logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Juni 2004 SALA
Line

Semua Markas Perupa Diserbu Panitia

KENTINGAN- Hampir semua markas perupa, baik yang dijadikan tempat berkarya maupun pusat bursa lukisan di Jawa dan Bali, "diserbu" panitia Lomba Lukis Sejuta Wajah Megawati yang berkedudukan di Solo.

Pusat aktivitas dan bursa lukisan itu didatangi panitia yang menyebar formulir pendaftaran sebanyak-banyaknya, karena panitia punya target hingga 500 peserta untuk lomba yang akan digelar di TBS, 13 Juni mendatang.

"Semua lubang, bursa, dan markas yang dijadikan ajang berkarya teman-teman perupa kami serbu. Ada yang ditugasi masuk ke sanggar-sanggar di Bali. Itu akan jadi ajang reuni teman-teman yang sudah tuwek-tuwek (tua-Red)," ujar perupa Hajar Satoto, salah seorang panitia lomba yang ditemui di Kompleks Taman Budaya Jateng di Surakarta (TBS), Kentingan, Jebres, Solo, kemarin.

Dia menyebutkan, para perupa Solo yang tergabung dalam panitia menyatakan sudah paham betul daerah mana yang potensi perupanya cukup besar. Begitu pula lokasi mana di sebuah daerah yang dijadikan ajang aktivitas berkarya dan bursa lukisan.

Karena itu, lanjut perupa senior yang andal tersebut, "penyerbuan" untuk menyebar formulir dinilai tepat sasaran dan efektif. Diharapkan para perupa, terutama yang senior akan menyambut baik ajakan lomba tersebut sekaligus sebagai ajang reuni para pelukis yang pernah berjuang dan berpameran bersama di sejumlah kota besar, baik di tanah air maupun di luar negeri.

"Kami juga berharap, para generasi muda perupa ikut ambil bagian. Sebab lomba itu begitu longgar batasannya. Penghargaannya pun setimpal," tunjuk perupa yang sukses dalam pameran bertema "Dongeng dari Dirah" tahun 1977 di Prancis.

Setimpal

Hadiah total Rp 87 juta itu adalah penghargaan yang disebutnya setimpal, baik bagi yang juara maupun masuk 10 besar yang karyanya akan dipamerkan di Semarang setelah 13 Juni. Begitu pula di beberapa kota besar setelah itu. Namun dalam hal berlomba, tidak ada klasifikasi menurut usia, jenis kelamin, profesional atau amatir, dan latar belakang pendidikan.

Baik yang masih SD, SMA maupun mahasiswa, hingga perupa yang sedang berkembang ataupun yang kelasnya sudah profesional, kondang, dan lukisannya laris, posisinya sama dalam lomba tersebut. Yakni, panitia hanya akan menilai berdasar apa yang tampak dalam karyanya atau klasifikasi berdasarkan karya.

"Siapa tahu ada bocah tetapi lukisannya bagus bisa mengalahkan yang profesional ataupun senior. Tetapi, memang biasanya yang punya pengalaman dan perjalanan kesenian berpeluang lebih baik," tambah perupa Totok.(won-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA