logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Juni 2004 OLAHRAGA
Line

EURO

''Gol Keju'' Masih Disesali Jerman

DEN HAAG-Sampai kemarin, Jerman masih menyesali gol Belanda yang dilesakkan Ruud van Nistelrooy pada menit ke-81. Gol itu mereka sebut terjadi gara-gara dieses dumme Kase-Tor (lubang keju yang tolol).

Penyesalan seperti itu disemburkan De Bild yang mengiris dua sisi sekaligus: mengejek Belanda yang terkenal dengan produk keju berlubang-lubang dan mengkritik Kahn.

Tendangan one touch Van Nistelrooy dari umpan samping yang mematikan antisipasi kiper, ditamsilkan sebagai lubang ala lubang keju. Gol Van Nistelrooy adalah ''gol keju'' yang buruk rupa, bolong-bolong dan Kahn adalah termasuk bagian dari bolong-bolong itu. Dieses dumme Kase-Tor.

Lapisan pertahanan Jerman ternyata kedap dan kuat seperti baja. ''Persekongkolan'' bek mereka yang tangguh dengan penjaga gawang berciri line keeper seperti Kahn, sangat sulit ditembus dari depan. Kahn baru bisa ditaklukkan dari samping, karena itu adalah kelemahannya dan itu terjadi pada menit ke-81.

Penampilan Jerman dengan taktik blitzkrieg, yang mengkopi operasi militer mereka di Perang Dunia II, memang layak membuat pers mereka berbunga. "Europa, da sind wir wieder, Eropa, kami hadir kembali!" seru De Bild, sebelum akhirnya terjadi ''gol keju'' itu.

Tumpul

Serangan-serangan balik mereka mirip gempuran pasukan tank yang nyaris menggilas seluruh lini Belanda. Ini terjadi karena dua cakar pasukan Singa Oranje, yang menjadi senjata utama sistem 4-3-3, ternyata tumpul. Koneksi antarlini, terutama lini bawah ke sayap, mengalami kelumpuhan. Baik Zenden (kiri) maupun Van der Meyde (kanan) sering gagal menjangkau Van Nistelrooy. Akibatnya dicari kompensasi dengan duel-duel di lini tengah, yang justru Jerman sangat perkasa.

Jika sayap Singa Oranje bisa berfungsi sesuai skenario, tim manapun akan kerepotan. Konsentrasi mereka akan tersedot untuk bertahan, sehingga tidak punya kesempatan membangun serangan. Terbukti, ketika di babak kedua Overmars diturunkan (menggantikan Zenden yang loyo), Jerman amat tertekan, sehingga akhirnya berbuat kesalahan. Si belia Sneijder juga menghidupkan lini tengah yang makin mempertajam serangan.

Duel pertama Belanda vs Jerman di grup D itu menunjukkan Jerman tidak selemah seperti semula dibayangkan. Tim ini tetap berbahaya dan masih punya potensi menjadi juara. Jerman terutama unggul dari sisi disiplin, organisasi dan semangat bertempur.

Sebaliknya singa-singa Oranje juga terlihat belum sepenuhnya klaar, belum siap. Cakar kiri dan kanan masih perlu dipertajam. Kekurangsiapan itu disebabkan cedera yang dialami Overmars dan Arjen Roben (dibeli Chelsea dari PSV). Faktor ini pula yang memaksa Advocaat memodifikasi sistem ke semi 4-4-2 dalam babak kualifikasi, sebab tanpa ada pemain cakar murni sistem 4-3-3- tidak akan jalan.

Toh banyak orang tak mau peduli dengan situasi dapur Oranje, bahkan dari kalangan rakyat Belanda sendiri. Advocaat dikecam sebagai terlalu banyak gonta-ganti sistem, sehingga sampai babak final ini belum ada formasi tetap yang berdampak pada munculnya ketidakpastian. (dtc-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA