| Senin, 07 Juni 2004 | EKONOMI |
Analisis Pasar ModalPola Investor dan Penanganan RisikoINDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini (4/6/04) pada posisi 697,9. Sebagian di antara masyarakat bursa mengatakan pada posisi tersebut berarti telah turun menembus level psikologis posisi 700. Kegamangan tampak pada perilaku para investor mengingat bahwa lampu kuning masih tampak menyala di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Seiring dengan melemahnya kurs rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp 9.500 per dolar AS maka IHSG telah menurun hingga pada akhir pekan lalu pada posisi di bawah 700. Lampu kuning yang masih terus menyala menjadi wajar bila membuat para investor khawatir mengingat bahwa kurs rupiah terbukti teruji sebagai suatu sinyal pada perkembangan bursa. Signaling theory dapat digunakan sebagai alat analisis untuk melihat perkembangan tersebut. Melalui teori sinyal akan dapat dilihat sinyal apa yang tampak mengiringi perkembangan IHSG pada kurun waktu tertentu. Ibaratnya, sebagaimana hasil penelitian (Hoffman,1994) menunjukkan bahwa harga sebagai sinyal kualitas jasa, dalam arti bahwa pada harga yang baik di dalamnya terkandung kualitas yang baik. Hasil penelitian yang lain (Balvers,1998) menyampaikan bahwa pemilihan auditor yang baik dan adanya return pada hari pertama listing, merupakan sinyal reputasi penjamin emisi. Terpilihnya auditor yang baik berarti menggambarkan penjamin emisinya bereputasi baik. Demikian pula teori sinyaling menyatakan bahwa informasi tentang pembagian dividen merupakan suatu sinyal bahwa perusahaan mempunyai kinerja yang baik, khususnya dalam memeroleh keuntungan. Adanya informasi pembagian dividen berarti menggambarkan bahwa perusahaan mempunyai arus kas yang baik. Demikian pula informasi yang terkait dengan rencana pemecahan atau stock split suatu jenis saham. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menggambarkan bahwa informasi tentang pembagian dividen umumnya mempunyai pengaruh signifikan terhadap kenaikan harga saham perusahaan. Seperti yang dinyatakan oleh Michaely at all (1995) dalam Journal of Finance menyatakan bahwa pasar bereaksi positif atas pengumuman dividen oleh suatu perusahaan. Pada umumnya harga suatu saham akan turun pada saat mulai hari sesudah dividen (ex dividen). Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kiat menghadapi adanya suatu risiko yang menyertai suatu investasi khususnya pada saham ? Para investor yang sarat dengan pengalaman secara langsung maupun tidak langsung sebenarnya sudah berpedoman pada teori sinyal dalam menghadapi keadaan. Dia akan lebih dapat membaca keadaan bahwa lampu kuning kurs rupiah hanya bersifat sementara. Dia lebih mempunyai keyakinan bahwa sinyal kuning yang sekarang masih menyala akan berubah menjadi sinyal hijau dan tidak menjadi merah. Menurut C Arthur William JR (1995) ada empat alternatif yang dapat dilakukan dalam memanajemeni risiko, yaitu (1) dengan cara menghindari risiko (risk avoidance), (2) mencegah dan mengurangi kerugian (loss prevention & loss reduction), (3) mengurangi ketidakpastian dengan mengembangkan manajemen informasi (information management) yang baik dan (4) alternatif menransfer risiko ke pihak lain, misalnya dengan berinvestasi pada reksadana. Bagaimana menyikapi secara optimal terhadap risiko akan sangat tergantung dari sikap dan perilaku investor, yakni apakah berpola tak takut risiko (risk seeker) atau cari aman dari risiko (risk averter). Pertama, bagi investor yang tergolong berpola cari aman dari risiko, maka mereka akan mengurangi trading di bursa. Para investor optimistis biasa akan mengambil keputusan demikian. Pengalaman masa lalu menghadapi keadaan membuat mereka akan bersikap hati-hati, wait and see. Bertransaksi sekedarnya sambil mengantisipasi menghadapi membaiknya kurs rupiah terhadap dolar AS dan kondusifnya situasi penyelenggaraan pemilu. Kedua, bagi investor yang tergolong tak takut risiko maka tidak akan berperilaku sebagaimana investor risk averter. Dia akan cenderung bertaktik selective buying, yakni memilih jenis saham tertentu yang mempunyai informasi baik dan dengan fundamental baik yang baik. Pernyataan dari otoritas Bank Indonesia yang tidak akan menaikkan tingkat suku bunga memberi penguatan semangat bagi para pelaku pasar. Tingkat suku bunga sertifikat Bank Indonesia masih bertahan dalam kisaran 7,33 %. Demikian pula pernyataan tentang upaya penguatan rupiah dengan beberapa skema yang sudah dirancang oleh Bank Indonesia juga cenderung akan melegakan pelaku pasar. Pada suatu situasi tertentu penguatan-penguatan yang dilakukan oleh pemerintah melalui otoritas moneter masih akan efektif. ( Dr Sugeng Wahyudi, dosen strategi dan keuangan pada Program MM Undip-82) |