logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Juni 2004 OLAHRAGA
Line

Penyambutan Chrisjon Sepi

SEMARANG-Tepat pukul 15.56 WIB sore kemarin, Chrisjon bersama pelatih Muchlis Sutan Rambing mendarat di Bandara A Yani Semarang. Tidak ada hal yang istiwewa dalam penyambutan, bahkan terlihat sepi ketika dilakukan arak-arakan yang melewati di beberapa jalan protokol di Kota Semarang.

Begitu turun dari tangga pesawat Garuda Indonesia, petinju yang baru saja mempertahankan gelar juara dunia Kelas Bulu WBA itu, tanpa ada sambutan protokoler, tidak sebanding dengan prestasi yang dicapainya.

Ketika disambut di ruang VIP bandara, tidak satu pun pejabat yang hadir, baik dari pejabat Pemkot, Provinsi, maupun pejabat dari KONI Jateng dan Kota. Yang terlihat hanya puluhan petinju dan pengurus dari Sasana Bank Buana, serta beberapa staf Karyawan Bank Buana Cabang Semarang.

Suasana penyambutan pun terkesan janggal, pengalungan bunga kepada petinju yang membawa harum nama daerah dan negara, yang biasa dilakukan oleh pejabat, kemarin hanya dilakukan oleh dua orang gadis.

Jadi, perbedaan penyambutan juara dunia ini sangat kontras bila dibandingkan dengan penyambutan PSIS ketika juara Divisi Utama tahun 1987 dan juara KLI V tahun 1999, atau ketika Icuk Sugiarto juara dunia bulutangkis tahun 1983.

Waktu itu ada pengerahan massa. Ribuan orang datang langsung ke bandara, kemudian hampir sepanjang jalan yang dilewati oleh sang pahlawan dipadati oleh penonton, beberapa pejabat pun hadir.

''Acaranya sangat mendadak, karena di Jakarta juga diadakan penyambutan. Rencana setelah ini akan ada syukuran untuk Chrisjon. Pada saat syukuran nanti kami akan mengundang pejabat, termasuk mengundang Bapak Gubernur,'' ujar Pimpinan Cabang Bank Buana Semarang Doddy Permadi Syarief di bandara kemarin.

Sementara itu, kesempatan yang bagus ini dimanfaatkan oleh pasangan capres Amien Rais dan Siswono Yudohusodo untuk ''kampanye'', yakni dengan memasang spanduk. Dua spanduk yang dipasang di depan Hotel Siliwangi dan di Simpanglima.

Jalanan Sepi

Petinju yang baru saja menang angka mutlak dari Osamu Sato itu, tidak mendapat jamuan atau sambutan ketika berada di ruang VIP. Dia langsung keluar, kemudian naik jeep terbuka .

Mobil buatan tahun 1954 berwarna hujau itu bertuliskan ''Bank Buana Boxing Camp''. Chrisjon yang mengenakan jas berwarna hijau tua, dikombinasi baju lengan panjang berwarna krem, celana hitam, sepatu hitam mengkilap, didampingi dua gadis membawa dua piala. Chrisjon berdiri di sebelah sopir membawa sabuk juara.

Di depannya ada dua mobil pengawal dari petugas, diiringi puluhan mobil dan motor besar, untuk kemudian bergerak menuju Sasana Tugu Muda Bank Buana Kampung Lasipin.

Rute yang dilewati, dari bandara langsung menuju ke arah Jl Siliwangi - Jl Pemuda - Jl Gajah Mada - sekali putar Simpanglima - Jl A Yani - Jl MT Haryono - Jl Patimura - Jl Cipto, dan langsung menuju Sasana di Kampung Lasipin.

Tampak di sepanjang jalan yang dilewati arak-arakan sepi dari sambutan. Hanya ketika memasuki kawasan Simpanglima, sambutan kelihatan agak meriah. Puluhan anak-anak muda yang sedang main bola menghentikan kegiatannya, begitu melihat ada arak-arakan panjang.

Mereka langsung berjejer di pinggir jalan, sambil melambaikan tangannya. ''Chrisjon..., Chrisjon....!'' teriak mereka. Juara dunia kelas bulu 57,1 kg WBA itu langsung membalas dengan senyum, sambil melambaikan tangannya.

Penyambutan agak meriah justru di Kampung Lasipin, hampir semua warga sekitar menyambut kedatangannya. Begitu masuk sasana, Chrisjon didampingi pelatih dan manajernya, Mukhlis Sutan Rambing, mendekati KH Najib Abdullah, yang sudah menunggu sebelumnya.

Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Se-Kota Semarang itu langsung memotong beberapa helai rambut depan Chrisjon. Menurutnya, hal itu hanya sebagai simbol untuk mensyukuri kemenangan Chrisjon. ''Sebagai anak bangsa yang berjuang membawa nama Indonesia, dia wajib kami doakan,'' ungkap kiai yang bersama 100 kiai lainnya mendoakan Chrisjon sebelum berangkat ke Jepang.

Hanya sayang suasana yang cukup mengharukan itu tidak disaksikan oleh kedua orang tua, Johan Cahyadi dan Maria Warsini, termasuk sang kekasih, Anna Maria Megawati, yang sedang ada acara. (C16,H13-57t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA