| Kamis, 01 Juli 2004 | EKONOMI |
Pabrik Makanan Ternak Kesulitan JagungSOLO--Setelah China menghentikan ekspor jagung ke Indonesia, pabrik-pabrik makanan ternak kesulitan memperoleh jagung. Komoditi itu akhir-akhir ini sulit diperoleh. Kalaupun ada, harganya sangat tinggi. Penghentian ekspor dilakukan China untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri sendiri yang makin meningkat. Para peternak pun menjerit; setelah terkena musibah penyakit flu burung, kini mereka dihadapkan pada tingginya harga pakan. Hal tersebut terungkap dalam dialog antara para peternak dengan Dirjen Peternakan N Wasito, di Solo, Selasa lalu. Menurut salah seorang peternak, harga jagung sekarang mencapai Rp 1.700/kg. Padahal saat kondisi normal, harganya Rp 1.000/kg, bahkan bisa kurang dari itu. Sementara itu harga pakan ternak saat ini sekitar Rp 2.100, padahal sebelumnya hanya Rp 1.600/kg. Dirjen mengakui, jagung saat ini memang sulit diperoleh. Setiap tahunnya untuk kebutuhan pakan ternak, 40 % bahan baku (jagung)-nya masih diimpor. ''Dirjen Tanaman Pangan harus memikirkan hal itu,'' katanya. Di sisi lain, Wasito mengungkapkan, ketika berkunjung ke Manado dia mengetahui, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad justru melakukan ekspor jagung. ''Katanya untuk mengembalikan modal, dan jagung-jagung itu harus diekspor,'' ujarnya. Dalam dialog itu terungkap, produksi jagung nasional sembilan juta ton/tahun, dan kebutuhan untuk makanan ternak empat juta ton/tahun. Sebetulnya masih ada kelebihan, namun yang menjadi masalah, kelebihan itu tidak termasuk yang dibutuhkan. Jenis jagung yang ditanam di Indonesia ada tiga, yakni komposit, lokal, dan hibrida. Yang diperlukan untuk bahan pakan ternak adalah jenis hibrida, tapi jenis itu tidak banyak disukai petani karena penanamannya relatif sulit. Dari jumlah produksi sembilan juta ton, hanya 10% atau sebanyak lebih kurang satu ton yang termasuk jenis hibrida. Dengan demikian, kekurangannya masih tiga juta ton. Kondisi seperti itu dari tahun ke tahun terus berlangsung, sehingga harus dilakukan impor. ''Kalau jagung hibrida ditanam, berapa pun untuk kebutuhan dalam negeri akan terserap,'' ujar salah seorang peserta dialog. Karena sulitnya memperoleh jenis hibrida, para peternak sedang menjajaki impor dari Brasil dan India. Peserta dialog itu mengusulkan, agar Dirjen Peternakan melakukan koordinasi dengan Dirjen Tanaman Pangan untuk melakukan penanaman jagung hibrida dalam jumlah besar pada lahan-lahan yang sesuai untuk tanaman itu. (bt-82a) |