| Rabu, 09 Juni 2004 | NASIONAL |
Seribu Wajah Eko Budihardjo (2-Habis)Marah pun Tetap Berpuisi
CABLAKA adalah idiom paling khas untuk melihat stereotivikasi orang Banyumas. Istilah lainnya blakasuta atau blak-blakan. Dalam terminologi itu, kalau seseorang hendak mengritik sesuatu, selalu dilakukannya dengan terbuka tapi dengan cara tidak membuat sakit yang dikritik. Tipologi karakter seperti itulah yang memberi tambahan ''muka'' yang lain pada diri Eko Budihardjo. Dia humoris, suka membanyol bahkan dalam puisi-puisinya yang disebutnya sebagai mbeling, blak-blakan. Itu beberapa karakter yang menjadi ciri orang Banyumas. Maka boleh saja budayawan Darmanto Jatman menyebutnya sebagai ''sosok Jawa'' sejati. Tapi kalau dikhususkan, Prof Eko selalu mencitrakan orang Banyumas. Atau dalam istilah sastrawan Ahmad Tohari yang juga orang Banyumas asli, dia disebut ''wanteg banyumasane''. Maksudnya, dia kebanyumasannya begitu kental dengan ciri hangat dan bersahaja dalam berperilaku. Dan memang dia dibesarkan di ranah itu. ''Melakukan kritik paling bagus itu dengan bercanda. Orang Jawa bilang dengan pasemon. Sebagai orang Banyumas, saya telah menyatu dengan cablaka. Jadi menyampaikan sesuatu dengan jujur tanpa basa-basi, tapi tetap tak menyakiti orang lain. Ya, Anda bisa lihat pada tokoh Baworlah,'' ujar Prof Eko. Sekadar catatan, Bawor adalah sosok punakawan dalam pewayangan model banyumasan. Identifikasinya boleh dibilang seperti Bagong pada wayang gaya Surakarta dan Yogyakarta. Lekatan ciri orang yang suka melempar humor, bahkan ketika misalnya Anda tengah mendiskusikan hal serius dengannya sudah banyak dibuktikan. Tapi jangan keliru. Humor yang dilemparnya bukanlah semata banyolan. Humornya selalu ngemu tembung yang positif. Gaya tulisannya pada kolom Gayeng Semarang di Suara Merdeka setiap tiga minggu pada Edisi Minggu memberi bukti itu. Tak heran editor yang menerbitkan kumpulan tulisannya di Gayeng Semarang sebagai dedikasi untuk ultahnya ke-60 memberinya judul ''Ger-geran Democarzy'' (Juni, 2004). Ambil contoh lainnya dari komentar S Budi Prayitno, Ketua Paguyuban Seruling Mas, sebuah perkumpulan di daerah Banyumas. Di paguyuban itu, Prof Eko menjadi penasihat. ''Prof Eko itu penasihat yang aktif dan selalu peduli dengan bot repote para sedulur, mikirna tanah kelahiran. Pada setiap pertemuan, beliau datang dan membuat suasana menjadi gayeng,'' komentar Budi. Berhadapan dengan orang seperti itu, siapakah yang bisa marah? ''Istri saya juga paling bingung kalau harus marah dengan saya. Alih-alih marah, dia bahkan tertawa,'' ujarnya. Terkesan Seronok Sebagai orang yang suka berhumor, suka tertawa, tak pernahkah dia merasa marah benar-benar? Sebagai manusia, dia pasti pernah marah. ''Saya lagi berbicara pada mahasiswa untuk suatu persoalan. Saya marah benar ketika sedang berbicara mereka selalu memotong. Ya sudah, saya bilang pada mereka untuk menghormati saya sebagai rektor. Saya minta didengar selagi saya berbicara. Ya cuma begitu, selebihnya ya cair lagi.'' Tapi dasar Prof Eko, ketika marah pun dia sempat melempar guyonan. Ceritanya dia dipanggil sebuah Komisi di DPRD karena menaikkan SPP mahasiswa. Dia mengaku marah karena dia dianggap tak peduli pada kebanyakan mahasiswa yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Apakah dia mengumpat-umpat di forum itu? Tidak, tentu saja. Dia hanya berargumentasi bahwa sebagai rektor yang berasal dari kalangan bawah sungguh muskil tak memperhatikan nasib mahasiswa yang berasal dari kalangan seperti dirinya. Selebihnya dia membaca puisi yang memecah ketegangan itu. Isi sajaknya itu memang terkesan seronok. Baca saja: Kalau Anda pengin sehat, minumlah susu/Kalau pengin seksi, rawatlah susu/Kalau pengin cantik, mandilah susu/Kalau pengin iseng, senggollah susu/Kalau pengin nikmat, isaplah susu/Kalau pengin berhasil, jangan kesusu. ''Ya, sajak itu agak seronok. Tapi lihat dong maknanya,'' ujar Prof Eko sembari tertawa. Tapi tak termungkiri, caranya berkomunikasi dengan cablaka dan humor, atau seperti dikatakan Ahmad Tohari sebagai gaya pengiyongan Banyumas, membuat Prof Ir Eko Budihardjo MSc bisa masuk dan diterima di kalangan apa saja. Maka wajar saja dia disebut orang yang memiliki seribu muka. Ya, di kalangan seniman dia disebut sebagai ''priyayi di tengah bohemian'', atau sebutan ''trubadur yang egaliter'' hingga atribut '' Robin Hood yang Nyeni''. (Saroni Asikin-33) | ||||