logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 09 Juni 2004 SEMARANG
Line

Kauman, Kampung dengan Belasan Penginapan

"PERHATIAN! I. Kepada sekalian para tamu djika hendak pulang, batas waktu sampai djam 13.30, seliwatnja djam tsb. di atas dianggap 1 malam. II. Kami tidak menjediakan kamar untuk tamu jang bajar bulanan..."

Tata tertib berejaan Soewandi itu tertempel pada pigura usang di depan loket pembayaran Hotel Muslimin, Jl Bangunharjo kawasan Kauman, Semarang. Bukan lantaran barang antik jika peraturan yang dibuat pada tahun 1960-an tersebut masih terpajang di sana. Sebab, senyatanya masih diberlakukan.

Memasuki hotel (lebih tepatnya losmen) Muslimin, kita seolah-olah kembali ke masa lalu. Bentuk bangunan, interior, serta hiasan dinding yang terdapat di dalamnya membiaskan atmosfer itu. Tengok saja, ubin bermotif, gantungan baju, mebeler, kamar mandi berderet, atau foto seorang artis perempuan tahun 1960-an bersanggul dan kain kebaya yang tergantung di dinding salah satu kamar, semuanya asli.

Meski demikian, keaslian itu tidak sengaja dipertahankan. Faisal (38), generasi ketiga pengelola Hotel Muslimin mengakui, ketiadaan danalah yang menjadi penyebabnya. "Sebenarnya keinginan melakukan renovasi itu ada, tapi karena belum ada dana, terpaksa tetap kami biarkan seperti ini saja."

Dengan hunian rata-rata lima kamar per hari, penginapan yang mempunyai 17 kamar itu kembang-kempis membiayai diri sendiri. Pemasukan yang diperoleh paling hanya berselisih sedikit dengan biaya operasional sehari-hari. Ya, Hotel Muslimin adalah satu di antara belasan penginapan di kawasan Kauman Semarang yang mencoba tetap bertahan di tengah perekonomian sulit beberapa tahun terakhir.

Penginapan-penginapan lain pun mengalami hal yang sama. Hotel Semarang di Jl Alon-alon Selatan, misalnya, beberapa bagian bangunannya terlihat lapuk. Penginapan yang didirikan H Khaeron pada 1949 itu hanya mempunyai tingkat hunian rata-rata 30%. Kondisi tersebut masih dipersulit oleh pajak yang mencapai 10% pendapatan kotor.

Bahkan, beberapa waktu lalu, Faroukh (52), putra bungsu H Khaeron yang mengelola Hotel Semarang melakukan usaha alternatif, menjual nasi bungkus kepada para pemilik warung di sekitar Pasar Johar.

Pondok Boro

Menurut sesepuh Kauman H Drs Sakuri AM, penginapan di kawasan Kauman telah ada sejak masa Hindia Belanda. Itu bermula dari respons warga Kauman terhadap kebutuhan para pedagang dari luar daerah yang berdagang di Pasar Johar. Mereka kemudian membuat bangunan alakadarnya yang disebut pondok boro. Awalnya hanya berupa kamar kosong yang berlantai pelester, tanpa tempat tidur. Lambat laun, para pemilik melengkapi fasilitas pondok boronya dengan tempat tidur dan lemari pakaian. Pondok boro milik H Ayub di Kampung Butulan adalah salah satu cikal bakal losmen di Kauman.

Selain melayani para pedagang, losmen-losmen tersebut digunakan para pengantar jamaah haji yang berangkat melalui Wisma PHI, Jl Wahid Hasyim. Saat itu, jamaah haji masih menggunakan kapal laut. Untuk menunggu masa pemberangkatan, para pengantarnya menginap di losmen.

Belasan losmen yang pernah berdiri di kawasan tersebut antara lain Semarang, Sahara, Tentrem, Muslimin, Harum, Marem, Tenang, Mayar, Bhakti, Dagang, Purnama, Damai, Bahagia, dan Bojong. Istilah hotel digunakan pada masa Orde Baru untuk mengganti penyebutan losmen. Semua penginapan itu diklasifikasikan sebagai hotel kelas melati.

Hampir semua losmen di Kauman dikelola secara turun-temurun dengan manajemen keluarga. Namun seiring dengan surutnya bisnis penginapan di Kauman, beberapa penginapan terpaksa tutup atau dijual ke pihak lain.(Rukardi-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA