| Selasa, 15 Juni 2004 | PANTURA |
Para Manula Berikrar Dukung Mega-HasyimKAJEN - Meski sudah berusia lanjut (manula) bukan berarti mereka akan membatasi gerakan politiknya. Hal itulah yang diperlihatkan puluhan manula yang berikrar dan bertekad akan memperjuangkan kemenangan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi dalam pemilu presiden pada 5 Juli 2004. Ikrar itu dilakukan di rumah salah satu mantan aktivis PDI-P, Tardjimin. Puluhan manula kemarin melakukan pertemuan untuk menyatukan gerakan tersebut. Mereka yang menyebut diri sebagai pengikut Marhaenisme menandaskan, Megawati adalah pewaris gerakan nasionalisme yang dikobarkan Bung Karno yang mereka sebut sebagai Putra Sang Fajar atau Bapak Marhaenisme. "Didorong dengan keinginan yang tulus, kami betekad memenangkan Megawati-Hasyim dalam pilpres mendatang," ujar Suhartono (65), salah satu pemrakarsa pertemuan tersebut. Untuk menyatukan gerakan demi kemenangan Mega-Hasyim, para manula telah membentuk sebuah paguyuban yang disebut dengan Paguyuban Manula Jati yang telah diikrarkan pada 6 Juni lalu. Meski sudah berusia lanjut, dalam pertemuan tertsebut para manula terlihat antusias. Kalimat-kalimat heroik yang dilontarkan oleh Bung Karno ketika menyemangati Bangsa Indonesia saat dijajah dulu beberapa kali dikutip para peserta forum. "Nadimu adalah nadiku, perjuanganmu telah merasuk ke dalam seluruh jiwa dan ragaku. Menyulut bahkan membakar kembali semangat kami untuk terus berjuang terus dan terus kobarkan semangat ajaranmu agar lestari di bumi pertiwi. Rawe-rawe rantas malang-malang putung, holopis kuntul baris," ujar salah satu peserta. Selain dihadiri oleh para manula, pertemuan kemarin juga dihadiri oleh Ketua DPC PDI P Ting Harto dan kader PDI P yang lain seperti Dulmanan, Herry Triyono, dan H Tarono. Dulmanan yang juga Ketua DPRD saat berbicara menandaskan, dirinya datang bukan atas nama Ketua DPRD, melainkan atas nama kader PDI- P karena mendapat undangan. Dia berharap para orang tua tetap memilih capres dengan hati nurani dan tidak tergoda berbagai iming-iming. "Jika memilih capres hanya karena sembako, berarti harga pemilih sama dengan harga sembako itu," ujarnya. Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin yang bisa memperbaiki moral dan tidak hanya pandai berbicara di televisi. "Berbicara di televisi itu gampang. Yang sulit adalah praktiknya," ujar Dulmanan. (G16-17e) |