logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Juni 2004 NASIONAL
Line

Menyusuri Jalan-jalan di Singapura (1)

Hukumannya Disuruh Bersihkan Halaman


NYAMAN: Trotoar yang lebar sekitar 4 meter di pinggir Orchard Road Singapura benar-benar berfungsi bagi pejalan kaki. Kondisi itu membuat suasana di pusat perbelanjaan sungguh terasa nyaman. - SM/Agus Toto W

Wartawan Suara Merdeka Agus Toto W, belum lama ini, mengikuti Family Trip Garuda Indonesia Airline bekerja sama dengan Singapore Tourism Board mengunjungi Singapura. Berikut laporan berseri di antaranya berkait dengan masalah kebersihan dan suasana negara seluas 774 km2 dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa itu.

MENYUSURI jalan-jalan di Singapura sungguh ada perbedaan yang begitu nyata dengan kota-kota di Indonesia. Kebersihan di negara itu terlihat saat melintasi setiap penggal ruas jalan.

Tanpa harus membesar-besarkan, kondisi itu harus diakui ada perbedaan mencolok dibandingkan dengan kota-kota besar di Indonesia. Kesan pertama yang muncul adalah pemandangan yang asri karena banyak tumbuhan menghijau serta ruang terbuka memberikan kesan kenyamanan. Meskipun pohon itu instan--karena tumbuh langsung besar--terlihat bahwa penataan kawasannya benar-benar diperhatikan. Setiap kantor, gedung, ruko, atau perumahan bisa dipastikan menyisakan ruang untuk taman.

Sebut saja di ujung Orchard Road, sebuah ruas jalan yang lebih dikenal sebagai ajang belanja dunia. Mulai dari fesyen hingga elektronik tersedia di berbagai pusat perbelanjaan yang berdiri di sisi kanan dan kiri Orchard Road. Pendek kata, Anda akan disodori dengan berbagai pilihan, ada batik Indonesia, wewangian Turki, sandal antik bermotif China, sampai rangkaian bunga-bunga. Baju sari yang menjadi pakaian khas orang India juga gampang ditemui.

Dari sebuah pusat perbelanjaan ''Lucky Plaza'' bisa menjadi pertanda bahwa warga setempat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kebersihan. Mereka tidak bisa sembarangan membuang sampah. Para perokok harus pandai-pandai untuk mengatur waktu dan tempat.

Sebab, sekali salah buang, aturan setempat akan memvonis dengan denda 500 dolar Singapura. Denda itu untuk kesalahan yang dilakukan kali pertama.

Untuk kali kedua, dendanya mencapai 1.000 dolar Singapura. Bahkan, di sebuah koran lokal pernah terpampang seseorang dengan mengenakan penutup kepala semacam caping dan berkaca mata. Dia mengenakan baju rompi sambil memegang sapu.

"Ya, dia adalah seseorang yang telah melakukan kesalahan membuang sampah sembarangan untuk kali ketiga. Hukumannya adalah membersihkan halaman yang luasnya barangkali sama dengan alun-alun," kata Basir, seorang gaet yang menuntun rombongan dari Semarang Fam Trip A Uniquely Experiences in Singapore pada 13-17 Mei lalu.

Tidak ada juga orang yang meludah sembarangan, membuang puntung rokok, bungkus belanjaan, atau sekadar plastik pembungkus makanan. Para pejalan kaki begitu mendapat tempat karena trotoar di sana memang benar-benar berfungsi sebagai tempat pejalan kaki. Dan bukan milik pedagang kaki lima seperti di beberapa sudut kota-kota di Jawa Tengah.

Tak mengherankan jika banyak orang tua yang dengan leluasa menarik kereta bayi saat berjalan di Orchard Road tanpa perasaan khawatir. Air muncrat di depan sebuah pusat perbelanjaan menambah kesan Singapura sebagai nice state. Kolam di bawah air muncrat mengalirkan air bersih dan bening.

Tak mengejutkan pula jika di lokasi tersebut banyak warga (asing) yang memanfaatkannya sebagai objek berfoto. Kawasan Arab Street, Chinatown dan Little India, juga menggambarkan kebersihan.(Agus Toto W-33t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA