logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Juni 2004 INTERNASIONAL
Line

Invasi ke Irak Dianggap Salah

  • Times Desak Bush Minta Maaf

WASHINGTON - The New York Times, koran paling berpengaruh di AS, Kamis kemarin menyerukan Presiden George W Bush agar meminta maaf kepada rakyat Amerika atas ulahnya menginvasi Irak.

Sebab, kata koran itu, pengusutan terhadap aksi kamikaze 11 September 2001 - oleh suatu komisi khusus - menunjukkan pemerintahan Presiden Saddam Hussein (yang digulingkan lewat invasi tersebut) tidak terbukti terkait dengan Al Qaedah.

''Presiden Bush harus meminta maaf kepada rakyat Amerika, yang dia giring untuk mempercayai sesuatu pandangan yang belakangan ternyata keliru,'' tulis The Times, dalam tajuknya.

''Dengan berbagai cara, Tuan Bush membujuk rakyat Amerika untuk mendukung invasi terhadap Irak, tahun lalu. Kebohongan yang paling nyata adalah, dia menyebut invasi itu sebagai pilihan untuk memerangi terorisme di seluruh dunia.''

Kamis kemarin, sebuah panel yang mengusut kasus 11/9 dengan tegas menyebutkan ''tidak ada bukti nyata'' Irak telah membantu Usamah bin Ladin, pimpinan Al Qaedah, dalam menyerang AS. Juga tak ada tanda-tanda adanya kaitan antara Bagdad dan kelompok tersebut.

Kesimpulan panel itu merupakan pukulan terbaru terhadap upaya Bush mencari pembenaran menggulingkan rezim Saddam. Sebelumnya, tudingan bahwa Saddam memiliki senjata kimia, kuman, dan nuklir (sehingga harus disingkirkan) juga tidak pernah terbukti hingga saat ini.

''Perang melawan teror yang dikobarkan Bush telah mengakibatkan munculnya konflik di Irak,'' tulis Times. Bush, kata harian itu, bertanggung jawab atas tindakan-tindakan Pemerintah AS sejak aksi 11/9.

''Tindakan tidak bertanggung jawab itu termasuk menjual informasi yang salah kepada rakyat Amerika dan dunia mengenai Irak, yang diklaim terkait dengan Al Qaedah.''

Rencananya 10 Pesawat

Sementara itu, komisi penyidik 11/9 juga mendapati Al Qaedah semula merencanakan pembajakan 10 pesawat komersial domestik AS untuk menyerang berbagai sasaran di Amerika.

Komisi gabungan tersebut mengumumkan penemuan-penemuannya dalam rapat dengar pendapat dua hari di Washington, Kamis kemarin.

Komisi mengatakan Khalid Sheikh Mohammad, otak utama penyerangan, merencanakan pembajakan sembilan pesawat yang akan ditabrakkan ke markas FBI dan CIA, Pentagon (departemen pertahanan), Gedung Putih (pusat pemerinthan), sejumlah PLTN, dan bangunan-bangunan tinggi di Negara Bagian California dan Negara Bagian Washington.

Mohammad ditangkap pada Maret 2003 di Pakistan dan kemudian diserahkan kepada pihak berwenang AS.

Satu pesawat lain, yang akan dikemudikan sendiri oleh Mohammad, akan mengontak berbagai media, membunuhi seluruh penumpang pria, dan mengecam AS sebelum akhirnya mendarat dan membebaskan para penumpang wanita serta anak-anak.

Rencana semula juga memasukkan pembajakan sampai lebih 12 pesawat di kawasan Asia Tenggara, namun Usamah membatalkannya karena menilai akan sangat sulit mengkoordinasikan operasi di dua benua sekaligus.

Usamah juga mengurangi jumlah pesawat yang bakal dibajak, menjadi hanya menjadi empat pesawat, yang akhirnya benar-benar dilaksanakan dalam serangan kamikaze pada pagi hari waktu AS, tanggal 9 September tahun 2001.

Dua pesawat komersial domestik bajakan dihantamkan ke gedung kembar WTC bertingkat 110 di New York, sehingga meruntuhkan bangunan tersebut dan menewaskan 3.000 orang, satu ke Pentagon (hanya mendatangkan kerusakan kecil), dan satu lagi - yang diduga akan dihujamkan ke Gedung Putih - jatuh di Pensylvania.

Diduga, pesawat yang keempat itu jatuh karena ada perlawanan dari para awak dan penumpang pesawat. Tetapi, beberapa pekan lalu tersiar desas-desus bahwa pesawat tersebut sengaja ditembak jatuh pesawat tempur AS guna menggagalkan serangan kamikaze ke Gedung Putih (tempat Presiden Bush menetap). (rtr-ant-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA