| Rabu, 09 Juni 2004 | OLAHRAGA |
Munaslub PBSI Harga MatiJAKARTA- Ketua Pengda PBSI DKI Jakarta, Icuk Sugiarto menyatakan, musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi jika Ketua Umum PB PBSI Chairul Tanjung tidak bersedia mengundurkan diri. ''Munaslub merupakan harga mati dan tidak ada tawar-menawar,'' ujar Icuk yang didampingi antara lain oleh Jacob Rusdianto (Ketua Pengda Jatim), Ketua Pengda Gorontalo Paris Yusuf, dan Ketua Pengda Sumut Johannes IW saat memberi keterangan pers tentang tuntutan mundur kepada Ketua Umum PB PBSI, Chairul Tanjung, di Jakarta, Selasa (8/6). Dia mengatakan, keinginan agar Chairul mundur merupakan permintaan serius, dan jika mundur secara sukarela maka munaslub tidak perlu digelar. ''Kalau sinyal tidak ditanggapi dan Chairul bertahan sebagai ketua umum, maka pengda-pengda tidak ada pilihan lain akan melangkah ke digelarnya munaslub,'' tegas mantan juara dunia itu. ''Apabila Pak Chairul tidak ingin mundur dan kesannya menantang pengda-pengda, kami punya rencana sebelum tanggal 15 Juni sudah mengagendakan pertemuan dengan 25 pengda (yang menuntut Chairul) mundur. Apabila di luar 25 Pengda itu ada yang ingin bergabung tidak masalah.'' Ia menegaskan, permintaan mundur tersebut bukan sekadar gertakan, namun sudah disuarakan dalam bentuk surat resmi dari pengda-pengda tersebut. ''Paling lambat tanggal 15 Juni map (yang berisi surat dari 25 pengda) akan diberikan kepada ketua umum sebagai bukti yang cukup untuk menggelar munaslub,'' kata Icuk yang tidak bersedia menyebutkan pengda mana saja yang mengajukan tuntutan mundur kepada Chairul. Sementara itu, Ketua Pengda Gorontalo, Paris Yusuf mengatakan, keinginan digelarnya munaslub karena selama ini pengda mengalami kekecewaan atas kepemimpinan Chairul yang dinilai tidak pernah melakukan pembinaan ke daerah. ''Realisasi visi dan misi saat terpilih sebagai ketua umum seperti memberi bantuan ke pengda dari dana PBSI serta bantuan untuk membentuk pelatda tidak ada,'' katanya. Hal yang sama disampaikan Ketua Pengda Sumut, Johannes IW yang kecewa karena pembentukan pelatnas desentralisasi yang dijanjikan tidak juga terealisir. ''Pengda se-Sumatera telah menanggapi positif adanya rencana pelatnas desentralisasi, tetapi sampai saat ini tidak ada realisasinya,'' kata Johannes yang menyebutkan belum menentukan sikapnya karena masih menunggu sikap Chairul pada rapat pleno pengurus yang akan digelar Rabu (9/6) ini. Sedang ketua Pengda Jatim, Jacob Rusdianto mengaku kecewa dengan masalah pendanaan terutama berkaitan dengan pengiriman pemain ke turnamen internasional yang semakin hari semakin berkurang. Contohnya keberangkatan pemain ke kejuaraan Vietnam Sattelite pekan lalu, semuanya atas biaya sendiri. Bahkan, menurut dia, baru-baru ini pengda mendapat surat dari pengurus pusat bahwa pengiriman pemain ke Kejuaraan Asia Yunior di Korea Juli mendatang, seluruh biaya ditanggung oleh pengda masing-masing, PBSI hanya menyiapkan latihan bersama dan membantu mengurus fiskal. Sementara itu, Humas PB PBSI Riza Primadi mengatakan pihaknya akan menerima dengan tangan terbuka jika tuntutan mundur itu disampaikan dalam bentuk surat resmi ke PB PBSI. ''Silakan kirim saja, kita dengan senang hati akan menerima surat itu,'' katanya. Menurut Riza, tidak diminta pun Chairul akan mengundurkan diri sebagai tanggung jawab moral atas kegagalan tim Thomas dan Uber. (D3,ant-77) |