| Jumat, 18 Juni 2004 | EKONOMI |
Kenaikan Bunga SBI Tekan RupiahJAKARTA- Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) jangka satu bulan dari 7,33% menjadi 7,34% sebagai reaksi atas rencana The Fed (bank sentral AS) menaikkan suku bunga, memperberat tekanan terhadap rupiah. Kemarin rupiah ditutup melemah tujuh poin pada posisi Rp 9.402/dolar AS dari sebelumnya pada level Rp 9.395/dolar AS. Di pasar spot antarbank Jakarta, rupiah terus melemah sejak dibuka pada Rp 9.421/dolar AS. Selain terpengaruh rencana The Fed menaikkan suku bunganya 25 basis poin (0,25%) sehingga mendorong investor memegang dolar AS, di dalam negeri belum ada sentimen positif yang bisa mendongkrak rupiah. Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengemukakan, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini tidak akan mengarah pada krisis moneter sebagaimana terjadi pada 1998. ''Kondisi ekonomi Indonesia pada awal krisis berbeda dari kondisi ekonomi pada saat ini,'' ujarnya. Menurut pandangan dia, saat awal krisis kondisi internal perekonomian, kapasitas kelembagaan, dan pelaku ekonomi tidak sekuat pada saat ini. Pada awal krisis 1998, cadangan devisa Indonesia tidak lebih dari 18 miliar dolar AS sedangkan jumlah utang jangka pendek lebih dari 30 miliar dolar AS. Cadangan devisa Indonesia, lanjut dia, kini 36 miliar dolar AS dan utang luar negeri jangka pendek hanya 2,33 miliar dolar AS. Pada sektor perbankan, rata-rata rasio kecukupan modal (CAR) sekarang secara nasional di atas 20%, sedangkan pada saat krisis hanya 8%. Dia menilai wajar ada kekhawatiran masyarakat bahwa krisis ekonomi akan terjadi lagi karena depresiasi rupiah. Pengalaman akibat krisis masih terbayang. Gejolak nilai tukar telah menghancurkan sendi kehidupan ekonomi kita. ''Untuk menghindari gejolak nilai tukar yang berkepanjangan, BI akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya,'' ujarnya. Turun Tipis Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) ditutup menurun tipis 7,750 poin pada posisi 700,137. Penurunan dimotori oleh keanjlokan saham-saham unggulan dan perbankan seiring dengan rencana BI menaikkan suku bunga SBI secara bertahap. Perdagangan mencatat transaksi 5.825 kali pada volume 773,208 lot saham senilai Rp 421,732 miliar. Dua puluh dua saham naik harganya, 65 saham turun dan 299 saham stagnan.(wa-53j) |