| Senin, 07 Juni 2004 | NASIONAL |
Cap Jempol Darah MarakSURABAYA -DPC PDI-P Surabaya mengimbau para pendukung Megawati untuk menghentikan aksi cap jempol darah guna melawan fatwa yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin. "PDI-P hanya bisa mengimbau aksi ini dihentikan. Tapi itu kan semua tergantung pada mereka, kawan-kawan di sini," kata Sekretaris PDI-P Surabya Nanang Budi saat mengunjungi Sekretariat Pro-Mega 96, Jl Darmo Kali No 5 Surabaya, Minggu (6/6). DPC mengeluarkan imbauan dengan pertimbangan fatwa haram telah banyak dikonter oleh ulama NU, termasuk Gus Dur. Lebih baik, kata Nanang, pendukung Mega melakukan aksi lain yang lebih simpatik. Aksi cap jempol darah untuk mendukung Mega digelar mulai Sabtu (5/6). Aksi dilakukan karena pendukung Mega merasa jagoannya telah dizalimi dengan keluarnya fatwa mengharamkan pemimpin perempuan. Meski banyak reaksi keras yang meminta aksi cap jempol darah dihentikan, aksi Pro-Mega (Promeg) 96 bersikukuh menggelar aksi sesuai dengan jadwal hingga 14 Juni 2004. Hingga kini telah 200 orang membubuhkan cap jempol. "Penggalangan cap hempol darah ini tak ada yang bisa menghentikan, karena ini aksi spontanitas pendukung Mbak Mega yang ingin menunjukkan kesetiaan," kata Sekretaris Tim Aksi Promeg 96, Wahyu Budiarto. Pro-Mega tak peduli aksi tersebut dinilai kontraproduktif. Wahyu menegaskan, cap jempol darah itu tak ada kaitannya dengan struktural PDI-P. "Silakan orang menilai kegiatan ini dianggap kontraproduktif. Tapi kita akan tetap jalan terus. Ini bukti loyalitas dari pendukung Mbak Mega," katanya. Hingga kemarin pendukung Mega terus berduyun-duyun mendatangi sekretariat tersebut untuk melakukan cap jempol darah. Massa umumnya mengenakan kaos bergambar Mega-Hasyim. Sementara sebagian lainnya berseragam satgas PDI-P. Hingga pukul 13.00 WIB, telah tercatat 200 orang melakukan cap jempol darah. Mereka dengan tenang bergantian menyodorkan jempol untuk ditusuk dengan jarum. Selanjutnya jempol tersebut lantas distempelkan ke sebuah kertas. PWNU Jawa Timur meminta aksi penggalangan cap jempol darah dihentikan. ''Kita hanya bisa mengimbau aksi semacam itu tidak usah diteruskan. Mari kita jaga kondisi Jawa Timur tetap kondusif karena cap jempol darah semacam itu sudah berbau kekerasan dan emosional,'' kata Ketua PWNU Jatim Ali Maschan Moesa. Menurutnya, sikap sejumlah kiai tersebut tidak perlu disikapi secara keras oleh pendukung Megawati. ''Kalapun ada perbedaan pendapat, itu bisa dilakukan dengan cara yang simpatik. Sikap para kiai itu kan diambil secara pribadi.'' Yang jelas, lanjutnya, secara institusi NU tetap berpegang pada hasil munas alim ulama di Lombok pada tahun 1997. Jadi, tidak perlu ada reaksi berlebihan yang bisa menimbulkan kekerasan.(dtc-33t) |