logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 09 Juni 2004 EKONOMI
Line

Pendapatan Per Kapita Indonesia Kalah dari Thailand dan Malaysia

SOLO-Dibandingkan dengan negara tetangga yang sama-sama mengalami krisis ekonomi pada 1998 pendapatan per kapita Indonesia kalah jauh.

Pada 2002 pendapatan per kapita Thailand 1.987 dolar AS dan Malaysia 3.400 dolar AS, sedangkan Indonesia hanya 830 dolar AS.

Jika ingin mencapai tingkat pendapatan per kapita sebagaimana Thailand, pada 2010 Indonesia harus meningkatkan gross domestic product (GDP) menjadi 487,1 miliar dolar AS atau 2,5 kali lipat lebih dari sekarang.

"Artinya kita harus mampu menambah 307 miliar dolar AS dalam tujuh tahun ke depan," tutur Dr Ir Arifien Habibie, Asisten Deputi Urusan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi Kementerian Negara Koperasi dan UKM dalam diskusi Peringatan Ke-96 Hari Kebangkitan Nasional di Gedung Monumen Pers Solo, kemarin.

Dia menegaskan, dengan pertumbuhan ekonomi 10% sekalipun kita sulit mengejar GDP yang dicapai Thailand pada 2002. Dengan penganggur terbuka sekitar 8 juta jiwa diperlukan pertumbuhan ekonomi 6%-7%.

"Namun, ketidakpastian di beberapa bidang menyebabkan investasi yang masuk rendah, sehingga upaya perbaikan investasi terlalu lambat dibandingkan dengan laju pertambahan penganggur," jelasnya.

Dia mengatakan, keberadaan usaha kecil dalam perekonomian nasional secara politis telah mendapatkan ruang yang cukup, tapi sering dihadapkan pada berbagai benturan dalam konteks kebijakan makro dan mikro.

Meskipun saat ini usaha kecil melampaui 33 juta unit usaha atau 99,8% dari seluruh unit usaha, ternyata sumbangannya hanya 38,9% dalam pembentukan GDP. Sumbangan terhadap nilai ekspor pun kecil, yakni hanya sekitar 11% dari total ekspor nonmigas. "Keadaan itu menggambarkan kontribusi usaha kecil dalam mengisi pasar ekspor belum seimbang. Peningkatan produktivitas usaha kecil merupakan masalah yang mendesak," tuturnya.

Dunia usaha termasuk usaha kecil, lanjut dia, menghadapi persaingan sangat ketat pada era perdagangan bebas.

Setiap produksi barang yang dihasilkan baik untuk mengisi pasar domestik maupun ekspor tidak lagi ditentukan oleh keunggulan komparatif, tetapi oleh keunggulan kompetitif. (bt-53e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA