| Jumat, 02 Juli 2004 | SEMARANG |
Hari Pertama Donasi, Penumpang CuekSEMARANG- Hari pertama penarikan donasi, sumbangan pengguna jasa transportasi udara, Kamis (1/7) berjalan tidak optimal. Pasalnya, ketidaktahuan sebagian besar penumpang tentang sosialisasi tersebut membuat petugas loket yang terletak berseberangan dengan loket airport tax itu terlewatkan begitu saja. Bahkan beberapa calon penumpang memperlihatkan wajah kesal atau cuek, pura-pura tidak tahu. "Yang sudah tahu biasanya mau membayar. Tapi yang nggak tahu, ada yang komplain atau marah-marah," tutur seorang pegawai Pemkot yang ditugaskan mengawasi penarikan di Bandara A Yani, kemarin. Dari sekitar 500 penumpang yang akan berangkat, kata dia, baru sekitar 247 penumpang domestik dan 12 penumpang asing yang bersedia membayar. Berbeda dari domestik, penumpang asing biasanya tidak terlalu mempermasalahkan. Usai membayar airport tax, dengan panduan petugas yang semuanya perempuan, mereka mengeluarkan kocek sekitar Rp 10 ribu per orang. Masalah kurangnya sosialasi, lanjut dia, sebenarnya tidak begitu masalah. Hanya saja, penumpang umumnya berangkat terburu-buru, sehingga waktu yang ada untuk mampir ke loket sangat mepet. Sayangnya, ia sendiri tidak bisa menahan mereka untuk mampir sejenak. "Banyak yang lari-lari karena hampir terlambat. Kalau sudah seperti itu ya, sulit," tukasnya. Dari pengamatan Suara Merdeka di lapangan, sebagian penumpang tampak tak terlalu antusias menanggapi brosur yang disampaikan petugas. Bahkan, beberapa di antaranya tampak ogah-ogahan mengeluarkan lembaran uang lima ribuan. "Saya belum tahu aturan ini. Masalahnya, dana ini untuk apa, sama sekali tidak dijelaskan," tutur seorang penumpang yang enggan disebut namanya. Budianto, warga Jakarta, yang kebetulan berkunjung ke Semarang mengaku heran dengan pungutan tersebut. Selama seminggu di kota ini, ia mengaku tidak pernah tahu-menahu tentang sosialisasi tersebut. Pungutan donasi sendiri diberlakukan secara sukarela. Artinya, setiap pengunjung yang hadir hanya disodori brosur dan diminta mengisi sesuai harga yang tertera di papan tempel kecil di atas meja loket. "Kami tidak boleh memaksa. Kalau pas sepi, sih bisa diajak mampir. Tapi kalau ramai, penumpangnya ditarik satu persatu, bisa-bisa kami (Pemkot-Red) kena komplain Angkasa Pura," kata dia. Sementara itu, Kepala Cabang PT Angkasa Pura Purnomo saat dikonfirmasi mengatakan pihaknya hingga saat ini belum menerima komplain apapun dari penumpang. Pihaknya yang merasa berketempatan hanya bekerja sama menyediakan petugas loket dari Koperasi Karyawan Angkasa Pura (Kokapura) yang mendapatkan bagian sekitar 10% dari hasil donasi tersebut. "Ini hanya untuk gaji pegawai honorer. Yang lainnya murni masuk ke PAD Pemkot," ujarnya. Data penumpang yang berangkat melalui Bandara A Yani menunjukkan peningkatan hingga 500 orang dari hari biasa akibat liburan, mulai minggu ini. Padahal, rata-rata penumpang hari normal mencapai 1.200 orang, sementara jumlah terakhir Rabu (30/6) lalu ada sekitar 1.700 orang. (rei-73) |