logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 01 Juli 2004 BANYUMAS
Line

Digendam, Uang dan Perhiasan Melayang

BANJARNEGARA - Hari-hati jika ada seseorang-apalagi belum dikenal-menawarkan jasa mampu melipatgandakan uang secara gaib. Bisa jadi Anda akan bernasib buruk seperti yang dialami Ny Sarwijah (38), warga Desa Rejasa Kecamatan Madukara.

Wanita itu pada Minggu (27/6) siang kehilangan gelang, kalung, dan cincin 30 gram dan uang Rp 500.000 akibat digendam atau diguna-guna oleh orang yang baru dikenal.

Korban baru sadar terkena gendam setelah para pelaku pergi. Seorang pelaku, Ny Turipah (43), yang mengaku orang sakti bisa ditangkap beserta barang bukti. Wanita itu kini ditahan di Mapolres.

Diperoleh keterangan, siang itu korban di depan Pasar Salak Jl Letnan Karjono didatangi dua wanita setengah baya. Dua wanita itu memperkenalkan korban kepada seorang wanita lain (pelaku-Red) yang mampu melipatgandakan uang dengan membaca mantra.

Korban dihadapkan kepada wanita yang disebut titisan seorang dewa itu. Bahkan, dia melihat sendiri wanita itu tengah membaca mantra. Selesai membaca, korban diminta menyerahkan uang Rp 10.000.

Pelaku kembali membaca mantra dan kemudian menanyakan korban akan memberikan apa lagi. Korban menjawab cuma punya Rp 20.000 sambil menyerahkan uang itu.

Dibuntuti

Korban berusaha pergi. Namun, ketiga wanita berusaha membuntuti Sarwijah yang berjalan ke utara menuju stadion. Di lokasi itu para pelaku kembali merayu sambil memperlihatkan dua bungkusan.

Bungkusan pertama ketika dibuka berisi dua buah lonjong, sedangkan bungkusan kedua dari sapu tangan berisi rajah yang ditulis di kain merah 3 x 30 cm. Tanpa sadar korban melepas dua cincin, dua gelang, dan seuntai kalung yang dia kenakan dan uang Rp 500.000.

Korban baru tersadar ketika ketiga orang itu naik sebuah mobil Carry warna gelap.

Sadar digendam, korban pun berteriak minta tolong. Warga segera mengejar para pelaku. Namun, yang tertangkap cuma seorang, yaitu wanita yang mengaku sebagai orang sakti, dua yang lainnya kabur bersama pengemudi mobil itu.

"Salah seorang pelaku masih kami periksa. Dia mengaku dari Pati, tapi tak membawa kartu identitas," Kapolres AKBP Drs Widiyanto Poesoko SH melalui Kasat Reskrim AKP Murtiyanto.

Kapolres memperkirakan, peristiwa semacam itu bukan cuma sekali terjadi di daerahnya. Biasanya korban tersadar setelah pelaku pergi jauh. Korban dibuat tak ingat wajah para pelaku, sehingga peristiwa semacam itu sulit dilacak. (A9-85e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA