logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Juni 2004 WACANA
Line

SURAT PEMBACA

Tragedi bagi Nirmala

Tragedi kemanusiaan baru saja terjadi. Seorang Nirmala Bonet TKW asal Kupang disiksa majikannya di Malaysia. Sekujur tubuhnya nyaris mengelupas disiram air panas, diseterika dan dipukuli. Saya sungguh tidak habis pikir negara kita yang katanya kaya raya tetapi warga negaranya banyak yang menjadi budak di negeri orang.

Kasus Nirmala mungkin hanya salah satu yang muncul di permukaan padahal masih banyak yang tersembunyi seperti perkosaan TKW dan lainnya. Ada pepatah hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Artinya kalau bisa berusaha dulu di negeri sendiri.

Sebenarnya masih banyak lembaga sosial kemanusiaan yang akan membantu bila kita mengetahui prosedurnya. Ada banyak lembaga sosial yang konsisten membantu masyarakat seperti hibah atau bantuan cuma-cuma. Saya ingin berbagi informasi kepada sesama tentang prosedur untuk mendapatkan bantuan hibah dari lembaga tersebut.

Subagyo

Sidomulyo Rt 6/Rw 2 Lebakbarang, Pekalongan

***

Pupuk Langka, Siapa Peduli...

Ketika ke rumah kakek di desa aku sungguh kaget saat melihat sawahnya belum juga diolah. Apakah harga gabah yang rendah hingga membuat kakek kapok menanam padi. Ternyata tidak. Kakek belum mengolah sawahnya karena kesulitan memperoleh pupuk.

Oala... aku jadi heran. Padahal siapa pun tidak ingin diibaratkan sebagai keledai, karena hewan ini identik dengan kebodohan dan selalu terperosok dalam kesalahan yang sama. Namun apa yang dialami kakek, yang selalu kesulitan memperoleh pupuk, membuktikan betapa keledainya bangsa ini.

Mengapa begitu. Sebab, bukankah masalah pupuk langka ini terjadi setiap tahun. Dan kejadiannya tidak hanya terjadi dalam kurun waktu satu atau tiga tahun, melainkan puluhan tahun sejak zaman Orba dulu. Kenapa kejadian yang begini rutin tidak juga bisa dicari jalan keluarnya.

Sedihnya lagi, departemen teknis yang paling bertanggung jawab terhadap keamanan pasok dan produksi pupuk pun seperti kehilangan akal untuk membuat pupuk aman di musim tanam. Jangan-jangan benar kala pejabat kita tidak paham lapangan.

Mereka hanya jajaran birokrat yang jago melihat masalah di belakang meja. Mereka bukanlah administrator lapangan yang memahami persoalan. Akibatnya, jika timbul masalah mereka hanya sibuk mencari kambing hitam.

Sementara pejabat sibuk mencari kambing hitam, kakek (dan jutaan petani lainnya) kedapatan sendirian di pojok, kesepian dan tak seorang pun pejabat mau menyapanya. Waduh...

Joko Suprayoga

Jl. Raya Sapen 99 Sukorejo, Kendal

***

TKW dan Wanita

Gegap gempita soal Nirmala Bonet. Setiap hari koran dan TV selalu menyiarkan Nirmala dari foto sewaktu kecil hingga sejarah keluarganya. Mengapa baru sekarang masalah penganiayaan TKW/TKI diberitakan. Padahal kejadian serupa sudah beberapa ribu kali terjadi.

Repotnya sudah bertahun-tahun lalu tanpa sedikit pun pemerintah melirik dan membela. Mereka terusir seperti anjing kurap, banyak yang dipulangkan tanpa mendapat gaji hasil bekerja berbulan-bulan. Banyak yang terbunuh dan diperkosa. Tetapi tidak ada perhatian sungguh-sungguh dari pemerintah.

Mengapa baru sekarang pemerintah dan media massa memberitahukan dengan gegap gempita. Sampai Menakertrans tergopoh-gopoh ke negeri Jiran dan membuat kesepakatan. Begitu pula Presiden. Mengapa baru sekarang. Apa karena saat ini menjelang pemilihan presiden, terus ada yang ingin merayu simpati rakyat.

Aduuuh, teganya pemerintah kok tidak melindungi para TKI-nya di luar negeri, tidak membuat perjanjian bilateral yang tegas antarnegara pengekspor dan pengimpor tenaga kerja. Jika melihat keadaan fisik, kaum wanita relatif lebih lemah dari kaum lelaki. Mengirimkan mereka penuh risiko diperkosa dan dianiaya.

Mengapa tidak kaum lelaki saja yang diperbolehkan jadi TKI. Bukankah kewajiban mencari nafkah itu pada lelaki. Kasihan... kaum wanita. Terlepas dari itu, mereka bisa dianggap sebagai pahlawan meski dalam cakupan kecil, yaitu pahlawan keluarga. Kalau mau menghargai lagi pahlawan pendatang devisa.

Kita berharap pemerintah bersungguh-sungguh memberi perlindungan kepada mereka yang bekerja di luar negeri. Membuat syarat yang tegas terhadap perusahaan penyalur tenaga kerja. Harus diberikan asuransi dari berangkat hingga pulang ke tanah air serta menghukum yang melanggarnya.

Ny Rahayuni

Jl. Pleburan II/7, Semarang

***

Soal BNI Undip

Sehubungan dengan tulisan saya yang dimuat di rubrik ini beberapa waktu lalu, saya mengklarifikasikan permasalahan dengan BNI Undip sudah terselesaikan. Saya berterima kasih kepada pihak BNI Undip yang berbesar hati menanggapi dan menyelesaikan secara kekeluargaan adil dan bijaksana.

Saya pribadi mohon maaf yang mungkin secara tidak langsung mencemarkan nama baik BNI Undip. Semoga kinerjanya lebih baik sesuai harapan para nasabah. Ternyata bukan namanya saja yang besar tetapi SDM-nya juga berjiwa besar.

Yuda Prayitno

Jl Kaliwungu 10, Meteseh Boja, Kendal

***

Hadiah Gebyar Unilever

Terima kasih kepada PT Unilever yang membiayai umroh saya beberapa waktu lalu karena memenangkan grand prize undian Gebyar Unilever. Ibadah ini tadinya hanya sebatas keinginan, harapan, niat dan doa mengingat perekonomian saya yang tak memungkinkan. Namun ternyata menjadi kenyataan.

Juga kepada PT Ardina Prima Communications pelaksana undian yang memberi pelayanan dengan baik serta Maktour, biro perjalanan umroh dan haji plus yang memberikan pelayanan mulai pendaftaran sampai kembali ke Tanah Air.

Kalau boleh saya usul, undian Gebyar Unilever perlu diagendakan tahunan. Dua pemenangnya bisa menjadi dua pasang. Juga tadinya tidak ada uang saku, tahun berikutnya dimungkinkan dapat uang saku walau sedikit.

Riana Sri Suwasti

Perum Korpri Srondol B 36 Semarang

***

Sungai Depan TBRS

Mohon pengerukan saluran sungai dan gorong-gorong mulai depan Gedung Wanita Jl Sriwijaya Semarang sampai arah Peterongan serta peninggian jembatan/pengurangan jembatan depan TBRS. Jembatan terlalu rendah dan lebar sehingga menutupi sebagian besar sungai depan TBRS.

Wilayah RW III Kelurahan Tegalsari yang merupakan hilir sungai dari bukit-bukit di Genuk Karanglo dan Genuk Krajan yang mengalir ke wilayah RT 1/RT 2 yang kondisinya sudah dangkal, sempit, dan membahayakan.

Saat hujan sungainya meluap ke wilayah Genuk Krajan, hingga perlu mendapatkan perhatian khusus sebelum kondisinya bertambah parah. Juga agar tidak melebar ke wilayah lain misalnya ke Jl Sriwijaya terus ke Pleburan dan ke wilayah lain.

Untuk itu kami mengajukan permohonan kepada Bapak Wali Kota/DPU Pengairan kiranya dapat membantu guna meringankan beban kami agar tiap kali banjir dari sungai depan TBRS, air yang meluap ke Jl Sriwijaya maupun ke Kampung Genuk Krajan dapat berkurang.

Priyo Sapto Anggono

Jl Genuk Krajan I/699 Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA