logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Juni 2004 KEDU & DIY
Line

Mencari Cacing Demi Keluarga

DUA tahun lebih Sunardi (25) warga Dusun Sorogenen RT 6 RW 3 Desa Menayu Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang mencari nafkah dengan mencari cacing sutra (Tubifex tubifex) di saluran irigasi Kali Bening Kota Magelang. Dengan bekerja dari pukul 08.00-12.00 WIB dia memperoleh penghasilan Rp 40.000-Rp 50.000 per hari. Pekerjaan yang dianggap menjijikkan oleh sebagian orang itu mampu memberinya kekuatan menyiapkan masa depan.

Dalam sehari bekerja Sunardi bisa mendapatkan 8-10 takar cacing (1 takar=1 tutup termos-Red). Tiap takar dijual ke tengkulak Rp 4.000. ''Selain dijual, cacing-cacing ini untuk pakan bibit lele yang saya pijah sendiri,'' katanya.

Jadi, selain mendapatkan uang dari hasil menjual cacing, dia juga memperoleh uang dari menjual bibit lele. Dari bibit lele, dia menangguk keuntungan Rp 3.000-Rp 15.000 dalam sekali pembibitan. Waktu yang diperlukan untuk sekali pembibitan sekitar dua puluh hari. ''Ya, hasilnya sedikit wong saya hanya punya satu kolam berukuran 3 x 4 meter,'' ujarnya.

Lelaki tamatan sekolah dasar itu mengungkapkan, pekerjaan utamanya adalah mencari cacing, sedangkan memijahkan lele hanya menjadi pekerjaan sampingan.

Dulu dia hanya menjadi buruh pencari cacing yang bekerja kepada tetangganya yang kaya. Penghasilannya kala itu hanya Rp 10.000/hari. Kebutuhan hidup mengharuskan dia bekerja mandiri. Karena itu, lalu dia memutuskan tidak lagi bekerja pada orang lain.

Sunardi tidak seorang diri. Bersama beberapa tetangganya dia mengakrabi saluran irigasi di Kecamatan Magelang Selatan itu. Berangkat dari Muntilan sekitar pukul 07.00. Sejam kemudian, suami Siti Aminah itu memarkir motornya di tepi irigasi, tepatnya di depan Taman Kyai Langgeng Magelang. Kemudian, lelaki itu turun ke saluran air sambil membawa peralatannya. Sebuah ayakan kasa strimin, sebuah ayakan dari panci plastik, dan sebuah ember.

Mula-mula dia mengais sampah dan lumpur, lalu dimasukkan ke dalam ayakan panci plastik. Ayakan kasa strimin ditempatkan pada air sambil dipegangi agar tidak tenggelam. Selanjutnya ayakan panci plastik berisi sampah dan lumpur itu dimasukkan ke dalam ayakan strimin. Digoyang-goyang sesaat. Cacing, sampah halus dan lumpur dari ayakan panci plastik masuk ke dalam ayakan kasa strimin. Sampah kasar yang tertinggal dibuang. Kemudian ayakan strimin digoyang-goyang, yang tersisa hanya sampah halus dan cacing. Keduanya lalu dimasukkan ke ember berisi air.

Siap Dijual

Sesampai di rumah, campuran cacing dan sampah halus itu dimasukkan ke dalam bak plastik besar berisi air. Setelah tiga jam, sampah dan cacing akan terpisah. Sampah mengendap di dasar bak, dan cacing membentuk lapisan di atasnya. Dengan mudah cacing dapat diambil dan siap dijual.

Apa harapan masa depan lelaki itu? ''Kalau ada uang lebih akan saya simpan. Saya ingin memperhatikan pendidikan putri saya,'' tandasnya.

Rumah kampung berdinding tembok di tengah Dusun Sorogenen yang dia tempati menjadi saksi bahwa dia bisa menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Bersama istri dan Kurniawati sang buah hati, dia hidup berbahagia. (Tri Widayat-76e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA