logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 05 Juni 2004 OLAHRAGA
Line

Dinamit Meledak Lagi di Portugal?

DENMARK diperkirakan menjadi tim yang sangat ingin dihindari oleh kontestan lain dalam putaran final Piala Eropa 2004 di Portugal, mulai 12 Juni mendatang. Dengan bimbingan cerdas dan mengesankan pelatih Morten Olsen, mereka hanya kalah di dua pertandingan dalam empat tahun terakhir. Mereka juga membangun semangat tim dan kebersamaan yang kukuh.

Kekuatan inti timnas Denmark telah terbentuk sejak pergantian abad lalu. Thomas Sorensen (Aston Villa) di posisi penjaga gawang dibantu oleh bek tengah Rene Henriksen (Panathinaikos) dan Martin Laursen (Milan). Dennis Rommedahl (PSV Eindhoven), Jesper Gronkjaer (Chelsea), dan Martin Jorgensen (Udinese) menjadi sayap penyerang yang gesit.

Tambahan pula, striker Ebbe Sand (Schalke) dan John Dahl Tomasson (Milan) terkenal dengan ketajamannya.

Pasukan Denmark sangat nyaman dengan kedudukannya di persepakbolaan Eropa saat ini. Mereka memang tidak bertabur pemain bintang. Namun itu tak berarti tim yang pernah dijuluki dinamit tersebut mudah ditaklukkan. Dengan ketajaman, naluri dan kepiawaian mencetak gol, pasukan Olsen juga punya peluang untuk menjadi juara. Terlebih, jika momentum dan keberuntungan berpihak kepada mereka.

Tentu saja, orang kini tak mau membuat kekeliruan dengan memandang remeh Denmark yang pernah membawa pulang gelar juara Piala Eropa 1992. Kesuksesan mereka di Swedia kala itu bagaikan dongeng. Semula, tim dinamit tidak mampu lolos dari babak kualifikasi. Namun Dewi Fortuna datang secara tak terduga. Mereka diminta menggantikan Yugoslavia yang diisolasi akibat perang.

Kritik Pedas

Kali ini, hanya ada satu "kecelakaan serius" yang mereka alami dalam babak penyisihan Euro 2004. Tim asuhan Olsen tersebut dikalahkan Bosnia-Herzegovina (0-2) di kandang sendiri pada 2 April 2003. Hasil tersebut mengejutkan mereka.

Dengan demikian, Denmark paling tidak harus bermain imbang ketika bertemu lagi dengan Bosnia-Herzegovina di partai terakhir babak kualifikasi. Dan itulah yang terjadi. Mereka ditahan seri (1-1) pada 11 Oktober 2003.

Namun pertandingan yang punya arti signifikan bagi mereka adalah kemenangan luar biasa (5-2) atas Rumania pada 29 Maret 2003. Itu merupakan kesuksesan terbesar mereka selama babak kualifikasi. Tentu saja, kemenangan tersebut mengangkat kembali citra sebagai tim yang patut diperhitungkan. Terlebih, pada pertandingan sebelumnya dengan Luksemburg, mereka memetik kemenangan (2-0).

Kendati demikian, pelatih Olsen tidak segera sesumbar. Dia memang bukan orang yang suka pamer. "Kami akan menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Kami juga akan melihat apa yang dapat kami manfaatkan," kata pria yang pernah menjadi libero timnas Denmark pada 1980-an itu. "Saya kira, terlalu gegabah untuk membuat perkiraan saat ini. Kami bermain baik dalam babak kualifikasi dan kami juga menghadapi berbagai masalah. Namun, semua itu wajar-wajar saja."

Masalah yang dia maksud adalah kekalahan dari Bosnia tersebut dan hasil seri (2-2) dengan Rumania di kandang sendiri pada 10 September 2003. Dia menuai kritik pedas dari media Denmark mengenai dua pertandingan tersebut. Waktu itu, dia begitu marah sehingga pernah berpikir untuk mengundurkan diri. Salah satu kecaman itu adalah formasi Denmark sangat mudah diduga: 4-3-3.

Pemain belakang Rene Henriksen memahami kritik tersebut, tetapi dia membantahnya. "Mungkin orang telah terbiasa menghadapi strategi kami, tetapi ini merupakan sistem yang telah bekerja baik selama empat tahun di bawah bimbingan Olsen," kata Henriksen, yang juga bek Panathinaikos.

Talenta Segar

Dia menambahkan bahwa timnas Denmark tak mungkin lolos dari babak kualifikasi jika mereka tidak menerapkan banyak hal yang benar. Dia menyayangkan para kritikus tidak membuat penilaian secara keseluruhan, tetapi hanya sepotong-potong.

"Kami bukan Brasil. Namun faktanya, kami lolos dari babak penyisihan sejumlah turnamen bergengsi. Itu prestasi besar bagi sebuah negara kecil," tandasnya.

Dia mengakui bahwa Denmark berada selapis di bawah tim-tim favorit juara, seperti Prancis dan Italia. "Secara realistis, kita sulit mengalahkan tim-tim elite seperti Prancis. Kita bisa menang jika kita menunjukkan permainan terbaik dan mereka tidak cukup beruntung. Tetapi ingat, kita pernah mengatasi Prancis di Piala Dunia 2002.

" Kendati demikian, dia bertekad untuk tampil optimal di Portugal. "Sebab, saya telah berusia 34 tahun. Ini mungkin turnamen terakhir yang saya ikuti," katanya.

Timnas Denmark bakal menggunakan banyak pemain muda. Penjaga gawang Stephan Andersen dari klub AB Copenhagen dipandang punya potensi besar.

Pemain tengah Thomas Kahlenberg dan Martin Retov, keduanya dari Brondby, juga patut diperhitungkan sebagai pasukan Denmark dalam Euro 2004 ini. Striker Tommy Bechmann (Esbjerg) merupakan pemain muda lain yang punya prospek cerah.

Para pemain muda tersebut mungkin dibutuhkan Olsen untuk merancang format permainan yang tak terduga. Talenta-talenta segar dan penerapan strategi yang jitu niscaya menjadi modal terbesar mereka untuk berlaga di Portugal.

Bukan mustahil, mereka menjadi tim dinamit, yang pernah dan akan kembali mengejutkan daratan Eropa. (ws,ben-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA