presiden nanti diperkirakan akan terbelah, baik yang memberikan suara kepada Wiranto, Hasyim Muzadi, SBY-Jusuf Kalla, maupun kepada Hamzah Haz. Ada juga mereka yang bersikap golput (mengikuti jejak Gus Dur).

Dengan demikian, dalam Pemilu Presiden 5 Juli, sulit memperkirakan pecahan-pecahan suara PKB. Namun diperkirakan maksimal suara PKB yang dapat digali Wiranto hanya sekitar 35%-50%. Jaringan-jaringan pendukung lainnya memang cukup memadai, baik kelompok strategis yang berkaitan dengan jaringan yang memiliki dukungan secara ekonomis, sosial, maupun spiritual.

Kekuatan yang bersumber dari jaringan Cendana memiliki pengaruh yang kuat terhadap segi pendanaan ataupun tersedianya dukungan politik dan ekonomi jaringan tradisional Ode Baru kepada Wiranto. Demikian pula segi spiritual, pengaruh Wiranto juga lumayan kuat, sebagaimana dibuktikan melalui hubungan langsung dengan kekuatan di Kalimantan Timur.

Namun secara keseluruhan, kekuatan pendukung jalur spiritual Wiranto belum sejajar dengan SBY. Sebagai contoh, saat mereka melakukan kampanye di kota Solo, terlihat Wiranto dikawal sekitar 50.000 khodam, sedangkan SBY dikawal sekitar 600.000 khodam.

Popularitas dan Solid

Berbeda dengan Wiranto, SBY tidak banyak mengalami hambatan dari basis partai pendukungnya. Modal utamanya adalah Partai Demokrat yang jumlahnya sekitar 7% dari suara pemilih dalam Pemilu Legislatif 5 April. Diperkirakan pendukung partai tersebut relatif solid untuk memberikan dukungannya kepada SBY.

Kemudian ditambah dengan pendukung Jusuf Kalla, terutama dari Sulawesi ataupun wilayah Indonesia bagian timur. Untuk keseluruhan, diperkirakan pengaruh SBY dan JK akan mampu meraup 10%-15% suara yang berasal dari Golkar.

Mungkin yang dapat diandalkan SBY untuk mendongkrak perolehan suaranya adalah popularitasnya di kalangan media elektronik. Kebetulan SBY ataupun JK memiliki performa dan popularitas tersendiri yang diperkirakan dapat menarik perhatian calon pemilih.

Hasil survei LP3ES, seperti dipublikasikan 30 Juni lalu, SBY meraih 38,8% suara responden. Apalagi dengan kampanye gencar yang dilakukan melalui media elektronik, diperkaya citra yang dibangun melalui polling ataupun survei lainnya (Hasil LSPEI bahwa 29,2% responden memilih SBY), tentu sangat menguntungkan SBY. Dengan demikian, langkah-langkah tersebut tentu banyak menghasilkan pengaruh yang diperkirakan dapat meningkatkan dukungan suara kepada SBY dalam Pemilu Presiden 5 Juli.

Berbeda dengan Wiranto yang mengalami intrik dari partai pendukung, baik di Golkar maupun PKB. SBY tidak mengalami hal itu. Solidnya faktor internal tim suksesnya telah memberi peluang untuk melakukan penguatan perekrutan terhadap kekuatan-kekuatan lain. Misalnya, isu di sekitar dukungan dari eksponen PKS (meski terakhir sudah terbantah melalui suara resmi partai itu yang memberi dukungan kepada Amien Rais) dan jaringan NU di wilayah Jawa Timur.

Kemampuan untuk melakukan mobilitas dalam kampanye presiden terlihat dari perjalanan SBY ke berbagai tempat, terutama di sepanjang daerah pemilihan yang ada di Jawa dan Sulawesi Selatan. Dengan kemampuan seperti itu diperkirakan suara dukungan kepada SBY sangat menguat.

Memang, pada tingkat tertentu ada persoalan lain. Misalnya kelompok tim sukses yang bermarkas di Jalan Sriwijaya (sehingga dikenal dengan Tim Sriwijaya), perhatiannya sangat terpusat pada manuver-manuver dan konflik-konflik dengan Wiranto yang dimainkan kelompok Kivlan Zein.

Demikian pula dengan tim-tim lain. Pada saat menjelang 5 Juli, yang sangat utama bergerak adalah tim paranormal-kiai, baik yang melibatkan tokoh dari Jakarta, Banten, Tasikmalaya, Pacitan, maupun Jombang, serta beberapa daerah lainnya.

Sebagaimana pemilu legislatif lalu, kegiatan jaringan halus bergerak ke tiap-tiap rumah untuk memberi pengaruh kepada pemilih. Adapun ritus-ritus politik akan berlangsung pada malam pemilihan dengan salah satunya di Batu Tulis, misalnya.

Dengan mobilitas yang tinggi dan tampilan kampanye media elektronik yang kuat, memperlihatkan bahwa Tim sukses SBY tidak mengalami hambatan pendanaan yang berarti. Tampaknya hal itu agak berbeda dengan tim-tim lain yang mengalami banyak persoalan dalam pendanaan. Sebab, mereka masih harus menghitung kemungkinan manuver-manuver politik yang akan dapat terjadi dalam putaran kedua. Mungkin saja karena SBY memperoleh dukungan dari tokoh-tokoh khusus seperti TB Silalahi atau Eddy Sudradjat yang dekat dengan jaringan sumber dana tertentu. Kondisi itu menyebabkan SBY dianggap relatif lebih unggul mendorong mobilisasi untuk menarik calon pemilih dibandingkan dengan kemampuan Wiranto dalam melakukan hal yang sama.

Siapa Lebih Kuat?

Berdasarkan analisis tersebut, kita melihat bahwa sebenarnya Wiranto memiliki keunggulan dalam basis pendukung politik. Sementara itu SBY memiliki keunggulan dalam popularitas dan tim pendukung yang relatif solid.

Terlepas dari beratnya keadaan internal pendukung Wiranto dalam konsolidasi untuk kepentingan presiden, tampaknya bobot nilai dan basis pendukung seperti itu kedudukannya lebih tinggi dibandingkan dengan keberadaan unsur-unsur lain. Sebab, kedudukan basis pendukung memiliki kekuatan akumulatif yang lebih riil dibandingkan dengan kekuatan dari sumber daya lainnya.

Sementara itu kemampuan SBY yang sangat bagus dan popularitasnya yang tinggi, tampaknya memiliki kemampuan dan daya tarik bagi kelompok pemilih tingkat menengah ke atas yang pada umumnya ada di wilayah kota atau lekat dengan arus informasi media.

Namun mereka tidak memiliki kekuatan untuk menarik masyarakat yang tidak intensif hubungannya dengan media massa. Dengan demikian, bobot dari popularitas itu menjadi sangat relatif, mengingat masyarakat Indonesia lebih banyak berada di pedesaan, dan mereka juga tidak memiliki kaitan langsung dengan kebutuhan-kebutuhan informasi politik. Karena itu, pengaruh tim sukses SBY untuk memengaruhi mereka menjadi kurang efektif sehingga kekuatannya di wilayah pedesaan pada umumnya menjadi sangat terbatas.

Berdasarkan pertimbangan itu, jelas terlihat bahwa bobot nilai dari kekuatan efektif tim sukses SBY lebih kecil dibandingkan dengan sumber daya yang tersedia dan dimilikinya. Padahal hal itu menjadi andalan SBY, mengingat modal dasarnya hanya sekitar 7%, ditambah beberapa persen dari sempalan Golkar.

Karena itu, daya tarik kerja tim untuk membudidayakan popularitas dan kekuatan sumber daya keuangan menjadi semakin kuat. Namun karena keterbatasan cakupan daya sebar dan kemampuan daya tangkap audiens, pengaruhnya akan terhenti dengan sendirinya.

Jika kemudian hal itu dijajarkan dengan modal Wiranto, sepertinya SBY untuk menyamai modal Wiranto yang jumlah dasarnya sekitar 15 juta pendukung (belum ditambah dengan kekuatan lainnya) akan sangat sulit dilakukan. Bagaimanapun, SBY yang bermodal pendukung kurang dari 10 juta akan sangat sulit untuk mampu keluar dari putaran I dan masuk ke putaran II, jika harus melampaui modal Wiranto dan mencari tambahan sekitar 25 juta suara (untuk mampu mencapai 1/3 suara pemilih).

Mengingat untuk meraih dukungan suara seperti itu sangat sulit, kekuatan dari modal pendukung lebih tinggi dan lebih andal, meski terlihat sangat konservatif. Dari telaah itu dapat diperkirakan bahwa Wiranto yang tampilannya lebih konservatif yang berpasangan dengan Gus Sholah yang kalah populer dari SBY, perolehan suaranya dalam Pemilu Presiden 5 Juli yang akan datang diperkirakan akan jauh lebih kuat dibandingkan dengan perolehan suara dari pasangan SBY-Jusuf Kalla. (69n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA