| Senin, 07 Juni 2004 | BANYUMAS |
Tingwe Pilihan Perokok Berkantung CekakTINGWE bukan merek rokok yang beredar di masyarakat. Nama itu jelas tak terdaftar pada Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Tingwe sesungguhnya adalah singkatan dari nglinthing dhewe (melinting sendiri-Red). Itulah pembuatan rokok secara manual. Rokok tingwe akhir-akhir ini mulai dilirik para perokok berat, baik yang berkantung cekak maupun sekadar iseng. Maklum, bagi pecandu rokok yang penting mulut bisa mengepulkan asap. Rasa dan gengsi boleh jadi menjadi urusan nomor kesekian. Membuat rokok tingwe memiliki seni tersendiri. Kegiatan itu bisa pula sebagai pengisi waktu luang, terutama bagi perokok lanjut usia. Kenapa rokok ini sekarang diminati? Sebab, bisa dibuat mirip rokok produksi pabrik dan jelas lebih murah. Sepintas agak sulit membedakan itu rokok asli atau tiruan. Merek dalam bungkus pun hampir mirip merek rokok yang sudah dikenal masyarakat. Bedanya nama lengkapnya disamarkan atau diubah. Itu dilakukan agar tidak dicap menjiplak atau melanggar hak paten. Misalnya, rokok berfilter bertuliskan Surya Kampoes, Super Enak, dan Jie Sam A (nonfilter). Selain tulisan, gambar dalam batang rokok juga serupa. Rasa tembakau tak kalah jauh dari rokok beneran. Sebab, tembakau dan bahan lain diramu seperti rokok buatan pabrik. Bahan itu bisa dibeli di pasaran secara eceran. Bahan itu mudah diperoleh di warung rokok atau grosir di eks Karisidenan Banyumas. Warno, pedagang di Pasar Sangkalputung Cilacap, atau Narso yang berjualan di Purwokerto menuturkan harga 1 ons tembakau antara Rp 3.000 dan Rp 5.000. Tembakau kelas Djarum Super atau Gudang Garam Rp 4.500/ons dan Dji Sam Soe Rp 5.000. Adapun kertas pembungkus satu bungkus isi 50-60 lembar Rp 1.000. Buatan Perokok Alat pelinting juga ada. Alat itu dari kayu atau pelat aluminium. Pelat aluminium banyak dijual di toko-toko dari Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Adapun dari kayu umumnya dibuat si perokok. Triyogo dan Mbah Harjo, warga Cilacap Tengah, menuturkan 1 ons tembakau bisa dibuat menjadi 50-60 batang rokok. Itu tergantung pada besar atau kecil batang rokok yang diinginkan. Tembakau yang dicampur cengkih dan bahan lain dimasukkan ke cetakan, lalu digilas atau dilinting. Sebelum selesai, kertas diletakkan di antara batangan tembakau dan setelah rapat dilem. Setelah jadi, batangan itu tinggal dirapikan bagian ujung dan pangkalnya dengan gunting. ''Rasanya tidak kalah jauh dari rokok beneran. Jika kita masukkan bungkus rokok kosong atau kaleng dan kemudian kita rokok, orang yang melihat sepintas tak menyangka itu rokok tingwe,'' kata Triyogo. Dia mengakui bersama sang adik, Heru, bisa membuat alat pelinting rokok tingwe. Dia menuturkan Heru sekarang sering mendapat pesanan alat itu dari kalangan orang tua dan anak muda. Alat dari kayu itu mereka Rp 5.000-Rp 7.500. ''Cuma mereka mencetak rokok di rumah. Kalau di luar mungkin malu,'' ujar pengajar sebuah sekolah dasar itu. Membuat rokok tingwe bukan hal baru. Sejak dulu, terutama di masyarakat desa yang belum mengenal rokok hasil pabrik, orang tua mempraktikkan cara itu. Cuma, dulu rasa tembakau dan kertas pembungkus tidak sama dengan rokok hasil pabrik. (Agus Wahyudi-86) |