logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Juni 2004 SALA
Line

Selama Kuliah Tak Pernah Menulis

"SAYA ingin mengembangkan sesuatu di masyarakat, terutama bagi teman-teman penyandang cacat. Saya akan meneruskan ke S2 (strata 2). Begitu UNS buka pendaftaran, saya akan daftar. "

Ucapan bernada mantap itu meluncur dari mulut mungil Fitri Nugrahaningrum (24). Penyandang tunanetra yang empat tahun enam bulan menggeluti studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) itu, mendapat gelar sarjana, Sabtu lalu (5/6). Berikut petikan bincang-bincangnya.

Apa yang akan Anda perbuat setelah lulus?

Saya akan mengembangkan Yayasan Al Fitrah yang saya dirikan bersama Pak Bisyir M Nahdi (Ketua Yayasan Kustati Solo) ketika saya kelas III SMA, tahun 1998. Yayasan bersektretariat di rumah saya, Kandang Sapi RT 1 RW 34 Jebres, Solo, bergerak di bidang dakwah dan sosial. Saya ingin mengembangkan sesuatu di masyarakat, terutama teman-teman penyandang cacat. Karena itu saya akan meneruskan pendidikan ke S2 (Strata 2). Begitu UNS buka pendaftaran, saya akan daftar.

Pengembangan, maksudnya?

Yah, misalnya buat perencanaan dan pelaksanaan layanan bagi teman-teman yang defable (cacat). Kebetulan sejak akhir 2003 saya ditarik menjadi karyawan di Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) UNS, masuk pada Divisi Defable. Nah, angan-angan saya di LPM ada Laboratorium Center untuk orang-orang cacat, sehingga bisa memperjuangkan. Misalnya bagaimana kalau dalam pendaftaran mahasiswa baru ada counter tersendiri, atau adanya fasilitas aksesibilitas pada semua gedung layanan umum. Bukan maksud saya agar ada diskriminasi, melainkan perlu ada fasilitas memadai.

Selama ini apakah banyak hambatan?

Ya, banyak. Saya, misalnya saat mendaftar ke UNS dulu sebenarnya ingin masuk Sastra Inggris atau Komunikasi Massa. Karena buta tidak boleh. Lalu dipilihkan ke PLB. Nah, sebenarnya Sastra Inggris bukan studi eksakta, banyak hafalannya sehingga tidak ada hitungan angka-angka. La kalau di universitas lain boleh, kenapa di UNS tidak?

Lalu, saat mendaftar jadi mahasiswa baru dulu juga tidak ada counter tersendiri bagi penyandang cacat. Terus di Kampus FKIP yang gedungnya tingkat, juga tidak ada fasilitas aksesibilitas sehingga ada teman yang polio harus digendong saat akan mengikuti kuliah.

Selama kuliah Anda bagaimana?

Saya juga tidak pernah menulis selama kuliah, hanya mendengarkan. Mestinya dalam kuliah ada layanan pendamping, karena saya buta. Dua teman lain yang tunanetra juga tak dapat layanan pendamping. Nah, yang seperti itu saya disuruh mencari pendamping sendiri, padahal semestinya disediakan pihak kampus. Saya juga kesulitan kalau mencari referensi. Harus ada yang membacakan, lalu harus saya ketik. Kadang dibantu kakak-adik atau teman-teman..(Setyo Wiyono-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA