logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 09 Juni 2004 OLAHRAGA
Line

Tim Panser di Bawah Tekanan Pakar Sepak Bola

PELATIH tim nasional (timnas) Jerman Rudi Voeller, dan para pemain asuhannya sangat tahu tak ada tempat untuk bersembunyi bagi tim yang kurang menonjol. Meski Jerman merupakan salah satu dari empat tim yang tak terkalahkan selama babak kualifikasi Piala Eropa 2004, kinerja mereka dianggap tidak meyakinkan.

Tim Panser mendapat kecaman keras setelah ditahan seri di kandang sendiri oleh Lithuania (1-1) pada 29 Maret 2003. Mereka bermain imbang tanpa gol dengan Eslandia dalam suatu pertandingan yang membosankan pada 6 September 2003.

Sebelum itu, Juni 2003, tim asuhan Voeller juga tak menyuguhkan permainan yang menarik. Mereka tak dapat mencetak lebih dari dua gol ketika meraih kemenangan (2-0) atas Kepulauan Faroe.

Tak heran banyak pakar sepak bola Jerman, seperti Gunter Netzer, Franz Beckenbauer, Paul Breitner, dan Udo Lattek melontarkan kritik pedas terhadap Voeller. Semua kecaman itu, terutama yang disampaikan September lalu melalui televisi Reykjavik, akhirnya memanaskan telinga pelatih Jerman yang terkenal dingin tersebut.

Dia segera menyemburkan segala umpatan. "Semua pakar itu menyerang saya," katanya dengan nada geram. "Gunter Netzer mengatakan, tim Jerman lama mungkin bermain jelek dalam satu pertandingan, tetapi mereka pasti tampil menawan dalam 10 partai lain. Saya jadi ingin tahu kebenaran perkataannya."

Pelatih Jerman itu mengakui, Oliver Kahn dan kawan-kawan bermain buruk saat melawan Eslandia, dan beruntung tak menderita kalah. "Namun kecaman-kecaman tersebut sudah keterlaluan. Saya tak tahan dengan semua omongan sampah itu. Tentu saja, saya mengkritik tim asuhan saya. Tetapi, saya juga harus melindungi mereka," ujarnya.

Tidak Kreatif

Penampilan yang lebih tajam ditunjukkan Tim Panser dalam dua pertandingan terakhir babak penyisihan Grup V. Mereka menggasak Skotlandia (2-1) pada 10 September 2003 dan menggulung Eslandia (3-0) sebulan kemudian.

Kedua hasil pertandingan itu tampaknya mampu menurunkan tekanan darah Voeller yang melonjak selama menghadapi badai kritik September tersebut.

Kendati begitu, tak seorang pun penggila sepak bola Jerman berani berilusi bahwa mimpi buruk Piala Eropa 2000 - ketika tim panser tersingkir di babak pertama - bakal segera berakhir. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengenyahkan trauma kegagalan itu.

Orang bisa kecewa jika beranggapan Jerman telah bangkit kembali setelah mereka mencapai partai final Piala Dunia 2002. Mereka memang menduduki posisi puncak Grup V dalam babak penyisihan, tapi sekali lagi kinerja mereka tidak terlalu memukau.

Pasukan Voeller kurang giat melakukan tekanan dari sayap, lini tengah tidak kreatif mencari bola dan menciptakan peluang, serta kemampuan memenangi bola tak menonjol, dan berbagai taktik dasar lain tidak dijalankan dengan baik.

Ada begitu banyak umpan yang keliru sasaran, kontrol bola yang lemah, dan celah-celah pertahanan yang terlalu lebar. Mereka juga kedodoran ketika tempo permainan mulai meninggi. Walaupun sistem 3-5-2 membutuhkan kedisiplinan pemain, keluwesan taktik juga tak boleh diabaikan.

Dengan segala kekurangan tersebut, tidak sulit untuk memahami mengapa Jerman mengalami begitu banyak masalah ketika menghadapi tim yang selama ini dianggap lemah.

Sebagai negara yang biasanya memproduksi barisan pemain berkarakter kuat, Jerman saat ini boleh dibilang sangat pasif. Bintang lapangan tengah Michael Ballack pernah mengatakan pada awal 2003, mereka kekurangan pemain berkarakter pemimpin lapangan.

Aset Terbaik

Selain Oliver Kahn, penjaga gawang sekaligus kapten yang mudah marah, dan Ballack sendiri, pasukan Voeller benar-benar miskin pemain yang bisa membangkitkan inspirasi dan semangat tim.

Jika kedua pemain tersebut absen, kesatuan dan organisasi permainan bisa berantakan.

Meski demikian, para pemain yang ada sekarang merupakan aset terbaik timnas Jerman. Kahn tetap menjadi kiper paling menonjol dan pemain yang dibutuhkan pada saat kritis. Christian Woerns, bek tengah Borussia Dortmund, muncul sebagai benteng pertahanan yang tangguh.

Bernd Schneider, pemain tengah Bayer Leverkusen yang cekatan, merupakan senjata tempur utama di sayap kanan, meski dia merasa lebih efektif bila ditempatkan di tengah. Ballack, salah satu pemain tengah terkemuka di benua Eropa, merupakan pemain yang kreatif dan pemoles akhir serangan Jerman.

Lini depan mungkin sedikit redup. Miroslav Klose (Kaiserslautern) masih berjuang untuk menemukan format permainan mereka, seperti ketika turun di Piala Dunia 2002. Karena itu, Voeller melihat barisan penyerang masih kurang tajam.

Namun penampilan striker Kevin Kuranyi (Stuttgart) dan Fredi Bobic (Hertha Berlin) yang semakin cemerlang bisa menjadi pelipur lara. Bobic, yang pernah ditolak Berti Vogts, mantan pelatih Jerman, pada akhir 1990, dipanggil kembali untuk memperkuat timnas sekitar setahun lalu.

Dia memperlihatkan kinerja yang baik dan membukukan empat gol selama babak kualifikasi Euro 2004, termasuk gol dengan tendangan voli ketika Jerman memetik kemenangan 3-0 atas Eslandia di Hamburg, Oktober lalu. Beckenbauer kini pasti menyesal karena pernah mengabaikan potensinya, dan Voller mengetahui cara membuat bakat terpendam Kuranyi bersinar.

Kuranyi merupakan wajah baru yang menyegarkan timnas dan menyedot perhatian publik. Dia tampil menonjol dalam partai melawan Eslandia. Voeller juga memberikan kesempatan pertama kepada beberapa pemain lain untuk memakai kaus timnas. Para pemain debutan tersebut antara lain bek kanan Andreas Hinkel (Stuttgart), bek kiri Philipp Lahm (Stuttgart), dan Fabian Ernst (Werder Bremen).

Kendati demikian, momok cedera juga menghantui beberapa pemain. Bek tengah Christoph Metzelder (Borussia Dortmund) mengalami gangguan pada tumitnya.

Jens Nowotny (Bayer Leverkusen) dua kali menjalani operasi persendian. Pemain tengah Didi Hamann (Liverpool) mengalami cedera tulang kering. Torsten Frings (Borussia Dortmund) gangguan persendian dan Christian Ziege (Tottenham Hotspur) menderita cedera paha.

"Bila setiap orang memberikan dukungan, kita pasti memiliki pasukan yang kuat," kata Woerns, pemain belakang Jerman. Dia merasa segala macam tekanan selama ini telah menjadi cambuk bagi teman-temannya untuk tampil lebih baik. "Saya yakin, kami siap menghadapi tantangan. Situasi yang menekan telah mengeluarkan kemampuan terbaik kami." (ws,ben-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA