logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 01 Juli 2004 NASIONAL
Line

"Merem Saja Dapat Presiden"

PESTA demokrasi, mulai dari pemilu anggota legislatif sampai pemilu presiden dan wakil presiden, benar-benar menguras energi para kiai dan ulama. Maklum, mereka bertanggung jawab secara moral. Di samping dituntut untuk ikut menyukseskan hajat negara ini, mereka juga harus memberi tuntunan pada umatnya. Hal ini karena masyarakat sedang menjadi objek yang sangat sentral dalam pelaksanaan pemilu.

Karena itu, tak heran bila sewaktu-waktu para kiai dan ulama berkumpul membahas masalah bangsa dan negara. Seperti Rabu kemarin, puluhan kiai bersilaturahmi di Pondok Pesantren Hamdalah, Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Rembang. Mustofa Bisri (Gus Mus) terlihat paling sibuk. Pasalnya, dia yang mengundang para tamu tersebut.

Di samping Gus Mus, tokoh yang menjadi perhatian dalam perhelatan tersebut KH Sahal Mahfudh dan KH Abdullah Faqih dari Langitan. Jika Gus Mus menyampaikan isi hatinya di depan ulama dengan gaya santai dan jenaka, berbeda dari Kiai Sahal dan Kiai Abdullah Faqih.

"Dalam hal ini saya akan membaca saja supaya tidak keliru. Karena sekarang banyak kalimat yang disalahtafsirkan lain, sehingga saya tak mau bicara debat langsung tapi saya akan membaca seperti naskah yang sudah dibawa tamu undangan,'' papar Kiai Sahal mengawali pembacaan amanatnya.

Sementara itu, Kiai Abdullah Faqih keberatan memberi komentar saat diwawancarai wartawan. "Saya takut jika pendapat saya nanti salah dan saya kapok berbicara dengan wartawan,'' tandasnya.

Tangan Tuhan

"Kami mendengar banyak orang bingung dan sebenarnya bisa saya jawab sendiri. Saya tahu, orang NU ini memang sering bingung, dapat nikmat bingung, Nikmah bingung, dan lain-lain. Jangan-jangan watak dasar dari NU ini bingungan,'' seloroh Gus Mus.

"Saya jawab begitu orang tidak puas. Banyak yang bertanya, pada pemilu presiden dan wakil presiden nanti saya milih apa? Saya jawab, merem sajalah pasti dapat presiden Indonesia. Saya jawab begitu, malah saya diserang. Tidak hanya dari orang luar, tetapi juga dari anak kiai NU.''

Lanjut Gus Mus, "Saya dibilang kiai kok tidak tegas, fatwa kok kon merem. Saya tegaskan, meski dengan merem yang terpilih nanti adalah orang Indonesia asli, bukan warga negara Belanda, Inggris, atau negara lainnya.''

Dia selalu mengatakan, diniati saja dengan doa kepada Allah kalau pilihan kita adalah pilihan bersama. Nanti tangan kita akan dituntun sendiri oleh Allah saat pemilihan, karena kadang-kadang kita lupa dengan ingar-bingar arogansi akal pikiran.

"Saya jawab begitu, masih juga belum puas. Mereka menilai, NU ini bagaimana, ada yang begini dan ada yang begitu. Saya jawab bahwa dari dahulu NU yang begitu, namun belum puas juga.''

Akhirnya Gus Mus tahu, orang itu menginginkan pemimpin tertinggi NU yang berbicara. Kebetulan pemimpin tertinggi adalah orang NU asli yang sangat kuat. Akan tetapi KH Sahal malahan tidak percaya dengan hal ini.

"Padahal saya yakin, mereka sangat menginginkan rois aam yang berbicara kepada warganya. Warga sudah tidak percaya kepada kiai masing-masing. Mereka menginginkan suara dari pimpinan NU secara langsung. Kalau sudah tidak percaya dengan rois aamnya, pindah saja."

Dia yakin, meski ditinggal 2/3 warganya, NU tidak akan mati. Karena yang mendirikan NU adalah kiai-kiai yang bukan sembarang kiai. Dia lalu menyebut Hedratus Syekh KH Hasyim Asy'ari.

Pada saat menyebutkan nama pendiri NU itu, Gus Mus terlihat terharu. Dia percaya setelah mendapat informasi dari sumber yang paling dekat dengan dia, pada acara ini pendiri NU yang telah lama meninggal tersebut hadir bersama warga NU lainnya.

Cobaan

Rois Aam PBNU KH Sahal Mahfudh mengemukakan, saat ini warga NU sedang mendapat cobaan. Sebab, puluhan juta nahdliyyin yang selama ini hanya dijadikan stempel dan tak dapat menentukan pilihan tiba-tiba haknya untuk memilih sendiri dikembalikan.

"Sekarang mereka dapat memilih sendiri pemimpin yang disukainya sesuai dengan hati nurani,'' ujar Kiai Sahal di depan para tamu undangan. Mereka ulama dan kiai seluruh Jawa, termasuk Plh Ketua Umum Tanfidz PBNU Masdar Farid Mas'udi.

Lebih lanjut Kiai Sahal mengungkapkan, NU atau warganya yang cukup lama dipinggirkan dari percaturan kepemilikan negeri ini seolah-olah tidak dianggap keberadaannya, namun tiba-tiba kali ini harus terlibat dalam percaturan kekuasaan. Beberapa tokohnya saat ini justru menjadi calon yang akan dipilih.

"Cobaan selalu menguji kita. Apakah kita akan bersyukur atau bersabar, tergantung pada bagaimana kita menyikapi situasi ini. Atau apakah kita menganggapnya ni'mah ataukah niqmah,'' katanya.

Melihat kegelisahan dan keresahan warga NU seperti yang terlihat dalam pertemuan ini agaknya mereka lebih melihat sisi yang memprihatinkan. Memang sungguh memprihatinkan, tuturnya, apa yang ditampilkan banyak tokoh NU yang terlibat dalam percaturan kekuasaan dewasa ini tidak atau kurang memperlihatkan etika dan akhlak asli NU.

Melihat hal ini, bukan saja NU-nya tercemar, malahan jika salah dapat mengakibatkan keretakan antarumat. Belum lagi soal khitah NU yang masih harus dijaga kemurniannya.

Turuti Warganya

Mengingat pengalaman sebagai warga NU yang sepanjang sejarah tidak henti-hentinya mendapatkan cobaan, awalnya dia yakin warganya dapat mengatasi sendiri dengan kearifannya. "Namun karena luasnya dampak persoalan ini dan besarnya semangat terhadap NU, bangsa Indonesia dan rakyat secara keseluruhan perlu dawuh saya selaku rois aam."

Untuk itu, sebagai khadam dan pelayan warga NU semuanya, Kiai Sahal menuruti permintaan warganya dengan memberikan beberapa amanat. Pertama, pemilu adalah sarana demokrasi yang menuntut sikap kedewasaan semua pihak dalam menghadapi perbedaan pilihan.

Dalam hal ini warga NU sudah terbiasa berbeda pilihan dan sudah berpengalaman beberapa kali pemilu. Pemilu capres/cawapres kali ini justru kewenagan memilih diberikan sepenuhnya.

"Kita pun bebas menentukan pilihan kita sesuai dengan hati nurani masing-masing sekalipun mungkin berbeda dari pilihan saudara kita. Tidak ada satu pihak pun yang boleh menghalang-halangi atau membatasi rakyat menggunakan haknya,'' tegasnya.

Yang kedua, kepada mereka yang terlibat dalam menyukseskan keterpilihan kandidat pilihan masing-masing, khususnya dari warga NU. Dia meminta agar warganya bisa lebih menahan diri. Bersikap yang wajar dan tidak berlebih-lebihan dalam mendukung calon mereka, cukup dengan memuji calonnya, menguji misi, dan program-programnya.

Sebelum acara selesai, 10 kiai dari berbagai daerah ikut berdoa bersama. Mereka secara bergantian membaca doa yang diamini semua yang hadir di tempat itu. KH Ahmad Sahid yang menjadi sahibul bait membacakan doa yang terakhir.

Sebelumnya, yang membacakan doa adalah KH Masduki Mahfud (Rois PW NU Jawa Timur), KH Shalih (Sidoarjo), KH Anwar Mansur (Lirboyo), KH Ahmad Warsun Munawar (Yogyakarta), KH Sadid (Rencong, Jember), KH Muhaiminan Gunardho (Parakan, Temanggung), KH Mas Subadar (Pasuruan), KH Abdul Wahab Hafid (Rembang), dan Abdullah Faqih (Langitan, Tuban). (Djamal dan Achid Nugroho-58j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA