| Rabu, 09 Juni 2004 | SEMARANG |
DPRD Kota Medan Tertarik Industri Eceng GondokUNGARAN-Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Medan, Sumatera Utara yang melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Semarang tertarik pada industri kerajinan tangan dari tanaman eceng gondok yang dikembangkan di daerah tersebut. "Kami ingin mengetahui lebih jauh soal penanganan eceng gondok di sini. Kebetulan Kota Medan juga memiliki permasalahan yang hampir sama," kata anggota FAN DPRD Kota Medan Ginda Gajah saat dialog dengan jajaran Pemkab Semarang dan DPRD, kemarin. Rombongan diterima Ketua DPRD Kabupaten Semarang Drs Sukimto, Asisten Pembangunan Drs Handoyo MM, Sekwan H Cholik SH, sejumlah ketua komisi dan kepala dinas terkait. Anggota Komisi D Kota Medan Bahrun Jamil menanyakan tentang banyak terminal bus di kabupaten itu yang tidak dilalui bus besar dan petugas justru menarik retribusi di tepi jalan. "Bagaimana penanganan agar bus tersebut masuk terminal, sehingga bisa menambah PAD," katanya. Anggota Dewan lainnya tertarik terhadap pengembangan sektor pariwisata, sehingga mampu mendongkrak PAD dari sektor tersebut. Apalagi, objek wisata di wilayah ini cukup beragam, sehingga cukup memikat wisatawan dari luar. Asisten Pembangunan Drs Handoyo MM menjelaskan, selama ini PAD Kabupaten Semarang mencapai Rp 42 miliar. Dari jumlah itu sektor pajak daerah menyumbangkan Rp 11 miliar, selebihnya penghasilan dari sektor lain. "Memang jumlah PAD cukup lumayan, sebab APBD 2004 ini sekitar Rp 360 miliar," jelasnya. Mengenai industri kerajinan tangan eceng gondok, kini Pemkab melakukan pembinaan terhadap ratusan industri kecil eceng gondok. Hasil kerajinan itu dijual ke berbagai daerah, antara lain ke Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. "Hasil kerajinan eceng gondok juga diekspor ke negara lain.Hanya, melalui pihak ketiga, sehingga kami belum bisa mengontrol," ungkapnya. Setelah berdialog, rombongan kemudian mengunjungi Gedongsongo, sentral industri eceng gondok, dan pusat jajan Kabupaten Semarang di Ungaran. (D14-84k) |