| Rabu, 09 Juni 2004 | SEMARANG |
Pemkot Diminta Membebaskan Lahan
SEMARANG - Pemkot hanya memiliki lahan lebih kurang 8,7 hektare untuk lokasi embung (kolam retensi) di Kudu. Untuk pengembangan embung itu, masih dibutuhkan pembebasan lahan sekitar 34,48 hektare. Anggota Tim Studi dan Detail Desain Pembangunan Kolam Retensi Saluran Klambu-Kudu Proyek Penyediaan Air Baku Jratunseluna Dr Ir Robert Kodoatie MEng mengatakan, tahap pertama pembangunan kolam itu akan menggunakan lahan milik Pemkot. Lokasinya berada di sisi sebelah barat instalasi pengolahan air (IPA) Kudu yang sudah ada saat ini. Namun, pengembangan selanjutnya menunggu kemampuan Pemkot untuk membebaskan lahan milik warga. Menurutnya, kolam retensi itu akan mulai dibangun sekitar satu atau dua bulan lagi dan diharapkan pada akhir tahun ini selesai. ''Paling tidak, agar segera ada cadangan air untuk IPA Kudu,'' jelasnya. Kolam tersebut akan dibangun dengan kedalaman bervariasi. Pada ujung saluran masuk ke kolam, kedalaman mencapai enam meter, sementara pada pompa sekitar empat meter dan pada bagian lain tiga meter. Saluran Dia mengatakan, pembangunan kolam retensi tahap I membutuhkan dana Rp 14.478.486.737,21. Terdiri atas Rp 51.500.000 untuk persiapan, Rp 4.383.637.792,92 untuk galian dan timbunan, Rp 7.808.026.767,97 untuk pasangan pada kolam, Rp 895.415.815,92 untuk pembuatan saluran intake (saluran yang masuk ke kolam), Rp 1.008.837.632,40 untuk rumah pompa, dan Rp 331.068.728,00 untuk pembuatan saluran pembuang. Saat ini saluran dari Bendung Klambu hanya mampu mengalirkan air antara 200 sampai 700 liter per detik secara tidak kontinu. Rata-rata air yang bisa dialirkan pada musim kemarau hanya 200 - 300 liter per detik. Padahal, kapasitas terpasang IPA Kudu, menurut Dirut PDAM Ir R Agus Styoso bisa mencapai lebih dari 1.250 liter per detik. Akibat kurangnya pasokan, pompa berkapasitas 600 liter per detik tidak berfungsi optimal. Pompa tersebut bisa dioperasikan jika ketinggian permukaan air pada saluran air baku minimal mencapai 4,5 meter. Setelah beroperasi sekitar satu jam, air turun sekitar 0,8 meter dan pompa pun kemudian berhenti. Pompa itu baru bisa beroperasi lagi enam jam kemudian setelah permukaan air kembali mencapai batas minimal. ''Dengan kondisi demikian, berarti IPA Kudu belum bisa berfungsi optimal,'' katanya. Salah satu penyebab produksi IPA Kudu minim adalah kondisi saluran dari Bendung Klambu, Kabupaten Grobogan ke Kudu Kecamatan Genuk. Saluran itu panjangnya 40,65 km. Terdiri atas saluran tertutup 2,907 km, saluran timbunan 18,925 km, dan saluran galian 16,600 km. Sepanjang saluran tersebut terdapat jembatan desa 76 buah, talang irigasi dan draninase 29 buah, gorong-gorong 80 buah, dan sifon (saluran yang melintas di bawah saluran lain) 22 buah. Kondisi saluran yang sebagian besar terbuka, menyebabkan rentan mengalami berbagai ganguan. Salah satu gangguan adalah pada saat wilayah itu dilanda banjir. Saat itu air bercampur lumpur ikut masuk, sehingga cepat terjadi pendangkalan. Saluran itu juga melewati wilayah-wilayah rawan kekeringan. Warga yang butuh air, tak jarang juga mengambil dari saluran tersebut. Karena termasuk saluran terbuka, sewaktu-waktu sampah bisa ikut masuk. (G6-45k) |