| Kamis, 01 Juli 2004 | NASIONAL |
Saddam Ucapkan Selamat PagiBAGDAD - Saddam Hussein mengucapkan "Selamat Pagi!'' dan berusaha mengajukan pertanyaan, ketika militer AS menyerahkannya kepada pengadilan Irak, Rabu kemarin, kata seorang saksi mata. Sekalipun secara hukum penahanannya telah diserahkan kepada para penagak hukum Irak sendiri, Saddam secara fisik tetap menjadi tahanan pasukan pendudukan Amerika. Mantan presiden Irak itu, yang ditangkap tentara AS di Tikrit, kota kelahirannya di utara, Desember lalu, tampak segar bugar ketika tampil di depan hakim Irak. "Saddam mengucapkan selamat pagi, dan bertanya apakah dia boleh mengajukan pertanyaan. Saya kira, dia ingin menanyakan apakah dia punya hak untuk melakukan konsultasi hukum,'' kata Salem Chalabi, hakim yang bakal memimpin persidangan atas diri Saddam. "Dia diberi tahu bahwa dia harus menunggu sampai besok,'' kata Chalabi, yang berada di ruang pengadilan tempat Saddam dan 11 eks pembantunya diserahkan secara resmi penahanan hukumnya kepada Pemerintah Sementara Irak. Saddam, yang tidak diborgol ketika dihadirkan di depan hakim, tidak lagi berambut panjang dan berjenggot lebat, seperti saat dia ditangkap di dalam sebuah lubang kecil. Banyak di antrara 11 mantan pejabat pemerintahan Saddam tampak gugup dan gelisah saat diserahkan, kata Chalabi. Hakim itu menerima banyak ancaman mati, sejak dia bantu menyiapkan pengadilan khusus untuk mengadili mantan presiden Irak tersebut. Ketika para hakim untuk pengadilan khusus tersebut dipilih, nama-nama mereka tidak dipublikasikan demi keamanan. Ali Kimia Ketakutan Saddam (67) dituduh oleh rakyat Irak telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap ratusan ribu orang, dengan bantuan para pejabat Partai Baath yang dia pimpin. Dia menjadi presiden pada 1979, namun telah menjadi "orang kuat Irak" sejak kudeta Partai Baath pada 1968. Para mantan pembantunya tampak bersikap bermusuhan, ketika mereka diberitahu akan didakwa (Kamis ini). Orang-orang itu dulu membuat takut rakyat Irak bila mereka muncul di depan publik. Ali Hassan al-Majid, yang dikenal sebagai "Ali Kimia" karena perannya dalam serangan gas beracun yang menewaskan sekitar 5.000 warga Kurdi Irak di Halabja pada 1988, tampak gemetar. "Dia tampak sangat takut. Dia gemetar,'' kata Chalabi. Kejaksaan Irak diperkirakan akan mendakwa mantan presiden Irak itu dengan 12 tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan, berkaitan dengan aksi-aksi militer yang dia perintahkan selama hampir 24 tahun memerintah. Dia diperkirakan diadili tahun depan. Dakwaan-dakwaan * Penggunaan senjata kimia terhadap warga Kurdi Irak dalam serangan 1988 di kota Halabja, Irak utara. * Serangan lagi terhadap warga Kurdi di Irak utara, 1988. * Pembantaian 5.000 anggota klan Barzani pada 1963, tempat pemimpin Kurdi Masoud Barzani berasal. * Invasi Irak ke Kuwait pada 1990. * Kejahatan-kejahatan terkait dengan Perang Irak dan Iran, 1980-1988. * Kejahatan terkait dengan penindasan rezim Saddam terhadap pemberontakan muslim Syiah di Irak selatan, setelah pasukan pimpinan AS mengusir tentara Irak dari Kuwait pada 1991. Bersamaan dengan penyerahan itu, Pemerintah Sementara Irak memutuskan untuk menerapkan kembali hukuman mati. Pemerintah juga menawarkan amnesti kepada kaum militan "yang tangannya tidak berlumuran darah'', kata Presiden Ghazi al-Yawar, Rabu kemarin. Koran Asharq al-Awsat melaporkan Yawar, yang berbicara setelah penyerahan kedaulatan kepada Pemerintah Sementara Irak (Senin lalu), juga mengatakan Irak akan memberlakukan kembali UU Keamanan Nasional 1960-an. Keputusan tersebut langsung diambil setelah upacara penyerahan kedaulatan Senin lalu, dan akan secara resmi diberlakukan dalam waktu dekat, katanya. Hukuman Mati Dihidupkan Yawar mengatakan hukuman mati akan diterapkan kembali, "namun dengan ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan norma-norma di sebagian besar negara dunia''. Hukuman tersebut akan diterapkan pada sejumlah kejahatan yang meliputi perkosaan, penculikan, pembunuhan, dan terorisme. Pemberlakuan hukuman mati dihentikan oleh Paul Bremer, saat pejabat AS itu menjadi pemimpin administrator AS di Irak. Yawar mengatakan, amnesti akan ditawarkan kepada orang-orang yang "tangannya tidak ternoda oleh darah rakyat Irak'', tidak melakukan aksi teroris, dan tidak ambil bagian dalam pembantaian. Irak benar-benar hancur, sejak invasi pimpinan AS menggulingkan Saddam tahun lalu. Gerilyawan terus menyerang pasukan AS, polisi Irak, dan sasaran-sasaran industri minyak di seantero negara itu.(rtr-ben-30) |