logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Juni 2004 EKONOMI
Line

Bisnis Valas, Kian Untung saat Rupiah Merosot

JUAL beli uang kini menjadi bisnis besar. Jika beberapa tahun lalu orang membeli valuta asing (valas) di bank devisa karena akan bepergian ke luar negeri atau sekadar untuk simpanan, maka sekarang banyak yang menjadikan sebagai lahan mencari untung.

Ketika nilai rupiah anjlok dan nilai mata uang asing yang dipegang itu melambung mereka akan menjual untuk mendapatkan selisih kurs.

Pola berpikir demikian dipraktikkan oleh sebagian orang yang memiliki uang dan tidak puas pada bisnis konvensional yang digeluti. Para pemain itu selalu membaca peluang.

Isu yang berdampak pada sentimen negatif pasar merupakan peluang bagus. Mereka bisa kian menangguk untung justru pada saat pemerintah kalang-kabut karena rupiah terus merosot.

Memang jual-beli valas terutama dolar AS di bank atau money changer (tempat penukaran uang) selalu dibatasi jumlahnya dan ditanya identitasnya.

Namun siapa yang bisa mengontrol seseorang keluar-masuk ratusan money changer atau bank yang tersebar di Jakarta atau kota-kota lainnya?

Hingga saat ini belum ada perangkat hukum yang diterapkan sehingga orang bisa saja memborong valas sebanyak yang diinginkan.

Di kawasan Kwitang, Pasar Senen, Jakarta, para pengasong valas berebut pelanggan di jalan. Mereka memiliki tarif sendiri yang seringkali lebih tinggi dari money changer resmi.

Biasanya dolar AS dilihat tahun cetaknya, kemudian kertas uang mulus atau tidak. Kalau cacat sedikit, lecek, atau tahun cetaknya dianggap tua maka mereka seenaknya menghargai.

Masa keemasan pemain valas sebenarnya telah berlalu sejak tahun 1999, yakni ketika Bank Indonesia (BI) memperkecil selisih kurs beli dan jual.

Jika sebelumnya selisihnya rata-rata Rp 1.000 di pasar uang, maka kini nyaris tak berarti karena hanya berkisar Rp 100. Jadi kalau pemain amatiran bermodal cupet tidak akan bisa meraih untung besar. Apalagi pergerakan kurs tidak signifikan setiap hari.

Perubahannya hanya beberapa poin. Misalnya pertengahan Mei, rupiah ada di kisaran Rp 8.500-an/dolar AS. Pada akhir Mei melemah menjadi Rp 9.000-an.

Dalam praktik apabila diuangkan di money changer nilai yang diperoleh tidak sebesar yang ada di kurs pasar spot antarbank.

Di masa lalu naik dan turun kurs rupiah bisa diatur. Ada pemodal yang mengandalkan beberapa miliar rupiah namun bisa menangguk untung beberapa kali lipat.

Caranya, spekulan itu memborong rupiah sehingga nilai dolar AS turun. Pada saat turun dolar AS diborong. Setelah itu mereka kembali memborong dolar AS di beberapa tempat sehingga rupiah makin terpuruk. Saat melambung dolar AS dilepas ke pasar sehingga memeroleh keuntungan besar.

Kini keadaannya berbeda. Di money changer Piti Pili, Pancoran, Jakarta, misalnya, Jumat siang pekan lalu kurs beli dolar AS hanya Rp 9.400. Sebaliknya, kalau menjual mereka menawarkan Rp 9.490/dolar AS.

Namun kalau kita ingin menjual dolar AS dalam jumlah banyak maka mereka menawarkan negosiasi dengan kurs yang disebut menarik.Seorang wanita pegawai Piti Pili mengatakan pada akhir pekan biasanya banyak orang membeli dolar AS.

Tetapi akhir-akhir ini banyak juga yang menjual. "Kalau dirata-rata maka lebih banyak yang membeli daripada yang menjual. Kecenderungan itu terjadi sejak sebulan terakhir saat dolar AS terus menguat. Pada keadaan itu orang menahan atau malah membeli dolar AS," tutur dia.

Terus Melemah

Memang, rupiah masih berada di posisi Rp 8.300/dolar AS awal Mei lalu.

Namun pekan-pekan ini dolar AS cenderung terus menguat sampai kisaran Rp 9.400-an/dolar AS. Bahkan banyak yang berpendapat rupiah masih berpotensi terus melemah sampai ada kepastian siapa presiden terpilih nanti.

Seorang dealer bahkan memperkirakan rupiah akan meluncur hingga di kisaran Rp 9.700/dolar AS.

Alasannya, penyebab penurunan itu tidak jelas sehingga untuk menahan juga tidak mudah. Tetapi yang jelas faktor internal dan eksternal saling memengaruhi.

"Di dalam negeri ada ketidakpastian politik dan berimbas pada pelaku bisnis, sedangkan kondisi perekonomian regional tidak lebih baik," ujarnya.

Selain dua faktor itu, tekanan atas rupiah dipicu oleh rencana Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga federal fund dari posisi sekarang sebesar 1%. (Wahyu Atmaji-53,82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA