logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 01 Juli 2004 NASIONAL
Line

Refleksi Wicaksono Adi

Negeri Judi

MENURUT Majalah Tempo yang mengutip bursa taruhan terkemuka di Inggris, Ladbrokes dan William Hill, uang judi yang berputar selama Piala Eropa kali ini diperkirakan akan mencapai 300 juta poundsterling atau sepadan dengan Rp 5,1 triliun. Konon, 20% dari jumlah tersebut berasal dari para penjudi Asia. Konon pula, jumlah itu merupakan rekor baru dalam dunia judi sepanjang masa.

Tentu, itu belum termasuk uang yang dipertaruhkan di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meski judi, undian berhadiah, sumbangan olahraga, atau apa pun namanya secara resmi dilarang di negeri ini, toh di mana-mana masih dijumpai perjudian dalam berbagai bentuk.

Mulai dari yang berlangsung di balik gemerlap gedung-gedung mewah di kota besar seperti Jakarta hingga pelosok-pelosok kampung nun di pedalaman hutan sana.

Dengan penyebaran yang begitu luas, di kota-kota ataupun di desa-desa di seluruh dunia, bayangkanlah berapa banyak uang yang terbuang untuk judi selama Piala Eropa kali ini.

Konon judi memang tidak sekadar perkara taruhan tapi sudah menjadi sejenis "kebudayaan''. Bahkan dalam cerita wayang purwa, Pandawa bermain dadu melawan Kurawa dengan Negara Astina sebagai taruhannya.

Judi dianggap setua peradaban manusia dan ada di mana saja, kapan saja, serta dilakukan oleh siapa saja, mulai dari para juragan, petinggi, kaum eksekutif berdasi necis, hingga tukang becak, petani, penganggur, bahkan juga ibu-ibu dan anak-anak ingusan. Perjudian tidak mengenal kelas sosial, tingkat pendidikan, latar belakang suku, agama, dan ras.

Bentuknya pun terus berkembang. Mulai dari yang paling sederhana seperti menebak ekor pelat nomor motor yang hendak melintas di sebuah tikungan, adu binatang seperti sabung ayam dan adu ikan cupang, permainan kartu atau dadu dengan probabilitas yang lebih rumit ketimbang matematika anak sekolah, hingga yang menggunakan mesin dengan komputer canggih. Tiap-tiap daerah ternyata juga memiliki jenis perjudiannya sendiri dengan berbagai aturan main yang berbeda-beda pula. Sistem transaksinya pun kian lama kian rumit menjadi sejenis manajemen yang tak kalah canggih dengan anggaran belanja negara.

***

Perjudian ternyata juga telah menciptakan semacam rezim tersendiri, semacam negara berikut para penguasa dan para warga atau rakyatnya. Ikatan antara rakyat dan penguasa itu seperti hubungan antara seorang suami dan gundiknya: mereka saling membutuhkan tapi tak mau mengakui keabsahan hubungan itu.

Di negeri judi itu juga terdapat pembagian dan pengaturan wewenang: ada presiden-presidennya, gubernurnya, bupati, camat, lurah, agen-agen, petugas keamanan, para jagoan dan tukang kepruknya, pun tak ketinggalan ibu kota-ibu kotanya seperti Las Vegas, Monaco, Macau, Genting Higland, dan Christmas Island.

Para warga di negeri itu juga memiliki loyalitas, yakni semacam nasionalisme yang dibangun atas dasar saling percaya karena memang tak ada perjanjian kontrak yang jelas. Mereka siap mengorbankan apa saja, kalau perlu mengorbankan anak istri, rumah, bahkan juga nyawa demi sebuah kesetiaan tanpa ikatan tersebut.

Profesor Ben Anderson dari Cornell University, Amerika Serikat, berpendapat, negara atau nation pada dasarnya adalah sebuah komunitas imajiner. Si Lukas di Merauke yang tak pernah kenal dengan Suyatman di Gombel atau si Pohan di tepi Danau Toba sana, tiba-tiba merasa diikat oleh sesuatu yang menyebabkan mereka menjadi sesama anak bangsa yang disebut Indonesia. Mereka seolah-olah diikat oleh sebuah rasa kebangsaan, meski ikatan itu hanya ada di angan-angan. Dan ajaibnya, para warga yang tak saling kenal itu siap mengorbankan jiwanya demi ikatan tersebut.

Jadi, meski yang namanya bangsa hanyalah sesuatu yang imajiner, konsekuensinya dapat dirasakan secara nyata. Dan, untuk mengawetkan ikatan tersebut diciptakanlah pahlawan-pahlawan, monumen-monumen, ideologi-ideologi, dan mitos-mitos yang terkadang tak berkaitan secara langsung dengan kehidupan riil para warganya.

***

Dalam bentuknya yang lain, negeri judi tak jauh berbeda dari negara bangsa semacam itu. Bedanya, yang satu dianggap resmi dan mulia, yang satu najis dan haram.

Akan tetapi kalau bicara soal militansi, warga negeri judi tak kalah dengan warga negara bangsa. Bahkan, dalam soal kepatuhan terhadap aturan main, meski tak ada undang-undang tertulisnya, warga negeri judi jauh lebih taat ketimbang warga negara bangsa.

Di negeri judi itu juga tumbuh berbagai ilmu, seperti ramal-meramal, hitung-menghitung dengan berbagai eksperimen yang terus berkembang. Rakyat yang buta huruf pun mampu mengembangkan matematika supercanggih saat menghitung berbagai kemungkinan angka yang diduga akan keluar. Mereka menemukan rumus-rumus baru dengan berbagai pengujian yang kian canggih pula.

Ilmu itu tidak hanya mencakup aspek-aspek rasional, tetapi juga melibatkan daya upaya suprarasional seperti klenik dan perdukunan, tirakat dan nenepi, mencari ilham, juga ilmu semiotik dalam bentuk tafsir atas tanda-tanda dan mimpi. Pendek kata, ilmu pengetahuan di dunia judi ternyata jauh lebih luas, lebih lintas bidang ketimbang pengertian ilmu pengetahuan yang lazim dikenal orang.

Di negeri judi juga terdapat hari-hari besar, salah satunya adalah perhelatan Piala Eropa kali ini yang akan memuncak pada pertandingan final nanti. Orang tak perlu bersusah payah mendapatkan surat bukti kewarganegaraan untuk menjadi bagian di negeri itu. Cukuplah bertaruh dengan kawan, anak atau istri, memilih pemenang, atau menebak skor pada pertandingan Republik Ceko melawan Yunani. Atau bertaruh dengan teman sekantor lewat sms: siapa kira-kira yang nanti keluar sebagai juara.

Itulah negeri judi yang ajaib, tempat orang hampir tak mendengar soal money politics, ingar-bingar kampanye yang mengobral janji-janji kosong, upaya sikut sana sikut sini atau dukung sana dukung sini. Di negeri itu orang tak pernah mendengar KKN atau pelanggaran HAM berat seperti yang riuh digunjingkan di negara bangsa.

Untuk itu, bila orang kian bosan menyaksikan berbagai carut-marut kebohongan dan kemunafikan di negara bangsa, maka jangan salahkan siapa-siapa bila para warganya pada hijrah ke negeri judi. (Wicaksono Adi, penyair, tinggal di Jakarta-22j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA