| Kamis, 01 Juli 2004 | NASIONAL |
Kerja Tim Sukses Jelang Pilpres (1)Lamban tapi Siap Menyalip Rivalnya
Hari ini berakhir sudah masa kampanye pemilihan presiden yang digelar sejak 30 hari lalu. Lima hari lagi, kerja para tim sukses capres-cawapres akan diuji pada pemungutan suara 5 Juli mendatang. Apakah kerja mereka selama ini akan membuahkan hasil suara atau tidak. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka, Adib dan Nasrudin Anwar tentang kiat-kiat tim sukses dalam upaya merekrut pemilih. "PAMFLET ini untuk stok putaran kedua, sedangkan yang untuk kampanye pemilihan putaran pertama sudah habis,'' ujar seorang petugas di Kantor DPP PKB, sambil meletakkan bundelan pamflet ke tumpukan yang sudah tinggi di bagian depan kantor partai tersebut, di daerah Kalibata Jakarta. Maklum, hingga kini masih terdapat tumpukan pamflet bergambar pasangan Wiranto-Gus Sholah. Padahal, hari kampanye sudah menjelang habis. Namun, seluruh peragaan kampanye pilpres koalisi Partai Golkar-PKB masih tersedia banyak. Duet Wiranto-Gus Sholah sejak awal optimistis maju ke putaran kedua yang akan digelar September 2004. Optimisme itu muncul setelah mesin politik yang mencalonkan adalah dua parpol besar. Hitungannya dengan asumsi kemenangan Partai Golkar dan PKB pada pemilu legislatif, target 35 juta suara bisa terlewati, dan bisa untuk maju ke putaran kedua. Dukungan dua mesin politik, baik PKB maupun Partai Golkar, berkesan lamban. Agung Laksono, salah seorang Ketua DPP, mengibaratkan timnya seperti mesin diesel. Lama panasnya, tetapi kalau sudah berjalan akan melewati siapa pun pesaing dan rivalnya. "Kami ini ibarat mesin diesel, lama panasnya tapi kalau sudah lari akan melewati siapa pun,'' ujarnya. Masalah lain yang menjadi alasan adalah sikap kegamangan. Sebab, Partai Golkar dan tim kampanye masih melihat Ketua Dewan Syuro PKB Gus Dur menyatakan dirinya berada di luar sistem alias golput. Padahal di sisi lain dia sudah mengizinkan Gus Sholah yang tak lain adik kandungnya bergabung dengan Golkar. Meskipun sikap Gus Dur itu tidak ada hubungannya dengan Golkar. Dia bersikap demikian karena masih beperkara dengan KPU soal gugatannya atas perlakuan diskriminasi terhadap dirinya. "Gus Dur menyatakan golput, karena dia masih dalam kapasitas menggugat KPU,'' kata Wakil Ketua Umum DPP PKB Mahfud MD. Padahal peran Gus Dur pada pilpres kali ini sangat besar. Maklum dari kalangan NU tidak hanya Gus Sholah yang maju, tetapi juga ada Ketua Umum (nonaktif) KH Hasyim Muzadi yang direkrut Megawati untuk menjadi cawapres. Dengan demikian adu dua arus besar dalam NU yang diharapkan bisa mendapatkan suara tambahan bagi tiap-tiap capres. Termasuk Golkar berharap tambahan dari NU. Atas sikap Gus Dur yang belum memberikan dukungan itulah muncul sikap gamang dari kubu Partai Golkar. Sementara itu, tim sukses dari PKB belum bisa bergerak karena belum digerakkan oleh tim Wiranto atau Partai Golkar. Kegamangan itu sempat terlontar oleh Akbar Tandjung, Ketua Umum Golkar. Tak heran jika sempat muncul persepsi beda antara Gus Dur dan Akbar. Keduanya saling menuduh lepas tangan dan tidak bertanggung jawab. Padahal berhasil dan tidaknya pasangan Wiranto-Gus Sholah merupakan tanggung jawab Golkar dan PKB yang menjadi mesin politiknya. Dukungan resmi Gus Dur sangat penting, karena kubu Wiranto harus menghadapi Hasyim yang untuk sementara menguasai NU secara struktural. Namun, secara kultural warga NU dikuasai Gus Dur. Dengan demikian, untuk bisa memperoleh suara warga NU sebanyak-banyaknya harus mendapat dukungan resmi dari Gus Dur. Untuk itulah Gus Dur menjadi "gong" geraknya tim Partai Golkar dan PKB. Strategi di balik dukungan itu, ternyata membuat tim gabungan lebih kompak pada saat-saat akhir, ketika tim-tim lain sudah kehabisan energi. Kekompakan tim Wiranto-Gus Sholah menjelang berakhirnya putaran kampanye dikandung maksud menyimpan energi untuk mengerahkan kemampuan pada putaran kedua. Artinya, tim koalisi Partai Golkar-PKB akan lebih mantap di putaran kedua, setelah aman di pilpres putaran pertama. Isyarat itu justru disampaikan oleh Gus Dur, bahwa pasangan Wiranto-us Sholah masuk putaran kedua. Mantan Ketua Umum PBNU itu sendiri mengklaim bahwa dukungan warga NU akan lebih banyak ke capres/cawapres koalisi kedua parpol besar itu. Wajar jika Gus Dur lebih tenang dan mesin politik kedua parpol tinggal mengamankan posisinya di TPS. Mayoritas Tim Wiranto-Gus Sholah boleh saja mempunyai optimisme seperti itu. Tetapi di sisi lain, klaim warga NU akan memilih pasangan Mega-Hasyim juga dilontarkan oleh salah seorang Ketua PBNU Drs Ahmad Bagja yang kini menjadi tim sukses Mega - Hasyim. "Sebagian besar, di atas 60% warga NU itu mendukung pencalonan Mega- Hasyim. Bahkan untuk di Jawa Timur itu bisa 90%,'' tandasnya. Ketika menjelang kampanye, pasangan Mega - Hasyim sudah dihadapkan pada adanya fatwa kiai dari Langitan yang mengharamkan memilih presiden wanita. Fatwa ini jelas akan merugikan Mega. Namun, seiring berjalannya waktu, agaknya masalah itu tak begitu berpengaruh. Ini terlihat dari ramainya acara Mega-Hasyim yang bernuansa NU seperti istighotsah, silaturahmi kepada para kiai pimpinan pondok pesantren dan sebagainya. Berbagai acara itu dinilai berhasil, begitu juga panggung kampanye dipenuhi massa. "Jadi, menurut evaluasi kami untuk pemilihan tahap pertama kami akan lolos. Targetnya adalah menggenjot agar tidak sampai putaran kedua,'' tambah Ahmad Bagja. Menurutnya, pasangan Mega-Hasyim diyakini akan memperoleh suara sekitar 35 sampai 40%. Suara itu berasal dari pemilih PDI-P dan warga NU ataupun pendukung lainnya. "Dari segi wilayah, kami melihat akan mendapat suara yang cukup siginifikan di seluruh Jawa, Sumatera, Kalimantan Selatan dan NTB.'' Optimisme PDI-P juga dikemukakan oleh tim sukses Mega-Hasyim, Tjahyo Kumolo dengan menunjukkan berbagai indikator keberhasilan pemerintahan Megawati selama tiga tahun ini. Dia menunjuk ancaman separatis seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dapat diredam baik melalui diplomasi yang mengedepankan dialog dan musyawarah maupun tindakan tegas dalam bentuk operasi militer. Begitu juga ancaman teroris yang sempat merusak citra negeri ini, dapat diatasi. Dari segi ekonomi, sebenarnya banyak kemajuan yang bisa dicatat sebagai salah satu bentuk prestasi pemerintahan Megawati. Selain rupiah yang relatif stabil, sekarang tingkat suku bunga di bank juga hanya berkisar 12% hingga 15%. Indikator lain yang harus dicacat sebagai prestasi adalah laju inflasi. "Belum pernah terbayangkan Indonesia bisa menikmati inflasi yang sedemikian rendah. Sepanjang tahun 2003, Indonesia menikmati inflasi di bawah 6%,'' kata Tjahyo Kumolo. Dari berbagai indikator ini, boleh jadi inilah yang membuat salah satu semboyan kampanye Mega - Hasyim dengan kata-kata, "Sudah teruji, sudah terbukti.'' Maka, menurut Tjahyo, Indonesia boleh optimistis bahwa lima tahun ke depan Megawati masih mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dan menjadikan bangsa ini setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya. "Kita juga boleh optimistis karena Megawati adalah figur pemimpin yang jujur, tidak pendendam, tidak pernah menghujat dan tidak suka fitnah,'' tegasnya. Namun, hari-hari menjelang pencoblosan adalah hari-hari yang dikhawatirkan bagi tim Mega-Hasyim, karena saat itu bisa terjadi apa yang disebutnya sebagai serangan fajar, politik uang dan sebagainya. "Sekarang saja sudah ada yang mengumpulkan fotokopi kartu suara dengan imbalan dua puluh ribu rupiah untuk mendukung seseorang,'' ungkap Ahmad Bagja. Menghadapi ancaman seperti itu, para pendukung Mega-Hasyim terus melakukan upaya antisipasi antara lain berusaha mengawal para pemilih di lingkungan TPS supaya tidak terprovokasi atau terbius oleh iming-iming. (87,33k) | ||||