logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 01 Juli 2004 SEMARANG
Line

Didaktika

Les Komersial di Sekolah

  • Oleh Tasroh

MUSIM penerimaan siswa baru telah tiba. Seleksi siswa baru di sekolah-sekolah favorit makin membuat lembaga bimbingan belajar tampak strategis. Orang tua berlomba-lomba mencari lembaga itu atau guru les privat.

Dengan bimbingan belajar, orang tua tak lagi bingung ketika anaknya tak menguasai suatu mata pelajaran. Bahkan kini mereka lebih memercayai lembaga itu daripada lembaga pendidikan formal. Lembaga Survei Indonesia (LSI) bidang pendidikan (2003) mengungkapkan, penilaian masyarakat terhadap pendidikan formal kian merosot lantaran sekolah dianggap tidak lagi mampu memerankan diri sebagai ''yang lebih baik'' untuk urusan meningkatkan ilmu pengetahuan siswa. Orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah formal hanya dalam rangka mendapatkan selembar ijazah.

Dulu sekolah menjadi satu-satunya media yang efektif, efisien, dan produktif meningkatkan penguasaan suatu mata pelajaran. Kini peran, fungsi, dan tanggung jawab tersebut praktis tak berarti.

Kenyataan itu makin menyedihkan lantaran, selidik punya selidik, ternyata guru privatnya adalah gurunya sendiri di sekolah. Guru di sekolah yang begitu ''mahal'' berdiskusi dengan anak didiknya, setelah mengajar di lembaga itu telah menjadi ''pemasar'' yang baik bagi lembaganya. Ketika mengajar di sekolah formal guru begitu pelit membagikan ilmunya, sorenya jadi pemurah.

Padahal, para guru tersebut pada umumnya adalah guru-guru negeri yang sudah digaji dengan tunjangan fungsional.

Kalau demikian yang dimaui para guru, sebenarnya mereka tidak usah melakukan bisnis pendidikan terselubung. Mereka bisa melakukan ''bisnis'' di sekolah sekalian, dengan cara menambah les atau privat bagi siswa yang dirasa kurang dalam penguasaan mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan guru/sekolah, siswa, dan orang tua.

Hal itu di samping akan mengurangi beban biaya pendidikan orang tua terhadap anaknya yang kini makin tak terkendali, juga secara ekonomis menguntungkan para guru. Sebab, mereka tidak harus main kucing-kucingan untuk menambah pendapata.

Dengan model demikian, para guru tetap bisa menambah uang jajan lewat les/privat yang dikelola oleh guru atau sekolah, tanpa harus ngobyek sore hari di lembaga orang lain.(89)

- Tasroh SS, orang tua siswa dan pimpinan Lembaga Konsultan SDM Karier Plus Purwokerto


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA