logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Juni 2004 WACANA
Line

AFI, Tia, dan Fenomena Mediatika

- Ketika dua pejabat puncak di dua kota, Solo dan Semarang, tampak intens terlibat dalam keriuhan dukung-mendukung akademia Tia, apa yang sesungguhnya tersirat dari semua itu? Wali Kota Slamet Suryanto dan Sukawi Sutarip berkesan memberi dukungan formal kepada grandfinalis Akademi Fantasi Indosiar (AFI) 2 itu melalui pernyataan dan bantuan-bantuan material. Akademia asal Solo itu, Sabtu malam besok akan tampil untuk berebut gelar juara bersama akademia dari Jakarta, Micky, dan Haikal dari Medan. Bagaimana kontes dengan titik berat menyanyi di sebuah reality show televisi itu mampu sedemikian besar menyedot perhatian publik, bahkan menggerakkan partisipasi masyarakat dalam berbagai bentuk pemberian dukungan?

- Perhatian publik dan ketergerakan massa. Inilah nilai lebih AFI yang telah melembaga sejak seri pertama dipergelarkan. Lewat short message service (SMS), masyarakat mengirimkan dukungan untuk akademia yang dijagokan. Siapa pun yang SMS-nya paling rendah, akan tersingkir melalui konsep eliminasi pada setiap pekan. Adapun pengumpul SMS terbanyak di babak final akan menjadi juara. Komentar dari para juri yang memberi penilaian plus-minus dalam setiap penampilan akademia pada tiap Sabtu malam, agaknya lebih banyak menjadi bahan serapan bagi pembinaan diri anak-anak muda itu. Sementara itu pengaruhnya bagi para pengirim SMS bisa jadi tidak terlalu signifikan. Dengan pola dukung-mendukung via SMS, yang terpenting adalah bagaimana mobilisasi massa.

- Pada AFI 1, kemenangan Veri Affandi juga dinilai lebih banyak karena kesuksesan mobilisasi, ketika "hati" lebih berbicara ketimbang fakta teknis. Peran media terasa begitu besar untuk memanggungkan Veri sebagai pribadi yang paling patut mendatangkan rasa iba ketimbang akademia lainnya. Para pejabat di Langkat dan Sumatra Utara memberi dukungan penuh kepada Veri. Hal itu tentu memberikan pengaruh dalam peningkatan SMS yang masuk. Aspek mobilisasi massa dalam AFI 2 juga semakin terasa, dan ini tentu setelah belajar dari pengalaman AFI 1. Misalnya, bagaimana orang tua seorang akademia membagi-bagikan voucher untuk mempertinggi kiriman SMS, demikian juga yang sekarang kita saksikan dalam fenomena Tia di Jawa Tengah.

- AFI hakikatnya adalah fenomena industrial dengan medium televisi, ditopang oleh media massa cetak dalam pola simbiosis mutualisme. Ada saling butuh demi kepentingan industri pada tiap-tiap pihak. Sukses AFI memberi pengaruh dalam kebijakan pemberitaan media cetak. Sebab, koran-koran dan majalah pun ikut menangguk keuntungan dari fenomena ini. Katakanlah ini merupakan tren mediatika. Media membutuhkan ketokohan, figur yang digandrungi, dijadikan simbol, dan terus-menerus dibicarakan publik untuk dieksplorasi ke wilayah blow up. Apalagi dengan kesadaran AFI mampu menembus sekat-sekat sosial-politik-ekonomi, dan stratifikasi usia. Fenomena itu bahkan belum berhasil disepadani oleh acara-acara serupa di televisi yang lain.

- Kalau seorang pucuk pimpinan daerah sampai merasa perlu memberikan perlakuan khusus terhadap fenomena ini, pertimbangannya bisa memasuki banyak wilayah. Kebanggaan daerah, itu yang utama. Tia menggunakan label akademia hasil audisi Semarang, tetapi ada fakta lain bahwa gadis bernama panjang Theodora Meilani Setyawati itu lahir dan tinggal di Solo. Bukankah suatu kelompok masyarakat membutuhkan simbol, representasi, dan inspirasi untuk menumbuhkan sentuhan-sentuhan kebanggaan? Wilayah ini bisa dengan baik ditangkap dengan suatu "dukungan politik", dan sebaliknya akan memberi nilai tambah bagi seorang pemimpin yang membutuhkan "dukungan politis" karena dinilai mengerti, menghargai, dan peka terhadap denyut nadi masyarakat.

- Terlepas dari semua itu, yang terpenting, unjuk kemampuan Tia harus diapresiasi sebagai sebuah prestasi. Kalaupun ada yang menilai AFI terpola secara industrial sebagai ajang mencari entertainer instan, kita justru melihatnya sebagai katarsis yang memadai bagi anak-anak muda untuk menggapai impian. Persoalannya bisa disederhanakan, yakni keniscayaan kepentingan industri, tren mediatika, dan pengembangan bakat bergandeng tangan menuju ke pola pencarian jati diri melalui ajang berekspresi. Akankah bakat seperti Veri, Kia, Tia, Haikal, atau yang lain bisa mendapat peluang seperti sekarang andai tidak menemukan forum representatif? Ini justru fenomena yang idealnya memotivasi para pemilik bakat di banyak bidang untuk tidak ragu-ragu berkarya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA