| Senin, 07 Juni 2004 | EKONOMI |
Pengurangan Kemiskinan Tak Bisa Dilakukan CepatJAKARTA- Upaya untuk lebih meningkatkan kinerja dalam pengurangan kemiskinan memang tidak bisa dilakukan dengan cepat. Karenanya, meski sekarang ini langkah-langkah perbaikan sudah tampak dalam penanganan kemiskinan, pemerintah harus lebih berhati-hati, terutama untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan. Pernyataan itu dikemukakan Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Tjakti menanggapi permintaan negara-negara pemberi bantuan ke Indonesia yang tergabung dalam forum CGI yang disampaikan di Jakarta, baru-baru ini. Menurut Dorodjatun, dalam rangka penanggulangan kemiskinan saat ini pemerintah telah menganggarkan dana dari APBN sebesar Rp 18,7 triliun. "Semua dana tersebut akan digunakan dalam berbagai program pengentasan kemiskinan. Selain itu dari angka itu hanya sebesar 18 persen yang menggunakan pembiayaan luar negeri, sebab selebihnya berasal dari penerimaan negara," paparnya. Dalam pertemuan tengah tahunan tersebut, Direktur Bank Dunia untuk Asia Pasific, Andrew Steer mengungkapkan, bahwa sampai akhir Mei 2004 lalu, pemerintah telah menyelesaikan sekitar 75% dari 136 pokok program pemerintah yang direncanakan dalam white paper. Kendati demikian, negara donor yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI) tetap meminta pemerintah Indonesia lebih serius dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan investasi. "Pemerintah Indonesia diakui memang telah berhasil mengurangi angka kemiskinan, namun ke depan pemerintah Indonesia diminta untuk lebih serius dalam program pengentasan kemiskinan tersebut," tutur Andrew ketika itu. Terungkap, bahwa berdasarkan pemantauan Bank Dunia, sekarang ini komposisi penduduk miskin di Indonesia telah banyak mengalami pengurangan. Apabila, pada akhir tahun 2002 jumlah penduduk miskin masih mencapai 16% dari total penduduk, maka pada akhir 2003 penduduk miskin telah berkurang sehingga tinggal 15,1% dari jumlah penduduk. Bank Dunia mengakui tingkat kemiskinan di Indonesia berkurang, namun secara persentase, lebih dari 50% penduduk Indonesia masih hidup di bawah 2 dolar AS per hari. Pada pertemuan itu terungkap pula, bahwa sebagian besar anggota CGI menanyakan kasus yang berkaitan dengan kelangsungan investasi di Indonesia. Termasuk penyelesaian sejumlah kasus seperti dipailitkannya Perusahaan Asuransi Prudential, kasus pemailitan perusahaan di Inggris di Medan. (bn-82) |