logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Juni 2004 WACANA
Line

Kinerja Perbankan dan Ancaman Kenaikan Bunga

- Boleh dikatakan kinerja perbankan di Indonesia masih memprihatinkan, terutama jika dikaitkan dengan kemampuannya menyalurkan kredit kepada dunia usaha. Saat ini angka Loan to Deposit Ratio (LDR) masih berkisar 45 persen. Dan itu relatif rendah karena berarti fungsi intermediasi perbankan belum kembali normal. Bahkan menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Anwar Nasution, bukan bank namanya kalau tidak memiliki kemampuan menyalurkan kredit seperti itu. Kalau dilihat lebih jeli, dari 45 persen yang sudah tersalurkan, sebagian besar lari ke sektor-sektor konsumtif. Sektor riil, khususnya industri, belum banyak menerima suntikan modal perbankan sehingga laju peningkatan produktivitas secara nasional masih akan tetap rendah.

- Bukannya perbankan tak mau menyalurkan kredit ke sektor riil, melainkan dunia usaha itulah yang belum kembali memiliki daya serap. Mereka sebagian besar masih ragu-ragu, bersikap wait and see sehingga kelebihan likuiditas bank lebih banyak yang dilarikan ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau Fasilitas Bank Indonesia (Fasbi), obligasi, dan valuta asing. Kondisi ini jelas tidak ideal dan kurang sehat. Juga akan berdampak negatif bagi dunia perbankan di samping tentu mengecilkan harapan perbaikan pada tingkat makro. Mengapa sampai terjadi demikian? Banyak faktor, selain keraguan dunia usaha, juga perbankan sekarang amat selektif dan berhati-hati mengeluarkan kredit mengingat pengalaman traumatik masa lalu dengan kasus-kasus kredit macetnya.

- Penurunan suku bunga bank sebenarnya sudah sangat mencolok dan itu didorong oleh kenaikan suku bunga SBI yang merupakan salah satu instrumen bank sentral dalam memengaruhi pasar uang. Masalahnya ternyata tidak hanya itu. Dengan bunga sekecil apa pun, kalau dunia usaha kurang kondusif, maka tetap saja sulit menyalurkan kredit. Sebaliknya, bunga yang relatif tinggi seperti pada masa lalu tidak menjadi masalah asal tetap dianggap wajar sebagai cost of fund serta tidak memengaruhi prospek pemasaran dan daya saing. Namun di sisi lain kita juga tak bisa memungkiri kenyataan bahwa bunga kredit di Indonesia masih relatif tinggi dan tak serta-merta bisa turun setajam suku bunga deposito atau simpanan lainnya.

- Walaupun bunga simpanan di bank sudah sangat rendah, yakni di bawah 5 persen, bunga pinjaman masih belasan persen. Biaya intermediasi yang begitu tinggi merupakan indikasi bahwa kondisi perbankan di Indonesia belum sehat. Kelaziman di negara maju, biaya intermediasi hanya sekitar tiga persen. Jadi walaupun tadi dikatakan besarnya suku bunga bukan merupakan faktor penentu bagi prospek investasi dan daya saing, hal itu bukan berarti kita tak perlu menjaga stabilitas bunga rendah. Bagaimanapun situasi sekarang sudah cukup baik dan tinggal menjaganya. Soal belum banyak kredit yang dikeluarkan, itu terkait dengan faktor kepercayaan dan juga situasi makro seperti kepastian politik dan ekonomi, selain perkembangan di pasar global.

- Belum sempat dunia usaha merasakan rendahnya suku bunga, terlihat dari rendahnya angka LDR, sekarang sudah muncul ancaman kenaikan bunga lagi. Penyebabnya apalagi kalau bukan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang akan menaikkan suku bunga Fed fund. Kenaikan bunga Federal Reserve sebesar 100 poin saja akan bisa mendorong kenaikan bunga SBI sampai dua persen. Dan itu bisa berlanjut kalau tidak segera ada penyesuaian di pasar. Artinya, ancaman kenaikan bunga itu benar-benar ada. Suku bunga deposito bisa bergerak naik dan tentu akan disusul kenaikan bunga kredit. Dalam situasi demikian, tantangan perbankan untuk menaikkan kinerja, terutama dalam meningkatkan penyaluran kredit, akan semakin berat.

- Mungkin saja kenaikan itu tak akan bisa terhindarkan mengingat faktor global akan langsung berpengaruh ke pasar uang domestik. Masalahnya bagaimana menahan agar tidak tergesa-gesa menaikkan suku bunga SBI. Kalau itu terpaksa, ya apa boleh buat. Kita tak perlu berkecil hati, sebab seperti diungkap dalam tesis di atas, besarnya suku bunga bukanlah faktor terpenting bagi peningkatan investasi. Maka yang lebih penting adalah perbaikan kondusivitas usaha agar sektor bisnis bisa segera bergerak. Kalau sudah bergerak otomotis kebutuhan dana perbankan akan meningkat. Sampai sekarang alternatif yang paling banyak dipilih untuk pendanaan investasi tetaplah bank, kendati peranan pasar modal juga sudah semakin signifikan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA