logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Juni 2004 PANTURA
Line

Di Pasar Grosir Setono Omzet Sehari Rp 1 Miliar

MESKI seorang sarjana Matematika dari Universitas Negeri Yogyakarta (dulu IKIP Yogyakarta), Drs Sony Hikmalul mampu menggerakkan pemasaran tekstil di Kota Pekalongan. Lihat saja, kebesaran dan ketenaran Pasar Grosir Setono di Jl Dr Wahidin yang merupakan salah satu hasil andilnya.

Ketika itu orang tidak menyangka jika gedung kumuh milik Koperasi Pengusaha Batik Setono (KPBS) di tepi jalur pantura itu menjadi ramai seperti sekarang. Pengunjungnya bukan hanya dari Pekalongan, melainkan juga dari seluruh Indonesia seperti Sumatra, Kalimantan, Bali, dan Papua. Tidak aneh, akhirnya keberhasilan itu menjadikan beberapa pemilik modal dari Pekalongan dan sekitarnya ikut-ikutan mendirikan pasar grosir tekstil, seperti Pasar Grosir Gamer dan Mega Grosir.

Bahkan, kini beberapa kota lain juga mengembangkan pasar grosir seperti Pantura Grosir. Namun karena pemasarannya sama, perkembangannya berbeda-beda. Mana yang memberikan pelayanan terbaik, itulah yang akan ramai dikunjungi konsumen.

Meski demikian, karena Pasar Grosir Setono berdiri paling awal, konsumen pun lebih mengenal pasar ini dibandingkan dengan pasar lainnya. Ini dibuktikan dengan ramainya pembeli.

Menurut Sony, perkembangan jumlah pedagang di Grosir Setono dari tahun ke tahun selalu meningkat. Karena itu, tidak aneh jika jumlah omzet penjualannya juga meningkat terus seiring dengan kemajuan kotanya. "Sampai kini kami memperkirakan dalam sehari besar omzet penjualan Rp 500 juta - Rp 1 miliar," ujarnya.

Itu hanya perkiraan kasar dengan dasar pengamatan sehari-hari. Sebab, dalam hal dagang, hampir semua pedagang tidak mau memberikan pengakuan tentang omzet penjualannya. Selain malu, mereka khawatir jika dikejar-kejar petugas pajak.

Meski demikian, dari pengamatan sehari-hari, penjualan cukup laris. "Kalau pas sepi, dari 212 pedagang di Grosir Setono, paling sedikit laku Rp 2 juta. Tentu itu yang berjualan di dalam, sedangkan yang berjualan di kios depan bisa mencapai Rp 4 juta per hari," katanya.

Namun pada musim ramai seperti pada hari-hari libur, kios depan bisa laku hingga Rp 20 juta per hari.

Strategis

Apa yang menarik di Grosir Setono? Menurut penuturan Sony, lokasinya cukup strategis. Kalau seseorang masuk pasar, sepertinya masuk lokasi wisata belanja. Kondisi di dalam kios cukup bersih dilengkapi beberapa musala dan WC. Tempat parkir pun cukup luas sehingga bus dan mobil mudah masuk ke pasar.

Karena itu, tidak aneh jika pembeli betah hingga berjam-jam di pasar grosir. Selain bisa melihat beraneka baju batik, pembeli juga bisa melihat hasil tekstil alat tenun bukan mesin (ATBM), serta bermacam-macam sarung yang semuanya diproduksi di Pekalongan.

Yang menjadi daya tarik tersendiri adalah harganya lebih murah. Sebab barang dagangan di Pasar Grosir sebagian besar diproduksi sendiri.

Jenis batik yang disediakan di pasar grosir itu adalah jenis baju, encym daster, longdress, sarimbit, sarung selendang kulot, kerudung, dan lain-lain. Kemudian, pasar itu juga menjual tekstil ATBM seperti taplak meja, sarung bantal, sajadah, korden, baji koko, dan lain-lain. Adapun konveksi dan garmen juga memasarkan sesuatu menyangkut macam-macam jins, baju koko, celana, sajadah, dan lain-lain. Pedagang di sini juga melayani eceran ataupun grosiran.

Kehadiran pasar grosir, lanjut dia, benar-benar membantu pengusaha batik di Pekalongan. Pasalnya, mereka bisa memasarkannya di daerah sendiri. Jika dihitung dari jumlah pekerja, peran pasar grosir sangat besar. Lihat saja, pengusaha seperti Roji'un, pemilik Batik "Rosty Wijaya" kini sedikitnya memiliki 140 penjahit di beberapa tempat. Kemajuan usahanya terjadi setelah Pasar Grosir Setono berkembang.

Namun keberhasilan mendirikan pasar Grosir Setono dan Grosir Gamer, belum memuaskan dirinya. Lelaki berputra tiga itu kini masih berupaya mengembangkan usahanya mendirikan ruko di Kajen, Ibu Kota Kabupaten Pekalongan. Tahap pertama sudah dibangun 72 toko. Bahkan, berkaitan dengan tekstil, Sony kini dipercaya menjadi Direktur Politeknik Pekalongan yang jurusannya berkaitan dengan masalah pembatikan.

Untuk meningkatkan ilmunya agar sesuai dengan usahanya, kini Sony melanjutkan S2 di Universitas Darul Ulum Jurusan Ekonomi Pembangunan. Bahkan pemikirannya yang baik itu membuat dirinya dipercaya menjadi Wakil Koordinator Konsorsium Unggulan Daerah Eks Karesidenan Pekalongan.

Apa ide yang akan ditelorkan lagi, kita tunggu saja. (Trias Purwadi-74n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA