| Rabu, 09 Juni 2004 | PANTURA |
PPI Jongor Jadi Pusat Kegiatan NelayanPUSAT Pendaratan Ikan (PPI) Jongor di Kota Tegal kini berubah wajah. Namanya pun tak lagi PPI Jongor, namun menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari. Beberapa fasilitas seperti perkantoran, dermaga, dan sejumlah fasilitas umum kini dibangun. Alur masuk kapal dikeruk serta dilengkapi dengan pemecah gelombang (breakwater). Proyek pembangunan PPP Tegalsari yang dibiayai atas bantuan Bank Asia Rp 73 miliar itu dalam waktu dekat akan diresmikan Presiden Megawati. Persoalannya kemudian seberapa jauh perubahan nama tersebut akan berdampak kepada kepentingan nelayan? Sekadar diketahui, PPI Jongor selama ini hanya berfungsi sebagai pendaratan ikan bagi kapal-kapal nelayan yang berukuran dibawah 30 grosston (GT) atau sering disebut kapal compreng. Selain itu, pemanfaatan area sekitar PPI seluas 17 ha boleh dibilang kurang optimal. Lahan tersebut hanya dimanfaatkan oleh pengusaha fillet untuk menjemur ikan. Boleh jadi, karena pemanfaatan lahan yang kurang efektif itu, Pemkot Tegal merelakan lahan tersebut untuk dibangun pusat pendaratan pantai. "Mudah-mudahan dengan adanya pelabuhan perikanan, pantai ini bisa dijadikan sentra kegiatan nelayan. Dan, sebelumnya kami sudah membangun solar packed dealer nelayan (SPDN) yang bisa membantu memudahkan nelayan dalam memperoleh bahan bakar," kata Wali Kota Adi Winarso SSos. Dia yang didampingi Kepala Kantor Humas Sumito SIP mengatakan, adanya perubahan nama dari PPI menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai itu bisa dikatakan naik kelas. Jika sebelumnya TPI yang ada dikelola Pemkot sekarang dikelola bersama dengan Pemprov. Beberapa fasilitas pelayanan pun dibangun lebih lengkap. "Makanya, kami optimistis jika nanti difungsikan akan menjadi sentra kegiatan nelayan Tegal secara keseluruhan," ungkapnya. Secara rinci, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Ir Soekoco memaparkan, dari sisi status pengelolaan antara PPI dan PPP juga berbeda. Jika PPI hanya dikelola oleh Pemkot, PPP dikelola bersama antara Pemkot, Pemprov, dan Pusat. Adapun fasilitas yang kini dibangun tahap pertama tahun 2004, meliputi balai pelatihan nelayan, tempat pelelangan ikan (TPI), perkantoran, dan dermaga. Menanggapi adanya perubahan status PPI Jongor, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumito mengatakan, pihaknya menyambut positif adanya pelabuhan perikanan di Kota Tegal. Alasannya dalam memasarkan hasil tangkapan ikan, nelayan bisa memiliki banyak pilihan untuk lelang. "Selama itu, soal pemasaran memang menjadi kendala serius yang dihadapi nelayan. Jika hasil tangkapan ikan melimpah harga jatuh. Ironisnya, TPI yang ada di Tegal hanya satu yakni di pelabuhan. Jika di Jongor nanti bisa diaktifkan, tentu akan terjadi persaingan harga dan itu yang diidam-idamkan nelayan selama ini," tandasnya. Dia juga mengharapkan, perubahan PPI Jongor bisa menambah nilai plus bagi kepentingan nelayan.(Dwi Ariadi-17s) |