logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 01 Juli 2004 SALA
Line

Kolaborasi Tujuh Dalang Tutup Safari Budaya

KARANGANYAR- Kolaborasi tujuh dalang dalam pentas wayang kulit semalam suntuk di lapangan desa Kecamatan Mojogedang kemarin menandai penutupan safari budaya yang dilakukan Barisan Merah Putih Karanganyar.

Sebelumnya, safari budaya juga dibuka dengan pentas wayang dengan dalang Ki Manteb Soedharsono pada 15 Juni lalu di lapangan Desa Sembuh Kecamatan Jumapolo.

Pentas wayang kulit kolosal dengan tujuh dalang dan tiga geber (layar) mampu menyedot perhatian puluhan ribu penonton dari berbagai desa yang memadati lapangan setempat.

Dalam lakon Sri Mulih, dalang Ki Begug Poernomosidi SH yang juga Bupati Wonogiri mendapat sambutan meriah ketika menampilkan limbugan, dialog Limbug dan Cangik. Penonton puas dengan guyonan dan tembang yang disajikan.

Ketua Barisan Merah Putih Ir Tony Haryono mengatakan, lembaga yang dipimpinnya tidak hanya sebatas menggelar safari budaya dalam rangka kampanye pemenangan pemilu.

Namun lebih dari itu, Barisan Merah Putih sedang memfasilitasi kerja sama Pemkab Karanganyar dengan Pemkab Wonogiri, dan Pemkab Gianyar, Bali.

''Kerja sama yang sedang kami rintih antara lain, pertukaran budaya ketiga daerah, pertukaran pendidikan, dan pertukaran flora-fauna. Kalau ada kerja sama bidang lain yang lebih baik dan menjanjikan, tentu saja juga akan kami lakukan,'' kata dia.

Kerja Sama

Begug mengatakan, pihaknya kini sedang menitik beratkan bidang budaya dalam rangka menjalin kerja sama dengan berbagai daerah. Alasannya, bidang budaya bisa menjadi pintu masuk untuk melakukan kerja sama selanjutnya.

Yang lebih penting dari itu, katanya, budaya bisa menjadi reflkesi siapa pun sebelum melakukan sesuatu.

''Bangsa kita ini sudah tidak karu-karuan, sudah tidak tenteram. Segala sesuatu serba sulit. Kemungkinan hal itu disebabkan oleh ulah manusia sendiri yang sudah melupakan budaya dan tidak berbudaya lagi. Dengan budaya, kita bisa merefleksi diri,'' katanya.

Dia melanjutkan, lakon Sri Mulih dalam pentas kali ini mengisahkan tentang kepulangan Dewi Sri yang sudah ditunggu-tunggu rakyat Astina. Rakyat Astina mendabmakan negeri yang gemah ripah loh jinawi dengan pemimpin yang mumpuni dan baik seperti sebelumnya, setelah bubrah akibat bharatayudha.

''Kisah ini bisa menjadi cerminan rakyat kita yang dalam masa reformai enam tahun belakangan ini yang tampak lebih sulit. Jika ingin negeri yang gemah ripah loh jinawi pilihlah pempimpin yang baik, yang tidak sekedar mengobral janji tapi memberi bukti.''(G8-80)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA