| Jumat, 18 Juni 2004 | OLAHRAGA |
EUROEtos BolaSEPAK BOLA itu simbolik seperti juga wayang. Oliver Kahn, kiper Jerman yang sudah jadi legenda, tidak bisa dibilang egois ingin menguasai bola sendiri bila dia menangkap semua bola yang mengarah ke gawangnya. Inilah yang dimaksud Presiden Megawati ketika menjelaskan kenapa nyalon lagi jadi presiden dalam Pilpres 2004 ini. Itu juga yang diutarakan oleh Wiranto, SBY, Amien Rais serta Hamzah Haz. Mereka menguasai bola seperti Ruud van Nistelrooy, untuk ditembakkan ke gawang Jerman atau untuk dioperkan kepada rekan setimnya. Seperti ungkapan dalam Serat Wedhatama, Ballack mesti legawa (lamun kelangan nora gegetun) menendang bola ke arah Bobic agar yang kedua ini bisa menyarangkannya ke gawang Edwin van der Saar. Bayangkan kalau Ballack seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU). Semua diurus sendiri. Dari pengadaan kertas, kotak, sampai segala macam. Apa bisa dibilang itu rame ing gawe sepi ing pamrih?. "You can not win all man!" Bahkan Hariman Siregar bilang tidak berlebihan bila orang menuduh "KPU maling!". Lain kan dengan Rahwana, yang segala macam kesaktian ingin dikuasai sendiri. Semua putri cantik dimiliki sendiri. "Kalau saja Dick Advocaat sudah ada pada waktu itu, pasti Rahwana bisa ikut latihan "oper-operan bola" agar tidak egois bin egosentrik. Inilah etos, moral di belakang oper-operan bola yang terkadang amat njelimet itu. Di belakang ada metafisikanya. Coba bayangkan, satu bola diperebutkan 22 orang kok tidak habis-habis?! Disiplin "menerima dan memberi" amat diperlukan dalam bermain bola; sesuatu yang perlu diajarkan kepada para perunding politik di negeri kita ketika melakukan konsolidasi dukungan bagi calon-calon presiden, bahkan ketika (diam-diam) merekrut calon-calon menteri kabinet mereka yang bakal loyal sejak pencapresannya. "Take & give"-lah. Tidak hanya ambil melulu. Itu serakah namanya. Lha sepak bola kan melatih kita untuk "murah hati"? "The more you give, the more you get". Inilah "lesson learned" yang bisa kita peroleh kalau nonton bal-balan Euro 2004. Apalagi kalau nonton Jerman lawan Belanda yang sudah melegenda sejak 1974, ketika Franz Beckenbauer melawan Johan Cruyff dan dimenangi Jerman sekalipun dalam hal permainan Belanda jauh lebih cantik dengan "total football"-nya. Jerman yang amat disiplin - membuat mereka bangkit setelah dikalahkan dalam Perang Dunia II - memang amat efektif-efisien dalam bermain. Eyang Parto langsung membantah kalau Belanda tidak disiplin. "Belum pernah mengalami zaman enak sih. Zaman Belanda itu semua ambtenaar disiplin. Tidak ada korupsi. Tidak perlu nyogok. Korupsi tu kan sesudah kita merdeka. Masing-masing mau enak kepenak. Lupa melik nggendhong lali!. Memang sih, para satria Jawa juga latihan disiplin yang kuat seperti tirakat, tetapi lebih untuk menerima wahyu atau pulung. Untuk memeroleh total berkah dari Yang Illahi - sampai-sampai tidak menyisakan kekuasaan bagi yang lain. Mereka melupakan ajaran Sosrokartono untuk sugih tanpa bandha (bahkan memelesetkannya dengan jajan tanpa mbayar). Panggilan Bagi Dick Advocaat, menjadi pelatih barangkali adalah "panggilan", lebih dari sekadar potensi plus peluang. Ada yang amat spiritual dimensinya, seperti ketika Musa dipanggil Tuhan untuk membebaskan Israel dari kekuasaan Pharaoh. Panggilan adalah bagian yang amat penting dalam tegaknya etos (tidak cuma dalam bal-balan saja). Bagi orang Jawa khususnya, timur umumnya, sejak lahir sesungguhnya manusia itu sudah kuyup berkah. Bayi yang tak berdaya sudah dilindungi Tuhan sejak dikandungan, dilahirkan dan ditumbuhkan dan... Karenanya setiap orang membawa amanah Allah. Orang Jawa bilang setiap orang membawa darmanya masing-masing, yang harus mereka sempurnakan sepanjang hidup. Karena lemah, mereka perlu selalu "eling", selalu beribadah. Main bola adalah bagian tak terpisahkan dari etos "melaksanakan darma" ini agar berkat dan martabat manusia bisa terjaga. Bayangkan apa yang bakal terjadi kalau Euro tidak ada, World Cup tak ada, Olimpiade nggak ada - manusia akan perang, perang dan perang! Sekalipun etos main bola, eh, kerja Jawa itu amat religius, namun tak sedikit di antara mereka yang "melik nggendhong lali". Dalam main bola melakukan "sliding tackle" yang membahayakan nyawa orang. Ruud Gullit yang luar biasa itu terpaksa "pamit pensiun" karena kecelakaan yang semacam ini. Yang tidak etislah. Itulah sebabnya, Jawa juga mengajarkan segala sesuatu mestilah samadya. Aja ngaya-aya (mundhak gelis tuwa, seru anak-anak Sampangan): Bersemangat ya bersemangat, tapi ingatlah ujar Ki Ageng Soerjomentaram: "Di bawah langit, di atas bumi, tidak ada sesuatu yang harus dicari mati-matian atau dihindari mati-matian!". Ini bukan ajaran nrima ing pandum, tetapi etos kehidupan "bebas stres". Ujar Haosiang itu: "Kalau belum bisa bikin sepeda, ya jalan kaki. Kalau belum bisa bikin motor, ya naik sepeda." Lho? Ini bukan sekadar efisiensi, ini politik kehidupan. "Jangan menertawakan anak-anak Tambran kalau mereka main bola dengan gulungan kain perca!". Darmanto Jatman, budayawan, tinggal di Semarang (77) |