logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Juni 2004 SALA
Line

Seismograf Bisa Menjadi Objek Wisata

AKTIVITAS Gunung Merapi beberapa pekan ini dilaporkan aktif normal. Cuaca pun cerah dan curah hujan berkurang. Itu berarti gunung dalam kondisi aman, tidak ada tanda-tanda bakal murka.

Warga di berbagai desa di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, pun tenang. Mereka beraktivitas sebagaimana biasa.

Namun aktivitas gunung tak selamanya aktif normal. Curah hujan tinggi di kawasan Gunung Merapi bisa mengakibatkan kemunculan lahar dingin yang menimbulkan letusan. Karena itu, warga di kawasan tersebut seyogianya setiap saat waspada.

Untuk mengetahui tanda-tanda status Gunung Merapi di Desa Samiran, Kecamatan Selo, dipasang seismograf untuk merekam getaran gempa. Camat Selo Drs Luwarno menyatakan seismograf sangat penting untuk memantau aktivitas gunung.

Dalam kondisi apa pun gunung harus terus dipantau. Jadi ketika keadaan membahayakan, warga masyarakat bisa segera diberi tahu.

Seismograf juga bisa digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan.

Karena itu kalangan pelajar di Kecamatan Selo telah diminta melihat kegiatan gunung melalui alat itu. Siesmograf yang dipasang Pos Urusan Gunung Api Desa Samiran juga dilengkapi dokumentasi Gunung Merapi dan Merbabu.

''Ini dapat menjadi daya tarik tersendiri sebagai objek wisata di Kecamatan Selo,'' kata Luwarno.

Dilaporkan

Pos Urusan Gunung Api berada di sebelah barat lapangan Kecamatan Selo. Kawasan berbukit itu berada di ketinggian 1.650 di atas permukaan laut. Suhu udara sangat dingin. Untuk mencapai lokasi itu, kita harus mendaki selama 15 menit.

Yulianto, pengamat Gunung Merapi, menuturkan pemantauan Gunung Merapi tak pernah terhenti. Petugas bergiliran mengamati dan melaporkan ke Kantor Vulkanologi Yogyakarta. Apa pun status gunung tetap mereka laporkan dan selanjutnya disebarluaskan ke masyarakat.

Dia mengatakan, selama seminggu ini curah hujan di puncak Gunung Merapi relatif berkurang. Hal itu memengaruhi status atau kondisi gunung. Selama curah hujan relatif menurun, gunung biasanya berstatus aktif normal. Ini merupakan tingkatan paling aman.

Namun aktivitas gunung saat bisa berubah menjadi siaga atau awas Merapi. Jika berada di tingkat paling membahayakan, masyarakat yang paling dekat dengan gunung harus segera diungsikan. Dalam status awas Merapi, gunung bisa murka dan mengeluarkan awan panas.

''Karena itu saya berharap masyarakat mendengar dan memenuhi anjuran petugas jika gunung dinyatakan berstatus awas Merapi,'' kata dia.(Suti Harjoyo-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA