logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Juni 2004 NASIONAL
Line

Memburu Dana Pemakmuran

BEBERAPA waktu lalu, sesorang bernama Geroyo Sunuso, yang mengaku anak kandung Presiden Soekarno, mengumumkan penemuan harta karun dana revolusi berupa puluhan emas lantakan, dan sertifikat deposito, yang nilainya disebut miliaran dolar AS. Meskipun temuannya itu sempat diperlihatkan, namun kabar tersebut berlalu begitu saja, dan Pemerintah juga tidak menanggapinya.

Kini, ketika pemilihan presiden tinggal beberapa hari lagi, peristiwa yang mirip kembali terjadi. Yang satu itu, mungkin benar-benar telah memberikan harapan kepada ratusan, bahkan ribuan orang. Akibatnya, mereka rela menempuh perjalanan jauh. Mereka, yang kebanyakan belum pernah ke Jakarta, rela ''menelantarkan'' diri menanti kedatangan seseorang yang akan membagi-bagikan dana.

Seonggok harapan untuk segera mendapatkan Rp 10 juta itulah, yang membuat Rojihin (56), satu di antara mereka, belum lama ini rela berjemur di depan pagar gedung MPR/ DPR Senayan, Jakarta. Pedagang dari Desa Kabukan, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal, itu bersama ratusan orang dari berbagai kota berencana untuk terus bertahan, dengan tidur di taman, hingga uang yang dijanjikan diterima.

''Saya datang Senin malam bersama 50 orang dari Tegal. Banyak yang lebih dahulu datang. Ada yang dari Brebes, Karawang, Indramayu, Subang, dan bahkan dari Palangkaraya (Kalimantan Tengah),'' ucap Rojihin yang mengaku tidak berangkat secara bersama dengan temannya. Secara kebetulan, mereka bertemu di halaman pintu masuk utara gedung wakil rakyat itu.

Ihwal semangat berangkat dan berkumpul di pinggir jalan raya yang terik itu, berawal dari gethok tular (pemberitahuan secara lisan) antarorang. Awalnya, ada orang yang mengaku bertemu dengan seseorang bernama Bertli Woso (58), yang disebutkan sebagai purnawirawan TNI. Lelaki asal Kawanua, Sulawesi, itu mengaku sebagai orang yang ditunjuk oleh penguasa zaman pemerintahan Soekarno untuk mengurus dana revolusi yang tersimpan di berbagai bank di luar negeri.

Memakmurkan

''Pak Bertli tidak bisa mencairkan tanpa adanya mandat dari rakyat. Karena itu, ditawarkan agar ada revolusi pemakmuran rakyat. Revolusi itu, berbeda dengan reformasi yang dilakukan mahasiswa atau para politikus. Revolusi itu langsung memakmurkan rakyat dengan dana yang melimpah,'' kata Sapar, warga Pesarean, Kecamatan Adiwerno, Tegal.

Beberapa orang yang dihubungi mengaku tak pernah kenal dengan Bertli. Mereka mengetahui dari pamflet yang dibagikan. Pada intinya, surat terbuka itu mengajak kepada siapa saja untuk bergabung dan melakukan semacam revolusi. Mereka juga diminta mengakui dan menobatkan Bertli sebagai pemimpin revolusi pemakmuran rakyat. Konon, legitimasi dari rakyat itu yang diperlukan oleh Bertli untuk mencairkan dana miliaran dolar AS, yang kini tertanam di berbagai bank di luar negeri.

Jika Bertli belum memiliki pengakuan dari rakyat, maka pihak luar negeri, terutama bank yang dititipi deposito itu, tidak akan mau mencairkan.

''Saya percaya itu. Karena Pak Bertli telah membentuk kantor pusat dan daerah. Kantor itulah, yang akan mengurus. Rencananya hari ini atau besok akan ada utusan ke sini, untuk segera membagikan uang itu. Jadi kami akan terus bertahan di sini,'' kata Mulyadi, yang rela ''cuti'' dari kegiatannya sebagai tukang pangkas rambut di Kecamatan Pesarean, Tegal.

Soal pemilihan tempat, kenapa harus di depan gedung MPR/DPR, mereka tidak tahu alasannya. Mereka hanya diinstruksikan oleh Bertli untuk menunggu di pintu gerbang gedung wakil rakyat itu. Mereka juga tidak harus masuk. Apalagi pintunya digembok, dan petugas melarang memasuki halaman gedung parlemen. ''Saya belum tahu akan mandi di mana nanti,'' kata seorang di antara mereka.

Keberadaan mereka yang bergerombol, di antaranya tiduran dengan tenda ala kadarnya, cukup menarik perhatian pengendara mobil yang lewat. Apalagi, sejumlah pedagang kaki lima langsung menggelar dagangannya di tempat tersebut.

Ketika ditanyakan soal pamflet yang disebut-sebut sebagai ajakan sehingga mereka berkumpul, di antara "para pengikut" itu tidak ada yang bisa menunjukkannya. Kabarnya surat terbuka itu hanya dipegang beberapa orang yang kemudian diperlihatkan; setelah itu di bawa lagi ke orang lain. Toh kendati demikian mereka percaya, sehingga dengan suka rela datang dan menunggu, entah sampai kapan.

Ketika diingatkan kecil kemungkinannya Bertli memenuhi janjinya, yaitu membagi uang, mereka justru sedikit emosional. Bahkan di antara mereka minta dukungan, agar kegiatan dan janji Bertli itu disebarluaskan. Sebab, publikasi yang mendukung amat diharapkan. Menurut mereka, sampai saat ini belum ada wartawan yang mempercayai omongan mereka.

Para penungggu dana pemakmuran itu, kendati harus berteduh di taman atau berdesakan di halte bus depan gedung MPR/DPR, raut wajahnya tetap memancarkan optimisme yang besar. Beberapa orang nampak gagah hilir mudik dengan seragam kaos lengan panjang warna hitam. Kebanyakan dari mereka berlatar belakang petani, pedagang, dan perajin logam. Belum diketahui, apakah ada PNS atau TNI yang ikut menanti dana pemakmuran itu.

Melihat gelagat yang tidak baik itu, akhirnya polisi membubarkan mereka. Semula orang-orang itu enggan pergi, sehingga dengan terpaksa polisi membubarkan mereka. Orang-orang itu, oleh polisi kemudian dipulangkan ke daerah masing-masing dengan angkutan gratis. Hingga kini, polisi masih memburu orang yang disebut-sebut bernama Bertli.

Alvin Lie, anggota DPR mengatakan, seseorang yang menjanjikan dan mengumpulkan orang-orang itu jelas mempunyai motif penipuan. Pola-pola penggiringan kepada soal dana revolusi yang belum jelas juntrungnya, dan mengaduk-aduk emosi orang, selalu saja terjadi. ''Tujuannya menciptakan instabilitas dan kekacuan.''

Yang menarik, kejadian itu dilakukan justru di saat berlangsungnya kampanye capres/cawapres. Itu jelas pekerjaan provokator dan ingin mengail di air keruh. Semestinya, aparat kepolisian segera bertindak dan menangkap otak di belakang penipuan masal itu. (Wahyu Atmaji-87a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA