| Selasa, 15 Juni 2004 | NASIONAL |
Dikupas Tuntas di Tabloid Remaja TrenTiba Gilirannya, Demam Harry Potter
SETELAH selama beberapa edisi menyajikan fenomena demam AFI, Tabloid Remaja Tren edisi ke-75 yang beredar pada minggu ini menampilkan demam lain yang melanda remaja dunia, yaitu film sekuel Harry Potter ketiga, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban yang telah dirilis pada 4 Juni lalu di Amerika dan Eropa. Pasti tak lama lagi, demam itu akan menjalar ke remaja-remaja di Indonesia. Bisa dimaklumi, mengingat banyak juga penggemar fanatik Harry Potter di Indonesia yang tak melewatkan satu kalimat pun dari seri buku-buku Harry Potter yang telah terbit atau menonton film-film yang telah dirilis. Di Semarang, cerita tentang penyihir cilik itu telah menjadi bagian dari gaya hidup para remaja. Selain isi cerita secara umum, banyak istilah dalam cerita itu yang digunakan dalam bahasa gaul. Remaja Karismatik Pada film Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), Harry bukan lagi anak kecil lucu yang berkaca mata bundar. Dia sudah menjadi anak baru gede (ABG) yang karismatik karena kemampuannya menyelesaikan masalah-masalah dan membongkar misteri yang digambarkan pada dua seri terdahulu, Harry Potter and the Sorcererís Stone (2001) dan Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002). Film yang mampu mengeruk keuntungan 92,6 juta dolar (Rp 828 miliar) dalam pekan pertama pemutarannya itu menceritakan hidup Harry terancam ketika dia menjalani tahun ketiga studi sihirnya di Hogwarts. Soalnya, penyihir merangkap pembunuh sadis Sirius Black lari dari penjara Azkaban untuk satu tujuan: membunuh Harry. Azkaban mengirim ratusan makhluk dementors untuk melindungi Hogwarts dan menangkap kembali Sirius. Namun akankah itu berguna? Tabloid Tren menampilkan perbandingan sekuel ketiga yang disutradarai oleh Alfonso Quaron, dibanding dua seri terdahulu yang ditangani oleh sutradara ngepop Chris Columbus. Karya Quaron mengundang pujian banyak kritikus. Christy Lemire, kritikus film dari Associated Press menilai, film tersebut adalah film paling ajaib dari ketiga seri Harry Potter. Adapun Times Online dengan yakin bilang, ''Kamu bisa ngabisin waktu lama cuman untuk mencermati satu scene dunia khayal ciptaan Cuaron dengan hati berdebar-debar.'' Yang jelas, penggemar fanatik Harry Potter sudah sangat berharap, film itu segera beredar di kota-kota Indonesia. ''Ngikutin Harry Potter buat aku sih penting banget, buat obat gaul. Bayangin, betapa malunya kalau kita nggak ngerti apa-apa sementara temen-temen heboh membicarakan cerita Harry Potter,'' tutur Angga, siswa kelas III SMP 10 Semarang, yang mengoleksi komplet novel-novel karya ''ibunya'' Harry Pottter, JK Rowling. ''Ceritanya sangat menarik. Selalu ada kejutan. Itu yang membuat aku ketagihan. Membaca novelnya berulang-ulang nggak bosan. Filmnya juga bagus,'' ujar Krisna Tsaniadi Prihastomo, siswa kelas II IPA-SMA 3 Semarang. Ada beberapa hal positif yang bisa dilihat dari komunitas pencinta cerita Harry Potter itu. Pertama, ternyata daya tahan untuk membaca buku-buku yang tebal di kalangan mereka tergolong tinggi. Itu menepis kekhawatiran selama ini bahwa budaya baca dan mendiskusikan isi bacaan semakin menipis dari generasi ke generasi. Kedua, dengan makin banyaknya remaja yang punya minat baca, rangsangan juga untuk menulis juga semakin tinggi. Ketiga, ada peluang bagi dunia penerbitan untuk menyediakan bahan-bahan bacaan yang memikat. Bagi penulis lokal, peluang ini tidak dengan sendirinya mudah dipenuhi, mengingat kompetitornya adalah penulis-penulis dari segala penjuru dunia. Maklumlah, selera remaja kita telah sangat kosmopolitan. (Anto-33j) | ||||