| Rabu, 09 Juni 2004 | PANTURA |
PHK, Pemkab Ikut KecipratanKEHADIRAN investor raksasa di sebuah daerah dengan bangunan pabrik berskala besar secara langsung memang berdampak positif bagi kemajuan daerah itu. Hal tersebut terlihat dari gerak langkah masyarakat sekitar pabrik. Dengan penghasilan bekerja di pabrik, mereka dapat meningkatkan taraf hidup termasuk membayar pajak. Namun, persoalannya akan pelik manakala pabrik tersebut tiba-tiba terkena imbas akibat situasi ekonomi yang memburuk seperti yang dialami PT Saritex Jaya Swasti (SJS) Batang dan Texmaco Jaya Beji, Pemalang. Dua pabrik itu terpaksa "merumahkan" sejumlah karyawannya karena kondisi pabrik yang sedang pailit. Repotnya, kemudian karyawan meminta Pemkab untuk menalangi gaji yang belum mereka terima. Padahal, APBD tak mengalokasikan anggaran gaji karyawan pabrik. Menghadapi persoalan tersebut, Bupati Batang Bambang Bintoro SE dan Bupati Pemalang HM Machroes SH harus bisa bersikap arif. Keduanya justru membantu persoalan yang dihadapi karyawan dengan upaya masing-masing. Hal ini penting agar pabrik tetap eksis dan karyawan tetap bisa mencari makan dari hasil jerih payah bekerja. Bahkan ketika karyawan PT SJS Batang berbondong-bondong ke Jakarta menemui Direktur Saritex dan Menteri Tenaga Kerja Yocob Nuwawea, Bupati Bambang Bintoro menyambut dengan baik, dengan harapan masalah tersebut cepat terselesaikan. Sebab, kata dia, hidupnya kembali SJS akan membuka simpul perekonomian baru di wilayah Batang. "Aktivitas produksi di perusahaan tersebut dapat menyedot sektor perekonomian di masyarakat khususnya para pedagang kaki lima untuk kembali hidup. Belum lagi sektor ekonomi pendukung lainnya. Karena itu, segala permasalahan yang menyangkut nasib karyawan akan memengaruhi iklim di wilayah tersebut," papar Bupati Batang. Keprihatinan serupa dilontarkan Bupati Pemalang HM Machroes SH. Dia mengemukakan, belum dapat beroperasinya pabrik tekstil PT Texmaco Jaya Beji Pemalang menimbulkan perasaan prihatin. "Tidak saja kepada karyawan tapi saya juga ikut prihatin terhadap persoalan tersebut," ungkapnya. Dia mengkhawatirkan jika benar-benar terjadi PHK di pabrik yang dahulu menjadi kebanggaan warga Kabupaten Pemalang itu. Walau ini semua belum pasti, tetap menimbulkan perasaan was-was bagi dirinya. "Jika melihat kondisi perusahaan sekarang, saya memperkirakan akan ada PHK. Namun, kalaupun itu terjadi agar dilakukan secara transparan. Karyawan dan karyawati diberitahu lebih dulu sebelum dilakukan keputusan tersebut," kata Machroes. Tetap Bersabar Untuk menghadapi berbagai kemungkinan, Bupati Batang meminta karyawan SJS untuk tetap bersabar dan selalu bermusyawarah dengan berbagai pihak seperti yang selama ini mereka lakukan. "Saya salut dengan usaha para karyawan yang tetap dingin dalam menghadapi maslah tersebut," tandasnya. Bupati menegaskan, dirinya akan selalu mendukung perjuangan para karyawan untuk memperbaiki hidupnya. Komitmen itu, ujar dia, telah dibuktikan dengan menyampaikan aspirasi 388 karyawan agar anak perusahaan PT Texmaco tersebut tetap hidup. Antara lain dengan mengirimkan surat kepada Presdien Direktur PT Texmaco Marimutu Sinivasan, Menteri Tenaga Kerja Yacob Nuwawea, dan bahkan Presiden RI Megawati Soekarnoputri. Sikap untuk selalu bersabar dan menggunakan musyawarah, sambung Bambang, sangat perlu dalam mengatasi berbagai masalah. Apalagi menghidupkan kembali perusahaan yang baru saja terpuruk tidak semudah membalikkan telapak tangan. "Saya minta para karyawan tetap bersabar," ujarnya. Bila para karyawan tetap mau menggunakan cara-cara musyawarah dan dialog maka iklim kondusif akan bisa tetap terjaga. Menjaga iklim kondusif, ucap dia, sangat penting pada masa pemilu presiden dan wakil presiden sekarang ini. "Iklim kondusif sangat perlu untuk menggerakkan simpul ekonomi yang pada akhirnya bisa meningkatkan kehidupan masyarakat. Pada bagian lain, Bupati Pemalang mengemukakan, Texmaco harus mau realistis. Jika kondisi manajemennya sudah lemah, jangan merasa masih kuat. Sebaliknya, kalau memang kondisi manajemennya kuat harus ditunjukkan kepada masyarakat. Yaitu dengan membenahi sendiri kekurangan yang ada. Sejauh ini jumlah karyawan di PT Texmaco tinggal 1.700-an orang. Mereka sebagian dirumahkan dengan menerima gaji 75%. Sisanya masih ada yang tetap berangkat kerja, seperti petugas satpam dan tenaga perawat mesin.(Saeful Bachri, Moch Burhan, Arief Suryoto-17j) |