logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 27 Juni 2004 BINCANG BINCANG
Line

Sang Penyebar Ilmu Musik


SM/Tresnawati

MESKI dia sudah cukup lama malang melintang di dunia musik Indonesia, namanya baru berkibar sejak dia menjadi Kepala Sekolah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Padahal perjalanan bermusiknya sebenarnya sungguh luar biasa. Selain mengajar dan menghasilkan banyak musikus ataupun penyanyi berkualitas, Tamam Hoesein adalah pencari bakat bertangan dingin.

Belajar main piano sejak berumur empat tahun, dia kemudian melanjutkan belajar kepada musikus jaz senior, Buby Chen, setelah menyelesaikan SMA pada 1969. Selepas berguru pada Buby, dia pun kemudian berkelana ke berbagai negara untuk melakukan tur musik. Pada 1972 dia melakukan perjalanan musik ke Singapura, Filipina, Hong Kong, Okinawa, dan Guam. Berbagai festival dia ikuti. Hasilnya? Dia menyabet juara South East Asia Electone Festival di Hong Kong (1975) serta International Electone Grand Prix Concours di Jepang pada tahun sama.

Pada 1976 dia mulai belajar Music Education System for Children di Tokyo dan menyelesaikan studi di Nemu Music Academy di Tokyo pada 1978. Di sela studinya, dia menjadi juri di World Pop Song Festival di Tokyo pada 1977. Sebelum berangkat ke Jepang, Tamam telah bergabung dengan Yamaha Musik Indonesia. ''Obsesi saya memang menyebarluaskan ilmu musik. Ternyata hampir semua akademia tidak tahu teori musik. Padahal itu modal utama. Saya punya obsesi menyebarluaskan ilmu ini ke sebanyak mungkin orang,'' tutur Tamam yang menikah dengan Wahyuningsih (Iwu) pada 1972 di Surabaya itu.

Di Yamaha Musik Indonesia dia kemudian bersahabat dengan Prof Watanabe dan Yazid Jamin. Bertiga mereka melakukan talent scouting, mencari bakat-bakat di dunia musik. ''Murid saya antara lain Stephen 'Warna' dan Andi Riyanto,'' tuturnya mengenai dua nama kondang di dunia musik yang memang tengah menanjak namanya.

Stephen adalah salah satu vokalis kelompok Warna yang juga lahir dari tangan dinginnya. Kini Warna telah menghasilkan empat album. Salah satu personelnya adalah Nina, putri sulungnya. Sementara itu, Andi Riyanto tengah populer dengan grup orkestranya, Magenta, selain jadi seorang arranger andal. Warna bahkan sempat keluar sebagai juara di The 3rd International Philippine Song Writing Competition pada 1998 sebelum mengeluarkan album perdananya.

Sayang kedua sahabatnya itu kemudian meninggal dalam waktu yang tidak terlalu lama. ''Dua bulan setelah Prof Watanabe meninggal, Pak Yazid juga meninggal. Saya lalu keluar dari Yamaha. Kalau tidak keluar, jangan-jangan saya menyusul mereka. Setelah itu saya hanya bekerja sebagai tenaga pengajar kontrak saja,'' cerita pria kelahiran Bondowoso, 9 September 1950 itu.

Bukan berarti dia lalu berhenti bermusik dan mengajar. Tamam masih terus berkarya dan juga ikut berbagai festival. Dia juga tampil di acara CBS yang tidak jauh beda dari AFI sekarang. ''Saya tampil di acara International Star Search di CBS yang acaranya juga mencari bintang semacam AFI begitu,'' tuturnya mengenai penampilannya di Los Angeles, Amerika Serikat itu.

Sepanjang 1998-2000, Tamam tampil di acara SLI 008 di RCTI sebagai pengisi acara.

Obsesi

Ketika ditanya apa obsesinya sekarang, Tamam mengungkapkan keinginan --yang mungkin juga menjadi dambaan banyak musikus Indonesia. ''Saya kepengin nama Indonesia berkibar terus di televisi, di panggung, di mana saja asalkan di forum internasional. Seperti Michael Jackson yang mendunia. Seperti Anggun C Sasmi. Apa pun yang diperbuat Anggun, dia membawa nama artis Indonesia. Kita harus punya reputasi internasional,'' ungkap bapak tiga anak itu.

Dia kemudian mencontohkan musisi jaz Indonesia yang cukup punya nama di dunia internasional. ''Di dunia jaz, kita punya Bubby Chen, almarhum Embong Raharjo, almarhum Mas Maryono. Mereka cukup punya nama di dunia internasional,'' ujarnya.

Indonesia saat ini memiliki AB Three yang sering manggung di panggung-panggung internasional. Juga Krakatau yang kerap berkeliling dunia. Warna juga pernah menjadi juara di festival Filipina pada 1998 sebelum rekaman. ''Saya kepengin banyak orang Indonesia seperti ini,'' tandasnya.

Dia kemudian membandingkan kondisi Indonesia dengan Jepang. ''Saya pernah bersekolah di Jepang. Banyak usaha yang dilakukan untuk menyejajarkan artis Jepang dengan artis luar. Saya pernah nonton Sherly Basey Show di Tokyo, saat di tengah-tengah lagu, interlude, panggung gelap Sherley keluar panggung, masuk penyanyi Jepang meneruskan lagu. Suaranya sama tapi yang menyanyi orang Jepang. Itu satu upaya yang dikerjakan untuk mengangkat nasionalisme untuk membuka mata internasional bahwa orang Jepang pun mampu,'' urainya.

Di World Song Festival di Budokan, Tokyo, juga selalu ada juara Jepang dan non-Jepang atau internasional, karena mereka ingin menstimulasi orang Jepang. Di international forum ini bisa saja juaranya orang Jepang. Namun yang di Japanese forum ini tentu saja harus orang Jepang yang menjadi juara.

''Karena itu, mereka diluncurkan bareng. Itu upaya untuk meningkatkan nasionalisme, kualitas, harga diri para musikus. Meski begitu, mereka tidak meninggalkan budaya Jepangnya,'' tuturnya.

Meski dia punya kesibukan luar biasa sebagai pengajar dan musikus, hubungan dengan istri dan anak-anaknya selalu hangat. Dari tiga anaknya, Nina, Tessa, dan Nana, memang hanya si sulung yang mengikuti jejaknya di dunia musik. ''Anak kedua saya seorang arsitek. Yang bungsu alumnus Komunikasi Massa dan sekarang menjadi produser untuk film-film iklan,'' ungkapnya.

Bagaimana dia membina komunikasi dengan tiga putrinya? ''Kebetulan di rumah saya selalu melakukan komunikasi dua arah dengan anak-anak. Sejak kecil saya mengajarkan supaya bicara dan protes pada apa yang mereka rasa tidak nyaman. Saya mendengar hal itu sebagai teman, partner, bukan orang tua. Saya juga selalu memberikan masukan, termasuk pada Nina. Dia pun menerima masukan saya. Kebetulan di rumah kami melakukan itu,'' ujarnya. (Tresnawati-72j)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA