logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Juni 2004 EKONOMI
Line

Produk Pertanian Belum Siap Hadapi Pasar Bebas

SEMARANG-Sektor pertanian dan industri dalam negeri secara umum belum siap menghadapi perdagangan internasional. Hal itu terjadi karena biaya produksi yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk pertanian dan industri di Indonesia masih tinggi.

"Harus diakui, produk pertanian dalam negeri seperti beras belum mampu melawan beras impor, karena biaya produksi yang dikeluarkan petani antara lain pestisida dan pupuk masih tergolong mahal," tutur Prof Dr Dawam Rahardjo, di sela-sela Lokakarya dan Raker Membangun Ekonomi Berbasis Potensi Lokal PW Lembaga Perekonomian NU (LPNU) Jateng, di Puri Garden Hotel, Jalan Arteri Utara, Semarang, Sabtu (5/6) lalu.

Akibatnya, kata dia, harga jual beras petani sangat tertekan, sehingga penghasilan mereka sangat kecil. Kemudian, karena petani beras masih merupakan bagian yang sangat besar dari penduduk Indonesia, maka daya beli masyarakat pun akan merosot tajam.

"Daya beli masyarakat yang masih rendah itu, menyebabkan pasar domestik tidak akan terbentuk," jelas Dawam, yang juga Presiden The Internasional Institute of Islamic Thought itu.

Menurutnya, rendahnya daya beli masyarakat akan berakibat pada ketidakmampuan petani untuk membeli produk-produk industri, khususnya industri dalam negeri yang juga harus bersaing dengan produk impor.

"Maka akan terjadi stagnasi di bidang industri; dan hal yang sama juga terjadi pada industri gula petani kita," tandasnya. Sedangkan di sektor industri, papar dia, secara teoritis industri dalam negeri akan bisa meningkatkan efisiennya, karena menggunakan bahan-bahan dan peralatan impor yang murah.

Namun industri barang-barang modal dalam negeri akan terpukul, karena industri tersebut juga menggunakan alat-alat impor yang mahal.

"Karena itu, tidak akan terjadi proses transformasi struktural menuju industri barang-barang modal."

Dawam mengungkapkan, pasar bebas memang akan menghadapkan Indonesia pada perekonomian yang serba dilematis.

Sumber Daya Lokal

Di satu sisi akan mendorong industri menjadi efisien dan kompetitif; di sisi lain karena membanjirnya barang impor akan menyebabkan turunnya pendapatan petani, yang jumlahnya di Indonesia masih sangat besar.

"Selain itu, industri barang modal domestik juga akan terhambat untuk berkembang," jelas dia.

Usaha-usaha baru yang nampaknya masih bisa berkembang, lanjut dia, adalah usaha yang berbasis sumber daya lokal, seperti industri yang menggunakan sumber bahan baku alam dan ketrampilan tenaga kerja lokal. Selain biaya produksi rendah, produksinya juga masih berorientasi pada pasar luar negeri.

Dawam mengharapkan agar sektor pertanian dan industri dapat meningkatkan segi efisiensi. Dia mencontohkan, pupuk untuk pertanian yang harganya mahal, dapat diantisipasi dengan menciptakan pupuk murah.

Selain itu, teknologi pertanian dan ketrampilan petani harus pula ditingkatkan.

"Nah, untuk menciptakan kondisi seperti itu, diperlukan peran aktif Pemerintah," kata dia. Selain harganya relatif lebih murah, industri yang berbasis bahan baku lokal tersebut nantinya juga tidak akan bergantung pada produk impor lagi. (H2-82a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA